Opinion

Menurut Perusahaan Analisis, Facebook Sumbang 50% Traffic Berita Hoax

[Foto: marketingcloud.com]
[Foto: marketingcloud.com]
Sebagai wadah penyampai informasi, media sosial tentu tidak luput dari penyebaran hoax atau berita palsu. Salah satu media sosial yang tengah menjadi sorotan terkait hal tersebut adalah Facebook. Situs jejaring sosial terbesar ini dikaitkan sebagai salah satu corong penyebaran berita palsu yang dilakukan sejumlah orang.

Contohnya, dengan jumlah pengguna Facebook di Indonesia yang mencapai 65 juta akun, berita yang muncul pun dapat menjangkau massa yang luas. Karena itu, bila tidak dicermati, ini bisa memicu keresahan massa, bahkan kerusuhan seperti yang terjadi di Tanjungbalai.

Bukan hanya di Indonesia, keresahan serupa terjadi juga di dunia internasional. Dengan pengguna mencapai 1,8 triliun akun, Facebook menjadi media yang ‘panas’ untuk menyebarkan berita palsu. Tuduhan penyebar berita palsu ini gencar ditujukan pada Facebook pada kampanye pemilihan presiden AS tahun ini. Bahkan, Facebook dianggap sebagai satu faktor yang menyebabkan Donald Trump menang.

Menanggapi hal tersebut, pendiri dan CEO Facebook, Mark Zuckerberg yang selama ini jarang bersuara, memberikan pernyataan mengenai berita palsu pada Sabtu, 19 November 2016 lalu.

“Masalahnya sangat kompleks, secara teknis dan filosofis. Kami (Facebook) ingin memberikan setiap orang kebebasan bersuara dan berekspresi apa pun ingin mereka bagi. Kami juga tidak memaksakan kebenaran oleh kami saja, melainkan menggantungkannya kepada masyarakat dan pihak ketiga yang tepercaya,” kata Mark.

Namun, ia tak menampik Facebook tengah berupaya keras untuk bisa menghilangkan keberadaan berita palsu di platform-nya. Beragam strategi telah diungkap Zuckerberg, seperti mengembangkan tools khusus untuk pelaporan berita palsu oleh pengguna, kebijakan iklan, dan pendeteksian berita yang lebih baik.

Tak bisa dipungkiri, kini tak sedikit pengguna yang terlanjur kecewa dan memilih untuk berhenti sementara dari layanan Facebook. Terlebih, pada kenyataannya sistem algoritma News Feed memang memungkinkan seseorang menjadi terpaku pada satu pandangan saja. Hal itu disebabkan algoritma News Feed Facebook berusaha untuk menampilkan konten yang dianggap sesuai dengan keinginan pengguna. Namun, sistem itu tak bisa membedakan apakah sebuah konten itu fakta atau tidak.

Sejalan dengan kondisi tersebut, salah satu perusahaan yang bergerak di bidang analisis pemasaran, Jumpshot, mengumpulkan data terbaru. Menurut Jumpshot, Facebook ternyata menjadi medium bagi situs-situs yang menerbitkan berita palsu dan situs-situs partisan untuk menjangkau pembaca mereka.

Perusahaan ini menemukan beberapa dari situs-situs tersebut meraup lebih dari 70 persen traffic di perangkat desktop melalui perantara Facebook. Sebaliknya, situs-situs berita kredibel seperti newyorktimes, hanya mengantongi kurang dari 30 persen traffic di perangkat desktop dari jejaring sosial tersebut.

[Foto: theatlas.com]
[Foto: theatlas.com]
Dilansir dari quartz, Jumpshot mengumpulkan data dari lebih dari 20 situs berita palsu, partisan, dan situs berita kredibel selama September hingga November. Secara keseluruhan, Jumpshot menemukan bahwa situs berita palsu dan situs partisan mendapat 50 persen traffic mereka dari Facebook. Sementara, situs berita kredibel hanya meraih 20 persen traffic mereka dari jejaring sosial dengan jumlah pengguna terbanyak di dunia itu.

Dari data Jumpshot, terungkap fakta lain bahwa berita-berita palsu yang beredar sama-sama populer, baik di negara bagian dengan basis partai Republik maupun Partai Demokrat. Selain itu, adapun lembaga nonprofit yang bergerak di bidang jurnalisme Poynter Institute juga pernah merilis data serupa. Data tersebut menyebutkan bahwa Facebook sangat berperan vital bagi persebaran berita palsu.

Terlepas dari fakta ini, sebagai pengguna layanan Facebook, ada baiknya kita mencermati setiap informasi yang tersaji agar tidak terprovokasi.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID