News

NASA Temukan 10 Planet Calon Pengganti Bumi di Luar Bimasakti

[Foto: Shutterstock]
NASA telah mengumumkan temuan terbaru terkait pemburuan eksoplanet “ramah kehidupan” mereka pada hari Senin, 19 Juni lalu. Badan antariksa Amerika Serikat itu telah menetapkan 219 kandidat eksoplanet. Dari jumlah tersebut, 10 eksoplanet memiliki potensi cukup besar, dan berada di zona layak huni dalam orbit bintang (matahari) mereka, dimana air yang mengalir dapat ditemukan. Eksoplanet adalah planet-planet di luar galaksi Bimasakti.

Temuan ini berasal dari teleskop antariksa Kepler NASA—mata kita di luar angkasa—yang menemukan beberapa planet yang berpotensi dihuni di luar tata surya kita. Teleskop tersebut memang dirancang untuk menemukan planet berbatu (bukan gas seperti Jupiter) yang berada di zona bintang yang dapat dihuni di mana suhu cukup hangat dengan iklim sedang, sehingga berpotensi menopang kehidupan seperti yang kita ketahui.

Eksoplanet khusus dalam batch terbaru ini adalah KOI-7711, yang bisa menjadi “sepupu dekat” Bumi berdasarkan ukuran dan jaraknya dengan bintang seperti matahari. “KOI” adalah singkatan dari “Kepler object of interest.”

Baca Juga:  Apple Music untuk Android Kini Sudah 'Lulus' Dari Status Beta

“Ada banyak hal yang tidak kita ketahui tentang planet ini,” kata peneliti Kepler Susan Mullally, jadi terlalu dini untuk mengatakan apakah KOI-7711 benar-benar kembaran Bumi dengan atmosfer dan air mengalir yang serupa.


Kepler melihat planet-planet potensial dengan mencari peredupan kecerahan bintang ketika sebuah planet melintas di depannya. “Katalog kandidat planet layak huni Kepler yang terbaru diciptakan dengan menggunakan analisis paling canggih, menghasilkan penghitungan yang paling lengkap dan dapat diandalkan untuk melacak ‘dunia nun jauh’ pada saat ini,” ungkap NASA.

Sejauh ini, misi Kepler telah mengidentifikasi lebih dari 4.000 calon planet. Kelompok besar terakhir dari misi K2 Kepler datang pada bulan Juli 2016 dengan pengumuman lebih dari 100 eksoplanet baru. Sejauh ini, ilmuwan NASA telah menggunakan Kepler untuk mengidentifikasi sekitar 50 planet berukuran terestrial di “zona Goldilocks” di setiap bintang, yakni posisi yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.

Selain itu, hasil penggunaan data Kepler membantu astronom membuat pengelompokan ukuran planet kecil yang berbeda. Kedua kelompok tersebut memiliki implikasi yang signifikan bagi pencarian kehidupan. Katalog terbaru Kepler akan menjadi dasar studi lebih lanjut untuk menentukan prevalensi dan demografi planet di galaksi, sementara penemuan dua populasi planet yang berbeda menunjukkan bahwa sekitar setengah planet yang kita ketahui di galaksi tidak memiliki permukaan, atau hanya “terjebak” di bawah atmosfir yang dalam dan menghancurkan—lingkungan yang tidak mungkin dijadikan tempat hidup.

Baca Juga:  Adakan Pemungutan Suara, NASA Tetapkan Tiga Lokasi Pengeboran di Mars 2020

Penemuan Kepler telah menerbitkan harapan untuk menemukan planet mirip Bumi, namun beberapa kali juga telah memupuskannya. Exoplanet Kepler-438b tampak seperti kandidat yang menarik untuk menjadi tuan rumah kehidupan, namun pada tahun 2015 ilmuwan mengumumkan bahwa planet itu tidak dapat dihuni karena lidah api yang kerap terpancar dari bintangnya.

Kepler diluncurkan pada 2009, namun waktu beroperasinya terbatas. NASA sedang mengerjakan Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS), yang dijadwalkan diluncurkan pada 2018 pada misi pemburu planet ekstrasurya yang baru.

Pesawat dan teleskop ruang angkasa Kepler terus melakukan pengamatan di petak-petak langit baru dalam misi perluasannya, mencari planet dan mempelajari berbagai objek astronomi yang menarik, mulai dari kelompok bintang yang jauh hingga benda-benda seperti sistem TRAPPIST-1 dari tujuh planet seukuran Bumi, yang sifatnya mirip dengan planet kita ini.