Opinion

Metode Pemetaan DNA Bisa Temukan Bakat Terpendam dan Kepribadian Manusia, Benarkah?

[Foto: bioethics.com]
Hingga saat ini, tes genetika masih menjadi metode yang dikenal masyarakat untuk menelusuri kepribadian, bakat, hingga potensi penyakit mereka. Dan ternyata, ide pengaruh gen seseorang bukanlah hal baru dalam dunia sains.

Pada 1979 hingga 1999 silam, para peneliti dari University of Minnesota yang dipimpin oleh Thomas Bouchard, mempelajari 137 saudara kembar. Studi yang dinamakan Minnesota Twin Family Study tersebut bertujuan untuk mencari pengaruh gen pada kepribadian, kepercayaan, tingkat intelegensi, perilaku, dan gaya hidup mereka.

Kemudian, kerja keras para peneliti selama 20 tahun tersebut menghasilkan 170 publikasi yang berfokus pada karakteristik medis dan psikologi yang berbeda-beda.

Secara umum, para peneliti menemukan bahwa 50 persen dari kepribadian kita diturunkan melalui gen, termasuk ketaatan terhadap otoritas, kerentanan terhadap stres, dan keinginan untuk mengejar risiko. Bahkan, menurut para peneliti, IQ kita pun 70 persen dipengaruhi oleh genetik dan 30 persen oleh lingkungan.

Namun, pendapat itu berbeda dengan hasil studi yang dilakukan oleh Profesor Tim Spector.

Baca Juga:  Penemuan Baru: Pengobatan Kanker Bisa Melalui Teknologi Terapi Suara

Melansir dari laman The Guardian, Profesor Spector mempelajari saudara kembar identik di King’s College London selama 20 tahun terakhir. Ia meyakini bahwa perubahan lingkungan memiliki efek lebih besar daripada genetika seseorang. Bahkan, untuk IQ yang menurut para peneliti Minnesota, 70 persennya bergantung pada genetika.

Ia mengatakan bahwa angka ini merupakan rata-rata. “Jika Anda pergi ke Harvard, angka ini di atas 90 persen. Mengapa? Karena mereka yang belajar di Harvard berasal dari kelas menengah ke atas dengan kesempatan edukasi yang sangat baik. Sementara itu, jika Anda ke Detroit, di mana kemiskinan dan narkoba umum ditemukan, tingkat pewarisan IQ turun ke nol persen,” paparnya.


Menanggapi studi Minnesota, Profesor Spector mengatakan bahwa ketika Anda mempelajari saudara kembar, hal pertama yang akan Anda sadari adalah kesamaan mereka, mulai dari postur hingga cara tertawa mereka. Namun, jika Anda berhenti mencari persamaan tersebut dan benar-benar mendengarkan cerita mereka, Anda akan melihat perbedaan mereka juga yang sama banyaknya.

Baca Juga:  5 Tipe Employee yang Harus Ada di Startup Anda

Lalu, pendapat Profesor Spector pun dibenarkan dengan apa yang terjadi ketika para jurnalis mewawancarai saudara kembar yang menjadi partisipan dalam studi Minnesota.

Awalnya, para jurnalis hanya berfokus pada saudara-saudara yang luar biasa mirip dan berpendapat bahwa genetika memiliki pengaruh yang luar biasa pada kepribadian dan jalan hidup seseorang. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka menemukan bahwa saudara-saudara tersebut adalah minoritas, dan mayoritas saudara kembar tidak semirip yang mereka bayangkan.

Thomas Bouchard sendiri mengakui bahwa kemiripan yang luar biasa dalam studinya merupakan anomali. “Mungkin pengaruh genetika memang ada pada sebuah aspek dari perilaku manusia, tetapi penekanan terhadap karakteristik yang sama saja tertentu menyesatkan,” ucapnya.

Ia melanjutkan, secara rata-rata, anak kembar yang dibesarkan terpisah mirip sekitar 50 persen. Hal ini mengalahkan kepercayaan sebelumnya bahwa mereka salinan yang persis satu sama lain. Itu salah, karena mereka memiliki keunikan masing-masing.

Perusahaan ini klaim pemetaan DNA bisa prediksi potensi umum anak

Sebuah perusahaan spesialis tes genetika dari Amerika Serikat yang baru hadir di Indonesia, Map My Gene, menghadirkan Tes Genetik Bakat Bawaan Lahir. Mereka mengklaim, metode tersebut memiliki akurasi hingga 95 persen dalam memprediksikan 46 potensi umum anak melalui DNA.

Baca Juga:  Apa Saja yang Dibutuhkan oleh Seorang UX Researcher?

Ke-46 potensi umum tersebut termasuk kepribadian, bakat artistik, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, kemampuan olahraga, kepekaan, kesehatan fisik, dan identifikasi kecanduan.

Dengan kata lain, Map My Gene mengatakan bahwa melalui pemetaan DNA, Anda akan bisa mengetahui apakah anak Anda orang yang optimistis, pemalu, hiperaktif ataukah cepat beradaptasi.

Proses pemetaan DNA tersebut dilakukan dengan cara menggunakan SWAB Kit sebagai instrumen untuk mengambil sampel air liur. Lalu, dikirim ke laboratorium Map My Gene di AS untuk diolah dan dianalisis menjadi kode gen yang akurat dan detail.

Kemudian, ahli akan menguraikan dan menerjemahkan sampel menjadi informasi bakat terpendam hingga potensi penyakit. Dalam 4-6 minggu, hasil tes pemetaan DNA akan tersedia untuk dikonsultasikan.