News

NASA Siapkan Senjata Khusus untuk Hancurkan Asteroid

[Foto: mirror.co.uk]
Rabu, 19 April 2017, sebuah asteroid berukuran lebih dari 1.400 meter nyaris menabrak Bumi. Benda itu merupakan asteroid terbesar yang nyaris mendekati Bumi semenjak 2004. Objek tersebut berjarak 1,8 juta kilometer dari Planet Biru ini. Namun, menurut ilmuan NASA, asteroid itu tidak memiliki kesempatan untuk menabrak tempat manusia tinggal.

Peristiwa di atas merupakan satu dari sekian banyak peristiwa jatuhnya asteroid ke Bumi yang pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, NASA kini tengah mengambil langkah serius demi mengantisipasi serangan asteroid ke Bumi. Salah satunya adalah dengan menciptakan senjata khusus untuk menghancurkan objek luar angkasa tersebut.

Senjata itu merupakan sebuah pesawat luar angkasa kecil dengan senjata api untuk menghancurkan asteroid hingga berkeping-keping. NASA mengungkapkan, senjata bernama DART (Double Asteroid Redirection Test) miliknya itu akan rampung dan siap diterbangkan ke luar angkasa pada Oktober 2022.

Nantinya, tugas DART akan melayang pada trayek yang sudah diatur oleh NASA. Tujuannya adalah untuk menemukan dua asteroid biner yang akan dihancurkan, yakni Didymos A dan Didymos B.

Baca Juga:  Galaxy Note 7 Meledak Saat Mengisi Baterai, Samsung Tunda Distribusi Ponsel Tersebut

Mereka sering dijuluki asteroid kembar, dan ditengarai merupakan objek yang juga berisiko bisa menghantam Bumi. “Dua asteroid itu akan menjadi sasaran pertama DART,” kata Tom Statler, ilmuwan DART di NASA, sebagaimana dilansir dari laman Mirror.

“Didymos B ada di orbit dekat Didymos A. Karena itu, sangatlah mudah untuk mencari keduanya. Eksperimen ini tidak akan mengubah jarak mereka mendekati Bumi,” lanjut Statler.


DART akan menggunakan sistem target on-board, di mana ia akan mendekati Didymos B dan menembakkan senjata api untuk menghancurkannya dalam kecepatan 3,7 mil per detik. Setelah itu, DART baru akan mengincar Didymos A.

“DART merupakan langkah paling kritis dalam mendemonstrasikan bagaimana kami bisa melindungi planet dari ancaman asteroid,” kata Andy Cheng, salah satu ilmuwan DART dari Johns Hopkins Laboratory.

“Kami tidak terlalu tahu seperti apa struktur internal dan komposisi dari objek alam seperti asteroid. Maka itu, Didymos bukan satu-satunya asteroid yang jadi target DART,” tambahnya.

‘Kantor’ untuk memantau gerak-gerik asteroid

Selain membangun DART, NASA sebelumnya juga pernah membangun fasilitas pertahanan khusus untuk memantau gerak-gerik asteroid. Bangunan yang disebut NASA sebagai ‘kantor’ barunya tersebut juga menjadi bagian dari NASA Planetary Science Division. Di sana, terdapat fasilitas bernama Planetary Defense Coordination Office yang memiliki wewenang untuk mengumumkan peringatan benda asing yang berada di dekat Bumi.

Baca Juga:  Facebook, Google, Apple dan 94 Perusahaan di AS Ajukan Tuntutan Terhadap Kebijakan Imigrasi Trump

Hal tersebut sejalan dengan misi NASA yang sudah dicanangkan sebelumnya, yaitu bertugas untuk mendeteksi Near Earth Object (NEO) seperti asteroid dan puing objek sampah luar angkasa.

Dalam memantau gerak-gerik benda luar angkasa, NASA menugaskan divisi Jet Propulsion Laboratory Near Object Program untuk melihat seberapa besar ancaman potensi asteroid ke Bumi berdasarkan sistem monitoring sentry.

Lebih lanjut lagi, NEOWISE, jaringan radio teleskop di seluruh Amerika Serikat dan inframerah teleskop luar angkasa, juga turut serta membantu pelacakan dan pengamatan benda asing tersebut.

“Pembentukan fasilitas ini sesuai dengan komitmen NASA, yaitu menjunjung kepemimpinan nasional dan internasional dalam upaya mendeteksi dampak bahaya alam,” tutur Lindley Johnson, Planetary Defense Officer NASA.

Planetary Defense Coordination Office akan melaporkan ke Federal Emergency Management Agency untuk melakukan tindakan darurat, jika benar ada ancaman benda asing yang berada di dekat Bumi.

Setelah NASA selesai mendeteksi asteroid atau benda asing lainnya, Badan Antariksa Amerika Serikat tersebut akan memperkirakan ketepatan orbit objek itu untuk segera ditangani.

Baca Juga:  Opera Perkenalkan Mode Penghemat Baterai Pada Browsernya