Opinion

Mengenali Kapan Startup Anda Mulai Membutuhkan ‘Intervensi’

[Foto: pixabay.com]
Kegagalan dalam membangun startup adalah suatu hal yang wajar. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri mengingat dalam membuat sebuah startup yang sustain dan bahkan profit tentunya membutuhkan banyak sekali kerja keras. Kegagalan dalam usaha membangun startup bisa jadi sebuah jalan untuk mencapai kesuksesan setelahnya. Setidaknya, jika seseorang mau belajar dari kesalahan, apa yang telah membuatnya gagal tentu tidak akan terulang. Kemudian, jika hal tersebut didukung oleh fisik dan mental yang tangguh, besar kemungkinan seseorang bisa menuai hasil.

Lagi-lagi kegagalan adalah suatu hal yang membayangi setiap orang ketika ingin memulai sesuatu. Berbagai pertanyaan mengambang seperti bagaimana jika saya tidak bisa atau bahkan bagaimana ketika saya gagal terlebih dahulu menjadi momok yang menakutkan di kepala setiap orang. Tak heran jika memang pada akhirnya jumlah orang yang mau memulai bisnisnya sendiri jauh lebih sedikit dibanding mereka yang mencari rasa aman dengan bekerja dan mendapatkan hasil yang pasti-pasti.

Namun, jika ukuran kepastian itu hanya dilihat dari seberapa besar sebuah bisnis itu berkembang atau seberapa lama bisnis itu berdiri, tentu tidak benar juga. Sama sekali tidak ada yang menjamin bahwa bisnis yang telah besar pun suatu hari bisa bangkrut atau istilahnya ‘menemui titik kegagalan’ dalam usahanya. Dan ini adalah hal yang paling lumrah dialami oleh setiap orang.

Baca Juga:  Menangkap Peluang Iklan Facebook untuk Meraih Customer di Indonesia

Bagi orang yang ingin mendapatkan sesuatu, merasakan gagal adalah konsekuensi yang harus siap dialami sewaktu-waktu. Tidak ada hal yang didapat tanpa risiko. Tetapi, setidaknya, sebagai orang yang ingin mengembangkan bisnis, kita bisa belajar untuk menghindari kegagalan-kegagalan yang lebih parah.


Doug dan Polly White, konsultan bisnis dari Whitestone Partner, sebuah firma yang berkonsentrasi untuk membantu pengembangan bisnis kecil dan menengah di Amerika Serikat, mengungkapkan dalam sebuah tulisannya, bahwa banyak bisnis yang akhirnya gagal, salah satunya dikarenakan mereka, para pebisnis itu, terlalu percaya diri dengan apa yang mereka lakukan.

Umumnya, seseorang memang memberanikan diri untuk memulai bisnis ketika mereka memiliki kemampuan yang dianggap cukup. Tetapi, setiap manusia umumnya memiliki keterbatasan, termasuk juga para founder. Maka, jalan lain yang bisa ditempuh adalah mencari bantuan orang lain, entah dengan mencari partner atau memilih jasa konsultan yang banyak ditawarkan.

Ada beberapa tanda yang harus dikenali oleh setiap pebisnis untuk segera mencari bantuan orang lain. Tanda-tanda tersebut salah satunya adalah ketika bisnis atau startup yang dijalankannya mulai menguras kantong pribadi untuk mempertahankan bisnis, bukan untuk pengembangan. Ketika hal tersebut terjadi, bisa dipastikan bahwa ada kesalahan dalam model bisnis yang Anda jalankan.

Baca Juga:  Media Sosial dan Jalan Panjang Customer di Indonesia

Bagi sebuah startup, bakar uang memang menjadi trend. Hal tersebut boleh-boleh saja dilakukan, dengan syarat ada perkembangan dalam tubuh startup itu sendiri. Entah untuk tujuan mengakuisisi user atau untuk menambah talent dalam tim. Tetapi, jika bakar uang ditujukan untuk tujuan semata-mata mempertahankan bisnis, itu artinya ada yang salah dengan model bisnis yang Anda jalankan dan kemungkinan bisnis Anda akan bangkrut.

Tanda kedua mungkin bisa dilihat ketika Anda tidak mendapatkan revenue sama sekali selama lebih dari satu tahun. Entah sekuat apapun modal yang Anda miliki, kehilangan revenue selama lebih dari setahun bukanlah suatu tanda yang baik. Anda mungkin perlu berkonsultasi atau mencari orang yang lebih ahli untuk mendiskusikan kembali model bisnis yang Anda jalankan.

Selain dari faktor model bisnis, tanda-tanda lainnya adalah dari tim internal Anda sendiri, yakni ketika Anda mulai kehilangan orang-orang yang menjadi ‘key personal’ dalam menjalankan bisnis. Bagaimanapun, faktor manusia menjadi salah satu faktor terpenting dalam bisnis. Jadi, ketika Anda mulai kehilangan mereka yang selama ini menjadi titik kunci, Anda harus bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk pada bisnis.

Baca Juga:  Perlukah Social Media Channel untuk Perusahaan B2B?

Ketiga tanda tersebut bisa saja menjadi peringatan bagi sebuah startup dan para founder untuk mengambil tindakan yang lebih serius. Daripada mengambil risiko untuk gagal sama sekali, lebih baik Anda mulai mempertimbangkan untuk mengevaluasi dan melibatkan orang-orang yang Anda pikir lebih ahli di bidangnya. Bagaimanapun, seperti kata orang, mencegah akan lebih baik daripada mengobati.