Opinion

Mau Kembali ke Pasar Smartphone? Sony Harus Lakukan Ini

Kantor Sony [Foto: walesonline.co.uk]
Sony bukanlah brand yang bisa disepelekan di pasar smartphone. Mereka punya sejarah panjang yang berikut masa keemasannya dan produk-produk berkualitas. Masih ingat betapa populernya ponsel Sony Ericsson Walkman beberapa tahun lalu, kan?

Tapi, sekarang ini Sony seakan ditenggelamkan oleh perusahaan lain, bahkan yang lebih muda. Padahal sebenarnya, mereka punya kemampuan untuk kembali bertengger sebagai brand smartphone papan atas global.

Nah, dengan perkiraan profit tinggi tahun ini sebesar Rp75 triliun berkat kesukesan divisi PlayStation, TV, dan Sony Music, tahun depan cocok dijadikan sebagai batu loncatan Sony untuk menggebrak industri smartphone yang lesu dan masih merugi.

Bayangkan saja, tahun lalu mereka hanya mampu menjual 14,6 juta unit, jauh menurun dari tahun 2012 yang masih 33 jutaan. Produk-produk terakhir yang mereka gelontorkan secara resmi ke Indonesia pun keluaran tahun 2015 atau sudah jadul, sebut saja Xperia Z5 Premium Dual dan Xperia C4 Dual serta M5 Dual yang lebih murah harganya. Tak aktifnya Sony Indonesia pun mau tak mau membuat publik tanah air yang ingin menggunakan gawai semacam Xperia X harus mengubur hasratnya.

Baca Juga:  Analisis: 2016 Menjadi Tahun dengan Suhu Terpanas Sejak Tahun 1880

Seperti yang sudah disinggung di dua paragraf sebelumnya, tahun ini Sony bisa bangkit lagi sebagai merek smartphone ternama, asalkan mereka mau berbenah. Berikut beberapa poin yang bisa diimplementasikan Sony untuk kembali berkuasa di industri ponsel dunia seperti dikutip dari AndroidAuthority (15/11/17).

  1. Jangan mau kalah dengan para konsumen bisnisnya sendiri

Xperia adalah bisnis besar dan penting Sony, kendati kesusahan mendulang profit. Sejauh ini, Sony lebih banyak ditopang oleh bisnis sensor gambarnya yang jadi komponen smartphone ternama, seperti Samsung dan Apple. Dari sini, posisi Sony sudah cukup aneh, yakni justru menjadi penyuplai para kompetitornya untuk fitur andalan dari handset mereka. Sepertinya, Sony harus membulatkan tekad untuk tidak mau kalah dalam berinovasi dari segi teknologi kamera dengan produsen lainnya.


Sony Xperia XZ [Foto: Sony]
  1. Desain gadget yang begitu-begitu saja harus diubah

Desain gadget Sony yang monoton telah menjadi sasaran kritikan banyak orang. Ketika Apple, Samsung, hingga LG dan ZTE saja sudah menyediakan smartphone berdesain menarik, Sony justru mempertahankan desain jadul orisinalnya.

Baca Juga:  Lubang Raksasa Ditemukan di Siberia, Inikah Jawaban dari Misteri Segitiga Bermuda?

Ketika perusahaan asal Jepang itu memilih untuk mengimplementasikan desain yang konsisten pada gawai barunya, bisa jadi konsumen justru menilai tak ada perubahan pada perangkat tersebut, walau misalnya kemampuan hardware dan software-nya telah ditingkatkan secara signifikan. Meski pepatah “jangan nilai buku dari sampulnya saja” terus digaungkan, penampilan pertama tetaplah pendongkrak ekspektasi bagi sebagian orang. Bagaimana, Sony?

  1. Manfaatkan kehebatan di sektor multimedia

Selain fotografi, Sony juga dianggap master dalam beragam teknologi multimedia. Terbukti, mereka pernah menawarkan smartphone dengan layar 4K, ponsel yang mampu merekam video slow motion 960fps, dan codec LDAC berkualitas tinggi untuk mendukung kapabilitas dengan Bluetooth.

Namun, ketiga kelebihan tersebut kerap terbentur dengan kemampuan konsumen, contohnya belum variatifnya konten 4K HDR yang bisa didapat atau harganya yang mahal dan sedikitnya produk third-party yang mendukung standar LDAC.

Dari sini, Sony mungkin bisa mencanangkan strategi bundling fitur yang lebih merakyat, misalnya bundling dengan layanan streaming HDR untuk menyajikan konten hiburan tingkat tinggi atau memanfaatkan brand Walkman mereka yang sudah terkenal dan bermitra dengan produsen hardware audio top untuk memanjakan para audiophile lewat standar LDAC.

  1. Genjot marketing
Baca Juga:  Anak Muda Indonesia di Industri Digital: Peluang dan Tantangannya

Kalau dibandingkan dengan perusahaan smartphone yang usianya lebih muda dari Sony, mereka tampak bersemangat untuk mempromosikan produknya, terlihat dari gencarnya campaign online sampai offline, kemitraan kanal penjualan yang luas, dan sebagainya. Hal yang sama justru tak terlihat dari Sony yang malah tak bekerja sama dengan operator di Amerika Serikat. Mungkin, sudah saatnya bagi Sony untuk lebih serius dalam memasarkan produknya sendiri.