Review

Memahami Cara Kerja Algoritma Media Sosial untuk Marketing

[Foto: Pexels.com]
[Foto: Pexels.com]
Media sosial menjadi salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari. Data menunjukkan dari tahun ke tahun, jumlah pengguna media sosial kian meningkat. Tahun 2015 saja, pengguna media sosial di Indonesia mencapai angka 79 juta pengguna. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya pengguna internet di Indonesia.

Melihat banyaknya potensi pasar di Indonesia, tak heran jika kemudian media sosial menjadi salah satu channel marketing yang efektif. Tidak lain karena penggunaannya yang mudah, murah, serta menjangkau lebih banyak konsumen secara tepat sasaran.

Namun, seperti halnya tren yang kerap berubah, social media marketing juga tidak pernah stagnan di satu bentuk dan cara. Salah satunya adalah penggunaan algoritma untuk menampilkan konten di dalamnya. Media sosial dengan jutaan pengguna seperti Facebook, Instagram, maupun Twitter telah menerapkan algoritma untuk menyaring konten agar tetap relevan dan tidak mengganggu kenyamanan pengguna dalam bermedia sosial. Bermula dari Facebook yang telah menerapkan kebijakan ini sejak 2006, disusul dengan Twitter pada tahun 2015, dan juga Instagram.

Beberapa advertiser menganggap perubahan kebijakan ini sedikit merugikan dan menimbulkan masalah. Pasalnya, penerapan algoritma untuk menyaring konten dianggap akan “mengurangi” jumlah iklan yang muncul. Selain itu, algoritma juga selalu berubah sehingga hal itu menuntut usaha lebih dari para advertiser untuk tetap menjadikan iklannya unggul dan tampil pada setiap customernya.

Cara kerja algoritma di media sosial dengan jutaan pengguna

Tujuan utama Facebook menggunakan algoritma ini adalah agar Facebook dapat menjadi surat kabar personal untuk setiap penggunanya. Hal itu diutarakan langsung oleh CEO Facebook, Mark Zuckerberg. Facebook memahami bahwa setiap harinya ada banyak sekali post yang muncul di news feed setiap usernya dan tidak semuanya bisa terjangkau. Oleh karena itu, mereka berupaya untuk memfilter jumlah tampilan post berdasarkan pada topik yang paling diminati oleh pengguna.

Facebook mendeteksi minat kita dari topik apa saja yang biasa dibagikan atau disukai oleh para pengguna. Di Facebook kita juga dapat mengatur preferensi untuk news feed yang muncul pada bagian pengaturan. Selain itu, Facebook juga mendeteksi durasi yang kita habiskan pada post-post tertentu yang nantinya akan dikenali sebagai topik yang menarik perhatian kita sebagai user.

Tak jauh beda dengan Facebook, Twitter menerapkan fitur “While You Were Away” juga berdasarkan pada engagement terhadap seorang user atau topik-topik tertentu yang kita bicarakan di timeline. Hal ini memungkinkan user untuk tetap melihat twit dari user lain maupun topik tertentu yang ingin mereka ketahui.

Peluang untuk marketing

Kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial kepada penggunanya tentunya juga berbanding lurus dengan kenyamanan yang diberikan pada advertiser. Salah satunya adalah memastikan iklan kita muncul pada pengguna yang tepat. Satu-satunya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memastikan sebuah topik yang relevan kepada calon customer agar mereka tertarik untuk membeli produk yang kita tawarkan.

Sebagai contoh, jika kita mengiklankan sebuah buku masakan, dengan bantuan algoritma di media sosial, iklan kita dipastikan bisa terdelivery pada orang yang suka memasak. Sehingga, peluang untuk mencapai konversi pada iklan yang kita buat akan jauh lebih besar dibanding jika semua post harus tampil pada semua user.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memastikan iklan kita terkonsep dengan baik. Sebab selain relevansi pada topik yang dibawa, pengemasan juga menjadi satu isu penting pada advertising. Sebagai contoh, bila kita mengiklankan sebuah aplikasi untuk design, maka sebaiknya pengemasan iklan kita juga harus dibuat seartistik mungkin. Jangan sampai kita membuat iklan untuk design tapi design iklannya sendiri tidak beraturan. Hal itu akan mempengaruhi rasa kepercayaan user kepada produk yang kita tawarkan.

Mencegah iklan tenggelam

Faktanya, sebanyak 70% post yang tampil di Instagram terlewat dari jangkauan penggunanya. Hal itu patut diwajari, karena post yang dibuat oleh pengguna Instagram mencapai ribuan setiap harinya. Dengan adanya algoritma, kita tidak perlu khawatir iklan kita akan tertumpuk oleh post-post yang ada di media sosial. Instagram memastikan bahwa algoritma ini akan membuat 30% post yang dilihat oleh user di Instagram adalah “post terbaik” yang pantas untuk dinikmati, dan tentu saja relevan dengan topik yang kita sukai.

Meski kemudian adanya algoritma ini mengurangi impression pada setiap post yang kita buat, tetapi setidaknya kita dapat memastikan jumlah yang sedikit tersebut memiliki konversi yang lebih besar. Alhasil, kita dapat menghemat budget dengan profit yang lebih maksimal.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID