News

Ovarium dari Printer 3D Sudah Dikembangkan, Inikah Akhir dari Kemandulan?

[Foto: YouTube | NorthwesternU]
Dekade baby boomers yang mulai meledak pada tahun 1946 hingga akhir 1963 merupakan era yang bersejarah bagi keberadaan populasi manusia di dunia. Secara teknis, generasi baby boomers adalah generasi yang berjasa dalam melahirkan para millennial yang berjumlah hingga miliaran jiwa saat ini. Hal ini dimungkinkan karena para baby boomers adalah manusia yang lahir pasca Perang Dunia II, sehingga satu faktor kematian besar sudah tereliminasi – dengan sedikit menghiraukan keberadaan penyakit yang mewabah seperti hepatitis dan wabah hitam di beberapa negara di masa-masa itu.

Tapi apakah setelah era baby boomers produktivitas manusia dalam bereproduksi meningkat tajam secara jumlah dan kualitas? Statistik memang mengatakan demikian, karena jumlah manusia di bumi yang secara prosentase semakin meninggi tiap tahunnya. Namun, jumlah manusia yang mengalami kemandulan akibat ketidakproduktifan organ reproduksi ternyata juga tidak sedikit. Bahkan, hingga saat ini masih jadi permasalahan yang agaknya cukup mengganggu, termasuk bagi para kaum hawa.

Beberapa pelaku riset dari Northwestern University mungkin bisa memberi jawaban menggembirakan bagi pasangan yang sudah bersama dalam waktu yang lama, tetapi tak kunjung mendapatkan keturunan. Itu saja? Ternyata tidak, karena para ilmuan tersebut juga melakukan penelitian supaya jumlah prosentase kanker ovarium bisa berkurang drastis lewat penelitian tersebut.

Baca Juga:  NASA Berencana Menguak Asal-Usul Terbentuknya Mars dengan Menggunakan Wahana Antariksa

Lantas, apa yang dihasilkan untuk sementara ini demi menghasilkan temuan yang meningkatkan (atau malah mengubah kualitas) dari ovarium wanita yang tidak produktif? Agak mengagetkan, karena ternyata temuan yang dibuat oleh para ilmuan ini adalah item yang dihasilkan lewat printer 3D! Tak cuma itu, produk yang dihasilkan merupakan produk organik yang setidaknya sampai berita ini dikutip dari Geek, berhasil meningkatkan produktiftas untuk makhluk hidup utamanya mamalia.


Para punggawa dari Feinberg School of Medicine dan McCormick School of Engineering satu sama lain tengah bekerja sama untuk menghasilkan temuan yang amat revolusioner: ovarium buatan, atau dalam bahasa Inggris disebut ‘Prostethic Ovaries’. Ovarium buatan ini kabarnya sudah sukses di dua tahap, yakni di tahap produksi dan uji coba. Saat dibuat dan kemudian diujicobakan pada ovarium tikus, ternyata menghasilkan output yang amat menggembirakan. Dalam kurun waktu tertentu pasca dipasangi ovarium buatan, tikus yang diuji oleh para peneliti tersebut nyata-nyata mampu menghasilkan anak tikus dengan jumlah yang cukup banyak dengan kondisi ovarium yang juga subur.

Baca Juga:  Perburuan Mesin yang Menjual Kacamata Snapchat Seperti Main Pokemon

Lantas dari bahan baku apa ovarium 3D ini dibuat? Ternyata para ilmuan menggunakan bahan dasar gelatin, supaya bisa menyesuaikan dengan struktur sel, tulang belakang, serta tisu lapisan otot dari tikus. Keberadaan gelatin ini sendiri sengaja dimainkan sebagai perancah atau penampung sel telur yang dihasilkan oleh tikus betina yang sedang diujicobakan. Ovarium yang dibuat, seperti pada ovarium normal, akan bekerja saat reproduksi dilakukan dan kemudian kehamilan tikus juga akan diadakan pada bidang yang sama.

Menurut Ramille Shah, selaku asisten profesor dari McCormick School of Engineering, mengatakan bahwa hasil studi pertama ini mendemonstrasikan bahwa konstruksi dan arsitektur ovarium tersebut ternyata memberikan perbedaan signifikan serta menjaga kualitas dari folikel tikus. Lebih lanjut, Ramille juga menyatakan bahwa hal tersebut tak akan bisa dilakukan jika ovarium yang diproduksi tidak dicetak menggunakan 3D printer.

Hasil positif dari ovarium yang dibuat menggunakan bahan dasar gelatin tersebut, antara lain adalah memungkinkan sel darah tetap mengalir melewati ovarium sehingga regenerasi pada sisa jahitan operasi bisa disembuhkan dan mengalami recovery. Selain itu, ovarium yang terbuat dari gelatin ternyata tetap mampu untuk mengalirkan hormon sehingga pada akhir masa kehamilan tikus, air susu sudah tersedia di kantong ‘mamae’.

Baca Juga:  Pasca Kasus Samsung Galaxy Note 7, Korea Selatan Perketat Aturan Keamanan Baterai

Belum bisa dispekulasikan apakah metode ini juga bisa dilanjutkan kepada manusia, terutama wanita dewasa yang mengalami kemandulan atau ketidakproduktifitasan. Karena dengan skala yang lebih besar dan lebih kompleks, ovarium manusia memiliki banyak kemungkinan dan celah yang amat banyak. Namun dengan adanya pengembangan ini, setidaknya satu masalah yang menaungi makhluk menyusui bisa dicarikan jalan keluarnya lebih jauh lagi.