News

Masih Mau Curang Main Pokemon Go? Siap-siap Dapat ‘Zonk’!

Mungkin benar jika para pengguna atau pemain Pokemon Go di Indonesia sudah berkurang drastis sekali saat ini. Pengalaman bermain yang agak monoton dan telah diboikotnya user yang bermain curang dalam jumlah yang cukup besar ditengarai jadi penyebab utama mengapa game ini bertahan tidak terlalu lama di sini. Selain itu, di samping file APK-nya sudah bocor sebelum hari resminya, Pokemon Go dinilai terlambat untuk memperkaya database-nya sekaligus menyediakan varian Pokemon baru di “alam bebas”.

Tapi di beberapa negara, nyatanya game ini masih diminati. Jika Anda adalah orang yang masih menikmati permainan yang satu ini, mungkin menyadari kalau sebetulnya Niantic sudah memberikan yang terbaik, yakni dengan memasok Pokemon generasi kedua dan konon sedang dalam proses mempersiapkan generasi ketiga dan keempat. Sayang, tindakan segelintir trainer yang masih setia termasuk keterlaluan karena mereka memainkannya dengan menggunakan cara curang. Salah satu cara yang paling lumrah dipergunakan para pemain Pokemon Go yang tersisa adalah menggunakan aplikasi tracker untuk mencari monster, yang sebetulnya secara teknis sangat dilarang oleh Niantic.

Baca Juga:  Huawei Dilaporkan Akan Kembangkan Voice Assistantnya Sendiri

Seiring dengan masih besarnya kelompok pemain Pokemon Go yang menggunakan cheat tersebut, Niantic pun bertindak dengan memberikan hukuman. Namun, bukan dengan cara “lawas” seperti ban atau memboikot akun si cheater supaya tidak bisa memainkan Pokemon lagi. Niantic memilih untuk memberikan hukuman yang lebih “lunak”.


Jadi, saat para trainer curang hendak menemukan monster yang dianggap langka menggunakan aplikasi tracker tersebut, Niantic akan menukar monster langka itu dengan monster pasaran, seperti Pidgey, Rattata, atau Pokemon lain yang tak perlu susah payah untuk mendapatkannya. Aturan yang berlaku untuk semua pemain yang terbukti menggunakan aplikasi curang ini disebut dengan ‘Shadowban’. Dari Gamespot, disebutkan bahwa Niantic memang sengaja menerapkan ini untuk menimbulkan efek jera. Entah apakah penalti semacam ini bisa membuat pelanggarnya kapok, tapi hukuman yang diberikan oleh Niantic ini masih terkesan ringan.

Sayangnya, sumber yang kami kutip menjelaskan kalau Niantic belum secara terang-terangan memublikasikan aturan ini pada para pemain Pokemon Go. Saat dimintai konfirmasi pun pengembang asal Amerika Serikat itu tak memberikan komentar.

Baca Juga:  Ketika Ajang Pilkada DKI Jakarta 2017 Masuk ke Ranah Digital

Sejak pertama kali dirilis, Pokemon Go sudah mendapatkan rekor download sebanyak 650 juta kali. Kehadirannya juga sempat membuat sejarah di ranah mobile gaming, seperti game seluler yang paling banyak mengumpulkan revenue dalam bulan debutnya dan aplikasi terpopuler di iOS. Februari yang lalu, jumlah monster yang ditambahkan sudah mencapai 80 monster dan melengkapi monster-monster yang sudah ada sebelumnya.

Selain itu, Niantic juga akan melakukan pemutahiran untuk beberapa gameplay pada game berbasis teknologi augmented reality ini. Yang pertama adalah eksistensi monster legendaris yang akan ditambah jumlahnya. Selain itu, untuk menghindarkan kebosanan dan cara bermain yang itu-itu saja, Pokemon Go akan dimungkinkan untuk sistem trading monster alias tukar dengan pemain yang lain. Satu fitur yang paling ditunggu-tunggu, yakni eksistensi fitur ‘player versus player’, diyakini juga akan tiba untuk meningkatkan antusiasme dari para pemain Pokemon Go yang baru maupun memanggil kembali trainer yang sempat meninggalkan game ini.

Bagaimana? Masih minat untuk main game ini?