News

Peneliti Berhasil Ciptakan Bioprinter 3D yang Menghasilkan Kulit Manusia

[Foto: news.com.au]
Dengan bantuan teknologi, hal yang mustahil sekalipun tampaknya kini bisa diwujudkan. Seperti yang terjadi belum lama ini. Terobosan baru berikut ini mungkin akan dapat dimanfaatkan dalam waktu dekat. Tepatnya, untuk mengatasi berbagai permasalahan kulit seperti, keriput, kendor, dan lain sebagainya.

Para peneliti dari Universidad Carlos III de Madrid (UC3M), CIEMAT (Center for Energy, Environmental, and Technological Research), Rumah Sakit Umum Universitas Gregorio Maranon, serta bekerja sama dengan perusahaan BioDan Group, berhasil mengembangkan prototipe untuk bioprinter 3D yang mampu menghasilkan kulit manusia yang fungsional.

Bahkan, penemuan ini kabarnya memungkinkan manusia mencetak sendiri beberapa kulit baru, untuk menambal penuaan kulit dalam tubuh mereka. Selain itu, kulit tersebut juga bisa digunakan untuk tujuan penelitian, pengujian kosmetik dan produk berbasis kimia lainnya.

Menurut peneliti, sangat mungkin untuk bisa menciptakan kulit manusia. Jose Luis Jorcano, salah seorang peneliti dalam penemuan ini yang juga merupakan Profesor di UC3M menuturkan, penemuan ini bisa digunakan untuk kepentingan transplantasi kepada pasien.

Baca Juga:  Fitur-fitur Terbaru Pada Update Aplikasi LINE Versi 7.1.0

“Kulit ini dapat ditransplantasikan ke pasien atau digunakan dalam bisnis untuk menguji produk kimia, kosmetik atau produk farmasi dalam jumlah, jadwal, dan harga yang kompatibel dalam pemanfaatannya,” kata Jose Luis Jorcano, sebagaimana dilansir dari news.com.au.

Tidak hanya itu, phys.org menyebutkan bahwa versi terbaru kulit manusia dari hasil print 3D tersebut merupakan salah satu dari organ hidup manusia yang pertama kali dibuat menggunakan bioprinting untuk diperkenalkan ke pasar.


Printing kulit manusia ini merupakan replika dari struktur kulit yang alami dengan permukaan kulit paling luar, yakni epidermis stratum koreum, yang berfungsi untuk melindungi.

“Dengan mengetahui bagaimana mencampurkan komponen biologis, sehingga apa yang dikerjakan tidak akan menghasilkan sel yang buruk,” terang peneliti dari Rumah Sakit Umum Universitario Gregorio Maranon dan Universitas Complutenses de Madrid.

Alfredo, CEO of BioDan Group, menambahkan akan ada keuntungan baru dari teknologi ini. “Secara otomatis, metode ini memungkinkan proses generasi kulit yang alami,” tambahnya. BioDan Group sendiri merupakan perusahaan bio-engineering yang mengkhususkan diri dalam pengobatan regeneratif berfokus pada kulit.

Baca Juga:  Perusahaan Teknologi Ini Sukses Membangun Kubah ‘Kiamat’ di Kutub Utara

Materi hasil penemuan ini mampu meniru struktur kulit dengan lapisan dalam yang terdiri dari fibroblast, yang menghasilkan kolagen dan protein yang memberikan elastisitas dan kekuatan mekanik pada kulit. Bahkan sama halnya dalam aplikasi medis, suatu hari dapat dibayangkan produk serupa akan digunakan dalam pembuatan robot dengan epidermis menyerupai manusia.

“Metode bioprinting ini memungkinkan kulit dihasilkan dalam standar, cara otomatis, dan proses yang lebih murah daripada produksi manual,” demikian diklaim oleh Alfredo Brisac.

Dalam penelitiannya, para penulis mencatatkan bahwa kemajuan signifikan sudah dibuat selama 25 tahun terakhir dalam pengembangan in vitro-engineered sebagai pengganti kulit. Namun kini, bioprinter bisa membuatnya lebih mudah untuk memproduksi bahan-bahan tersebut, dengan biaya dan cara yang lebih efektif.

Para peneliti mengatakan bahwa bioprinting 3D sudah muncul sebagai alat yang fleksibel dalam pengobatan regeneratif. “Dalam penelitian ini, kami telah menggunakan teknik mencetak kulit manusia berlapis dua, menggunakan bioinks yang mengandung plasma manusia, serta fibroblast dan keratinosit utama manusia yang diperoleh dari biopsi kulit,” kata mereka.

Baca Juga:  Pendiri Anti Virus McAfee Gugat Intel Akibat Tudingan "Pencurian Nama"

“Hasil ini menunjukkan bahwa bioprinting 3D adalah teknologi yang cocok untuk menghasilkan kulit buatan untuk aplikasi terapi dan industri dalam sebuah cara yang otomatis,” pungkas para peneliti.

Baru-baru ini, penelitian tersebut diterbitkan dalam versi elektronik dari jurnal ilmiah Biofabrication.