News

Mantan CEO Browser Opera Membuat Browser Baru – Vivaldi

Setelah dikembangkan sejak 2013, akhirnya pada 6 April 2016 CEO Vivaldi, Jon von Tetzchner meluncurkan versi 1.0 browser Vivaldi. Berbeda dengan trend browser lain yang menjual konsep minimalis, kecepatan proses, dan kompatibilitas dengan standar terbaru, Vivaldi menjual banyaknya fitur yang tersedia di browser ini. Target penggunanya, para pengguna mahir (power user).

Di dalam video yang ditampilkan di laman situs Vivaldi.com, Jon mengatakan bahwa memang banyak pengguna browser yang suka dengan browser yang minimalis, fokus pada fungsi utamanya saja, menjelajah. Tapi, menurut Jon sebenarnya masih ada cukup banyak pengguna di luar sana yang membutuhkan banyak fitur dan kustomisasi dari sebuah browser.

Vivaldi 1.0 ini tersedia di 3 sistem operasi yang paling populer saat ini, Windows, Mac dan Linux. Pada dasarnya browser ini berbasis Chromium, browser open source yang juga menjadi basis dari browser Chrome dari Google. Karena itu tidak heran jika Vivaldi juga mendukung Chrome extension.

Fitur lain yang ditawarkan oleh Vivaldi adalah Tab Stacks (mengelompokkan beberapa “tab browser” menjadi satu), Rewind and Fast Forward, serta dukungan untuk membuat shortcut dari gerakan mouse maupun kombinasi tombol keyboard, sesuai keinginan.

Seperti dikutip dari The Verge, model bisnis dari Vivaldi adalah dengan menyediakan bookmark berbayar. Jadi semisal kita baru saja memasang Vivaldi di komputer, maka secara default sudah akan ada bookmark ke beberapa situs. Nah situs-situs ini harus membayar ke Vivaldi untuk bisa muncul di bookmark tersebut.

[Gambar: Vivaldi.com]
Di tahun 1994, Jon bersama seorang temannya memulai membangun Opera browser. Semakin tahun, browser ini tumbuh semakin besar. Ini terjadi karena Opera tumbuh untuk dan bersama komunitas dan para kontributornya. Tetapi belakangan, menurut Jon Opera mulai bergeser arahnya. Ini juga yang menjadi alasan mengapa Jon memutuskan keluar dari Opera dan membangun Vivaldi.

Saya percaya memang banyak pengguna browser yang butuh banyak fitur di dalam browsernya. Tetapi dengan adanya “extenstion” di Chrome dan “Add On” di Mozilla Firefox, saya rasa fitur-fitur yang tidak tersedia secara default masih bisa ditambahkan dengan mudah. Justru jika ada fitur default dari browser yang ingin dihilangkan, itu malah jadi persoalan. Bukannya itu dulu yang membuat orang-orang meninggalkan Internet Explorer?

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID