News

NASA Sulit Wujudkan Migrasi Manusia ke Mars, Apa Sebabnya?

Planet Mars [Foto: NASA]
Sudah beberapa dekade manusia memimpikan bagaimana rasanya jika pindah ke planet merah alias Mars. Hal ini disebabkan karena selain semakin banyaknya populasi manusia yang hidup dan tinggal di Bumi, ambisi naluriah manusia sebagai makhluk yang selalu penasaran dan mengembangkan ilmu pengetahuan jadi alasan mengapa Mars selalu diimpikan jadi tempat tinggal kedua. Hasrat tersebut juga difasilitasi lewat banyak sekali film Hollywood, yang menjual impian manusia menginvasi luar angkasa.

Tapi apakah benar misi menuju planet Mars bisa diwujudkan dalam waktu dekat? Apa jadinya Jika ternyata misi tersebut hanya sebatas mimpi dan belum bisa direalisasikan secara nyata?

Setidaknya, kutipan dari Ars Technica ini bisa memberikan Anda gambaran bahwa berpindah ke Mars bukanlah perkara yang amat mudah. Berpindah ke planet yang baru, yang kabarnya memiliki pasokan air dan oksigen, tidaklah semudah menonton film animasi sci-fi Wall-E. Karena ternyata, NASA memiliki pengamatan tertentu dan hasil perhitungan yang menunjukkan bahwa terbang dan migrasi manusia ke Mars bisa jadi tidak akan terwujud dalam waktu dekat.

Baca Juga:  Peneliti: Mars Dinilai Berbahaya untuk Dihuni oleh Manusia

William H. Gerstenmeier, selaku kepala divisi Human Spaceflight milik NASA, mengatakan bahwa tidak ada waktu pasti buat manusia untuk bisa kemudian diterbangkan menuju Mars. Sebab, biaya yang dibutuhkan amat besar.


“Saya tidak bisa menentukan kapan manusia bisa berada di Mars, dan penyebabnya lebih kepada satu hal, yakni tingkat pembiayaan yang sudah kami deskripsikan,” jelas Gerstenmeier saat dikutip sumber yang kami cuplik.

Pada akhirnya problematika ini dirasa sangat masuk akal, terutama jika dipikir secara teknis kebutuhan untuk terbang menuju Mars sangatlah besar. Instalasi pesawat ulang alik SLS Rocket dan Orion saja sudah menelan biaya yang tak sedikit.

Namun, menjadi aneh rasanya karena selama ini NASA sudah secara tidak langsung mempromosikan acara untuk terbang ke planet Mars sebagai salah satu program yang akan mereka lakukan di masa depan. Lembaga yang sudah dibentuk sejak 1958 itu sempat menyebutkan bahwa manusia bisa mulai terbang dan meneliti lebih lanjut planet Mars pada tahun 2030 nanti. Nah, dari permasalahan yang melilit mereka sekarang, besar kans bahwa jika NASA jadi berangkat ke Mars 13 tahun lagi, awak yang diikutsertakan tak akan masif dari segi jumlah.

Baca Juga:  NASA Perkenalkan Mixed-Reality Stasiun Ruang Angkasa untuk Latih Calon Astronot

Di sisi lain, masalah yang harus di-tackle suapaya penduduk Bumi bisa terbang ke Mars bukanlah itu semata. Ada juga persoalan pelik lain seperti seluas apa space yang tersedia dalam pesawat atau alat transportasi menuju ke planet tersebut, termasuk didalamnya perbekalan untuk bertahan hidup seperti makanan dan obat-obatan. Padahal pengalaman mengatakan bahwa perjalanan menuju planet Mars paling cepat baru bisa diselesaikan dalam waktu 39 hari menggunakan New Horizons dan paling lama bisa mencapai 290 hari.

Jika kemungkinan terbang ke Mars akan menjadi semakin kecil pada tahun 2030 nanti, lantas apa yang kemudian akan mungkin dilakukan oleh NASA untuk tetap mengeksekusi program mereka sebagai peneliti luar angkasa? Gerstenmeier mengatakan bahwa mendarat di bulan merupakan salah satu alternatif yang bisa dilakukan jika Mars terasa belum realistis.

“Jika saja kami bisa menemukan air di bulan dan kami berkeinginan untuk melakukan operasi yang ekstensif di bulan untuk mengeksplorasi hal tersebut, kami memiliki kemampuan dengan (menggunakan) Deep Space Gateway untuk mendukung program ekstensif ini di permukaan bulan.”

Baca Juga:  Pesawat Ulang Alik NASA yang Mengorbit Bulan Ditabrak Meteoroid