News

Melalui DNA Plak Gigi, Ilmuwan Ungkap Menu Makanan Spesies Manusia Modern Neanderthal

[Foto: bbc.com]
Ada informasi menarik mengenai sepupu spesies manusia modern, Neanderthal. Baru-baru ini, para ilmuwan melakukan analisis genetik terhadap plak gigi dari sisa Neanderthal berusia 48.000 tahun asal Spanyol dan sisa Neanderthal berusia 36.000 tahun dari Belgia.

Melalui DNA kuno dari plak gigi tersebut, terungkap sebuah informasi tentang bahan makanan spesifik dalam diet Neanderthal, seperti badak berbulu wol dan jamur liar, serta penggunaan obat-obatan berbahan tumbuhan untuk mengatasi rasa nyeri dan sakit.

Materi yang terbentuk pada dan di antara gigi, yakni plak, mengandung partikel makanan dan mikroba dari mulut serta saluran pernapasan dan pencernaan. Di situs Spy Cave, Belgia, yang pada masa itu merupakan lingkungan berbukit dengan padang rumput, diet Neanderthal berbasis daging. Makanan diet tersebut antara lain daging badak berbulu wol, domba liar, serta jamur liar.

Di situs El Sidrón Cave, Spanyol sekitar 12.000 tahun sebelumnya, adalah lingkungan hutan lebat yang sepertinya tanpa banyak binatang besar. Pada masa itu, makanan Neanderthal terdiri dari jamur liar, kacang pinus, lumut, dan kulit pohon, tanpa tanda-tanda keberadaan daging dalam menu.

Baca Juga:  NASA Gunakan Laser Luar Angkasa Untuk Selamatkan Ekosistem Lautan di Dunia

Menurut para peneliti, kedua populasi itu tampaknya hidup dengan gaya berbeda sesuai dengan kondisi lingkungan mereka. Para peneliti menemukan, pria dewasa dari situs di Spanyol memiliki abses gigi menyakitkan dan parasit usus yang menyebabkan diare parah. DNA pada plak gigi menunjukkan, ia mengonsumsi kulit kayu poplar yang mengandung bahan aktif penawar sakit aspirin, dan antibiotik alami dari cendawan.

Laura Weyrich, ahli paleomikrobiologi dari University of Adelaide di Australia yang juga penulis utama dari hasil studi yang terbit di jurnal Nature tersebut mengatakan, studi ini benar-benar memberi kilasan dari apa yang ada dalam kotak obat Neanderthal.

Temuan itu menambah pengetahuan yang makin tumbuh tentang Neanderthal, kerabat terdekat dari spesies manusia yang sudah punah, Homo Sapiens. Lebih lanjut, temuan ini menepis gagasan bahwa mereka adalah sepupu manusia yang bodoh.


“Saya percaya riset ini menunjukkan Neanderthal berkemampuan tinggi, cerdas, sepertinya ramah. Kita sudah perlu menulis kembali buku-buku sejarah tentang perilaku ‘seperti manusia gua’ mereka. Perilaku mereka sangat serupa dengan manusia,” kata Weyrich, seperti dilansir dari Reuters.

Baca Juga:  Ditemukan Dinosaurus Terbesar yang Pernah Hidup di Bumi, Beratnya Mencapai 69 Ton!

Dari sekitar 350.000 tahun lalu, Neanderthal yang kuat dan beralis lebar makmur di seluruh Eropa dan Asia. Hingga akhirnya mereka punah sekitar 35.000 tahun lalu setelah spesies kita, yang pertama muncul di Afrika 200.000 tahun lalu, membangun kawasan tempat tinggal di tempat Neanderthal hidup.

Para ilmuwan mengatakan, Neanderthal adalah makhluk hidup yang cerdas, memiliki metode berburu rumit, kemungkinan menggunakan bahasa lisan dan objek simbolis, serta teknik penggunaan api canggih.

Selain itu, para peneliti juga merekonstruksi genom bakteri mulut berusia 48.000 tahun dari salah satu Neanderthal. “Ini genom mikrobial tertua yang diketahui saat ini, lebih tua sekitar 43.000 tahun,” kata Weyrich

Neanderthal Punya Kemampuan Berbicara dan Berbahasa

Ilmuwan menengarai, Neanderthal sudah memiliki kemampuan berbicara dan berbahasa, bahkan bertukar kebudayaan dan bahasa dengan manusia modern. Jejak unsur bahasa Neanderthal terdapat pada bahasa manusia. Neanderthal dan manusia memiliki kekerabatan karena bersama spesies manusia purba lain, Denisovans, memiliki nenek moyang yang sama, yakni Homo heildelbergensis.

Peneliti dari Max Planck Institute for Psycholinguistics di Belanda, Dan Dediu dan Stephen Levinson,  mempelajari data-data palaentologi dan arkeologi, anatomi, serta genetika terkait Neanderthal.

Baca Juga:  Belajar Pemrograman Android untuk Pemula dengan Google dan Udacity

Pandangan umum para ilmuwan menyatakan, bahasa berkembang setelah spesies manusia terpisah dari Homo heidelbergensis sekitar 400.000 tahun lalu.

Namun, analisis mengungkap bahwa Neanderthal bisa jadi sudah memiliki pendengaran modern dengan rentang frekuensi dengar yang sama dengan manusia saat ini. Neanderthal juga sudah punya napas yang mendukung untuk bicara dan berbahasa.

Ilmuwan menduga, kemampuan bicara dan berbahasa Neanderthal sebenarnya sudah muncul sejak masa Homo heidelbergensis. Jika ini terkonfirmasi, maka bahasa mulai berkembang sejak 1 juta tahun lalu. Otomatis, Neanderthal menjadi makhluk yang sudah berbahasa.