Opinion

Lubang Raksasa Ditemukan di Siberia, Inikah Jawaban dari Misteri Segitiga Bermuda?

[Foto: siberiantimes.com]
Sejumlah lubang misterius mirip sinkhole (lubang runtuhan) berukuran raksasa ditemukan di Siberia. Salah satunya ditemukan di wilayah terpencil di Semenanjung Yamal, yang dalam bahasa penduduk asli Nenets berarti ‘akhir dunia’. Sinkhole Siberia ini memiliki luas sekitar 60 meter dan kedalaman 70 meter.

Sebenarnya, ukuran ini lebih kecil dari dugaan peneliti. Mereka menduga luas Sinkhole Siberia dapat mencapai angka 100 meter. Namun setelah diukur, kawah berukuran oval ini ternyata tak terlalu besar dan dalam.

Area ini mengandung minyak dan gas yang sangat banyak. Mantan presiden Rusia, Vladimir Putin, juga pernah berniat menjadikan lokasi tersebut sebagai cadangan energi Arktik Rusia.

Dengan adanya penemuan Sinkhole Siberia, maka banyak spekulasi tentang asal-usulnya. Peneliti senior dari Pusat Riset Ilmiah Arktik, Andrei Plekhanov, menduga bahwa Sinkhole Siberia terbentuk akibat semburan gas, bukan letusan. Jadi saat lubang ini terbentuk, tidak ada hawa panas yang dilepaskan.

Meski sudah memiliki beberapa hipotesis, para peneliti Rusia masih menyelidiki kawah ini melalui foto-foto satelit. Mereka ingin mengetahui secara pasti bagaimana Sinkhole Siberia ini terbentuk.

Baca Juga:  Apa yang Dibutuhkan Seorang Digital Advertiser Expert?

Sejumlah peneliti memang sangat tertarik untuk melongok masuk ke dalam Sinkhole Siberia karena dianggap sebagai jawaban di balik misteri Segitiga Bermuda. Seperti diketahui, Segitiga Bermuda adalah area laut imajiner yang menghubungkan 3 wilayah yaitu Bermuda, San Juan – Puerto Rico, dan Miami di Amerika Serikat.


Pada Juli 2014, penggembala rusa Siberia menemukan kawah raksasa yang menganga di Semenanjung Yamal. Tak hanya itu, 2 lubang aneh lain juga ditemukan, satu di Distrik Taz dan lainnya di Semenanjung Taymyr. Sementara, para ilmuwan berspekulasi soal penyebabnya, asal usul mereka masih jadi misteri.

Pada bulan yang sama, ilmuwan Rusia menuliskan studi mereka di jurnal Nature, yang menyebut ledakan gas yang terperangkap dalam permafrost atau tanah beku — yang dikenal sebagai metana hidrat (methane hydrates) — mungkin membentuk sinkhole raksasa itu. Mereka menyebut, udara dekat dasar kawah diketahui mengandung konsentrasi tinggi metana yang luar biasa.

Kini, para peneliti melompat lebih jauh dengan mengatakan bahwa metana hidrat bertanggung jawab atas kasus-kasus lenyapnya kapal dan pesawat serta manusia di Segitiga Bermuda — yang sampai kini belum terungkap. Demikian pernyataan dalam laman Siberian Times.

Baca Juga:  Peneliti Berhasil Ciptakan Bioprinter 3D yang Menghasilkan Kulit Manusia

Namun, sejumlah ilmuwan lain yang tidak terlibat dalam penyusunan laporan terbaru berpendapat, mekanisme sinkhole, bagaimanapun tidak menjelaskan peristiwa kehilangan kapal, pesawat, atau manusia di Segitiga Bermuda.

Meski keberadaan Segitiga Bermuda masih kontroversial, para ilmuwan berpegang pada gagasan bahwa terlepasnya gas metana bisa menenggelamkan kapal di sejumlah perairan.

“Jadi mungkin bahwa sinkhole yang sama, yang terbentuk di laut, juga memproduksi gas hidrat yang terdekomposisi,” kata Vladimir Romanovsky, ahli geofisika yang mempelajari permafrost dari University of Alaska Fairbanks, yang tak terlibat dalam penelitian, seperti dilansir dari Live Science.

Biasanya, metana relatif padat di dasar laut. Stabil pada tekanan lebih dari 35 bar dan pada suhu rendah. Namun sekali robek, ia akan pecah dan membentuk gelembung gas yang naik lalu meledak di permukaan air.

“Diketahui, gas hidrat terdapat di sepanjang tepi benua di Atlantik Utara AS, dengan  area luas di Blake Ridge sebelah utara Segitiga Bermuda,” kata Benjamin Phrampus, ilmuwan bumi dari Southern Methodist University, Dallas.

Baca Juga:  Apakah Startup Hanya untuk "Anak IT"?

Lantas, apakah benar Sinkhole Siberia menjadi jawaban atas misteri Segitiga Bermuda yang selama ini belum terungkap? Kita tunggu saja hasil penelitian selanjutnya.