Opinion

Mengenal Berbagai Komponen Valuasi Startup

[Foto: pexels.com]
[Foto: pexels.com]
Tahun 2016 ini menjadi tahun di mana kehadiran startup semakin matang di Indonesia. Tak hanya semakin gencarnya program inkubasi dibuka di berbagai kota di Indonesia, kini pemerintah melalui program Gerakan 1000 Startup Digital bahkan membuka pintu selebar-lebarnya untuk berbagai inovasi baru di bidang digital muncul di Indonesia. Tak main-main, sebenarnya jika kita mengamati tren startup di Indonesia, banyak di antara mereka yang dikerjakan dengan serius. Dalam arti, membangun startup tidak hanya sekadar tren karena sekarang lagi keren. Lebih dari itu, beberapa founder memang berupaya sungguh-sungguh untuk menasbihkan hidupnya untuk startup.

Tak heran jika kini ada startup di Indonesia yang sudah menyandang predikat unicorn dengan nilai valuasi lebih dari Rp10 Triliun. Go-Jek menjadi startup pertama di Indonesia yang menyandang gelar ini. Startup besutan Nadiem Makarim yang terkenal dengan warna hijaunya yang fenomenal di jalanan kota besar di Indonesia ini menjadi semacam catatan bahwa iklim di Indonesia memang mendukung untuk inovasi-inovasi di bidang teknologi ini muncul dan berkembang pesat.

Jika kita berbicara valuasi, beberapa orang mungkin mempertanyakan, apa sih valuasi itu? Dan apa pula itu unicorn?

Valuasi pada dasarnya adalah nilai dari startup itu sendiri. Sementara, unicorn adalah istilah yang digunakan untuk menyebut startup yang nilainya mencapai $1 Miliar (sekitar Rp 13 T). Karena tergolong sebagai bisnis yang baru dirintis atau bisa juga disebut sebagai semi-enterprise, nilai ini tentu tergolong fantastis. Kenapa disebut unicorn? Karena sejatinya unicorn alias kuda bertanduk satu itu adalah hewan fantasi yang banyak diimpikan oleh banyak anak-anak (di US terutama). Jadi startup yang menjadi unicorn (memiliki valuasi minimal $1 miliar), dianggap mewujudkan fantasi atau mimpi menjadi nyata.

Untuk startup (yang biasanya belum menghasilkan profit), umumnya valuasi ditentukan oleh kesepakatan antara founder dengan investor yang memberi suntikan dana. Tidak ada perhitungan saklek yang bisa digunakan untuk menentukan nilai valuasi. Namun, beberapa komponen di bawah ini mungkin bisa dijadikan semacam pedoman untuk mengetahui seberapa besar nilai valuasi sebuah startup.

1. Reputasi founder

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa menjadi seorang founder tidak bisa gegabah. Meski tidak menjadi suatu keharusan, idealnya sebelum seseorang menjadi founder, ia memiliki banyak pengalaman yang menjadikannya “bernilai” dan dipandang memiliki kapasitas sebagai seorang founder. Tak hanya dari satu sosok founder, tim yang juga sekaligus co-founder menjadi satu komponen kunci yang nantinya menentukan valuasi sebuah startup. Di Indonesia sendiri jika kita mengamati, kebanyakan founder yang berjaya dengan startupnya hadir dari mereka yang berlatar belakang pendidikan di luar negeri. Meski demikian lulusan dalam negeri juga cukup diperhitungkan, seperti Achmad Zaky (lulusan ITB) ataupun William Tanuwijaya (lulusan Binus).

2. Revenue

Revenue (pemasukan) merupakan faktor yang mudah yang dapat digunakan untuk menentukan valuasi sebuah startup. Jika sebuah startup memiliki aliran pemasukan yang jelas, boleh dikatakan ia akan dengan mudah divaluasi dengan nilai tinggi. Hal ini dikarenakan sebagian besar model bisnis startup di Indonesia masih menggunakan model “bakar duit”. Tetapi revenue untuk sebuah startup ini bisa juga menjadi sebuah jebakan. Sebab pada dasarnya tujuan dibuatnya startup bukan semata-mata menghasilkan uang, namun ada juga yang lebih memilih fokus pada user acquisition. Sebab kalau sama-sama fokus pada revenue, yang kadang-kadang justru bukan profit sebenarnya dari startup, lebih baik kita berbisnis bakso atau gorengan yang jelas langsung mendapat revenue alih-alih mencari pelanggan.

3. Scalable

Faktor scalable menjadi satu kunci yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Hal ini dikarenakan dengan bisnis yang scalable, nilai sebuah startup akan terus meningkat dari waktu ke waktu dan tidak memiliki batas. Sebagai contoh, lain halnya dengan bisnis offline, misal mall yang memiliki kapasitas untuk tenant, e-commerce lebih memungkinkan untuk mempunyai tenant dalam jumlah yang mungkin tak terbatas. Jadi bisnis e-commerce dianggap lebih scalable (mampu membesar terus) dibanding bisnis offline.

4. Faktor-faktor lain

Satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari sebuah valuasi dalam startup adalah kondisi sektor yang bagaimanapun juga tetap mempengaruhi jalannya startup tersebut. Umumnya, investor akan juga melirik kondisi di suatu negara tempat startup tersebut akan dikembangkan. Mereka akan menilai bagaimana kondisi politik, ekonomi makro, hingga target pasar yang berpeluang untuk menjadi konsumen.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID