News

NASA Adakan Sayembara untuk Mencari Desain Tabir Radiasi yang Paling Efisien

[Foto: nasa.gov]
Tak bisa dipungkiri, misi eksplorasi antariksa erat kaitannya dengan risiko yang tinggi. Salah satunya adalah adanya radiasi ruang angkasa yang bisa membahayakan manusia. Oleh karena itu, ketika keluar dari Bumi, manusia membutuhkan pelindung buatan untuk melindungi diri dari radiasi.

Selama ini, membawa pelindung radiasi yang kuat seringkali memakan tempat di wahana penjelajah. Padahal, tempat itu sebenarnya bisa digunakan untuk tempat manusia atau peralatan riset lainnya.

Untuk itu, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) membuka sayembara kepada publik untuk mencari desain tabir radiasi yang efisien. Salah satu syaratnya adalah bentuk desain harus bisa dilipat supaya mudah dibawa. Bentuk seperti origami, seni melipat kertas dari Jepang, adalah satu hal yang pas.

Sejak 26 Juli lalu, peminat sayembara yang mendaftarkan idenya pada laman Freelancer pun sudah banyak. “Ratusan orang yang ahli dalam origami dan NASA ingin cara paling efisien untuk bisa melipat tabir radiasi,” kata Matt Barrie, pendiri Freelancer, sebagaimana dikutip dari laman Tempo.

Baca Juga:  Fakta-Fakta Menarik dari Si Saudara Kembar Bumi

Sebagian besar radiasi di luar angkasa berwujud partikel sub-atom dari matahari dan bintang lain di galaksi Bima Sakti. Paparan radiasi ini berbahaya karena bisa merusak susunan molekul DNA manusia dan memicu kanker atau penyakit degeneratif lainnya. Selain itu, radiasi juga bisa meningkatkan risiko kerusakan pada instrumen di wahana antariksa.


Penasaran seberapa besar radiasi di luar angkasa? Instrumen wahana penjelajah Mars, Curiosity, pernah menunjukkan dosis radiasi selama 253 hari perjalanan menuju Planet Merah. Hasilnya, mencapai 0,66 sievert. Ini jelas berbahaya, karena jumlahnya sama dengan saat manusia menjalani CT scan untuk seluruh tubuh setiap lima hari sekali.

Dosis 1 sievert berpotensi meningkatkan risiko fatal kanker sebesar 5,5 persen. Adapun dosis normal harian radiasi yang diterima manusia di Bumi, di dalam perlindungan medan magnet, hanya 10 mikrosievert (0,00001 sievert).

Biasanya, tameng radiasi terbuat dari aluminium, yang merupakan komponen penting dalam wahana dengan atau tanpa awak. Namun, dalam misi luar angkasa, ukuran dan bentuk tameng radiasi sangat berkorelasi dengan biaya operasional. Ukuran yang besar jelas akan menghabiskan ruang. Ukuran yang terlalu kecil mungkin tidak cukup untuk melindungi manusia dari radiasi.

Baca Juga:  Perusahaan Teknologi Luar Angkasa Siap Menambang Mineral di Bulan

Helen O’Brien, insinyur dari Imperial College London, mengatakan bahwa NASA jelas menginginkan instrumen yang bisa dikemas dengan ringkas. “Ketika mendarat di planet, instrumen itu bisa dikembangkan dan memberikan perlindungan maksimum serta efisien dari radiasi,” kata O’Brien.

Teknik origami bukan hal baru

Dalam teknologi penerbangan luar angkasa, mengadopsi teknik origami bukanlah hal baru bagi NASA. Pada 2014, sejumlah peneliti di Jet Propulsion Laboratory (JPL) mengembangkan prototipe panel surya yang bisa dilipat. Dengan teknik hannaflex, prototipe berdiameter 1,2 meter itu bisa dikemas lebih kompak. Target mereka adalah mengembangkan panel surya bergaris tengah 24 meter.

Sementara itu, NASA juga membuat wahana pengintai mini yang bisa dilipat bernama PUFFER. Terinspirasi dari origami, roda-roda PUFFER bisa dilipat sehingga robot ini bisa menjelajah ke ruang-ruang sempit yang sulit dijangkau wahana biasa, apalagi manusia.

Para peneliti dari Goddard Space Flight Center, yang merupakan lembaga riset NASA di Maryland, juga turut mengadopsi origami dalam membuat radiator lipat tiga dimensi. Perangkat ini dirancang untuk membuang atau mengurangi panas pada satelit kecil. Dalam membuat radiator lipat yang berongga mirip sarang lebah tersebut, mereka bekerja sama dengan peneliti dari Brigham Young University.

Baca Juga:  Google Adakan Kompetisi Pendaratan di Bulan, 5 Tim Lolos Kualifikasi dan Bersaing Ketat