Opinion

Peneliti Berhasil Ciptakan Embrio Gabungan Manusia dan Babi

[Foto: iflscience.com]
Apa jadinya bila embrio dari dua spesies yang berbeda disatukan? Dan bagaimana jika itu berasal dari manusia dan babi? Meski terdengar mengerikan, namun praktik ini tetap dijalankan oleh peneliti.

Gabungan antara dua spesies yang berbeda disebut chimera. Dalam publikasi di jurnal Cell, embrio chimera hidup dibuat oleh peneliti dengan menggunakan materi genetik dari manusia dan babi. Caranya adalah dengan menyuntikkan sel punca manusia pada embrio babi.

Dari dua sel yang subur, terbentuklah zigot dari dua spesies yang berbeda. Embrio chimera gabungan manusia dengan babi ini dibiarkan hidup selama beberapa minggu, sebelum akhirnya dibunuh.

Dengan berhasilnya percobaan pembuatan embrio chimera ini, selanjutnya adalah mempertimbangkan apakah hal tersebut etis untuk dilakukan. Namun, Profesor Juan Carlos Izpisua Belmonte, orang yang ikut terlibat dalam eksperimen ini mengatakan bahwa untuk sampai ke tahap bisa menghasilkan organ asli, masih banyak tahap yang diperlukan.

Profesor dari Salk Institute tersebut mengatakan, dari 2.075 embrio yang kemudian ditanamkan ke rahim babi betina, hanya 186 embrio yang mampu berkembang. Embrio-embrio tersebut hanya dibiarkan berkembang hingga 28 hari untuk kemudian dianalisa.

Baca Juga:  Penelitian Menyebutkan, Orang yang Tinggal di Dekat Jalan Raya Lebih Berisiko Terkena Demensia

“Ini adalah pertama kalinya sel-sel manusia diperhatikan tumbuh dalam hewan besar,” kata Profesor Carlos, seperti dilansir dari BBC.

Meski terdengar mengerikan, tetapi ada alasan baik dibalik eksperimen ini. Saat ini, banyak orang yang meninggal karena kekurangan donor organ. Misalnya, kebutuhan akan donor jantung, hati, dan ginjal sangatlah banyak.


Para peneliti mengatakan, mungkin saja ke depannya embrio chimera dapat digunakan untuk menumbuhkan organ manusia tertentu seperti jantung, hati, dan ginjal. Lalu, organ tersebut dapat dipakai untuk kebutuhan transplantasi.

Namun, diakui oleh Profesor Carlos bahwa masih perlu waktu lama untuk mencapai hal tersebut. Pada percobaan yang timnya lakukan saja, embrio chimera yang berkembang 28 hari hanya memiliki 0,001 persen materi genetik dari manusia.

Riset Awal Menggunakan Sel Punca Tikus

Menurut Profesor Juan, ini adalah langkah awal yang sangat baik. Riset ini dimulai dengan menggunakan sel punca dari tikus ke dalam embrio tikus berjenis lain. Kemudian, ia menggunakan alat khusus untuk mengubah gen. Dengan alat tersebut, gen salah satu tikus dihapus.

Baca Juga:  Penelitian: Usia Manusia Akan Sampai 125 Tahun di 60 Tahun ke Depan

Penghapusan ini juga tidak dilakukan secara acak. Gen yang menumbuhkan organ tertentu dihilangkan, kemudian digantikan dengan gen tikus lainnya. Dengan cara ini, maka organ yang diharapkan tersebut bisa tumbuh dalam tubuh yang berbeda.

Sebelum berpindah ke babi, sel punca manusia sudah pernah dimasukkan dalam embrio tikus. Sayangnya, percobaan ini hasilnya sangat buruk. Setelah mengalami kegagalan, Juan kemudian membentuk tim dengan 40 peneliti lain dan mulai melakukan percobaan menggunakan sapi dan babi. Dan terbukti, percobaan ini lebih sulit dan lebih mahal. Setelah beberapa percobaan, mereka kemudian lebih berfokus pada babi.

Meski sudah terhitung cukup berhasil, ternyata proses ini tetaplah tidak mudah. Dibutuhkan waktu empat bulan untuk babi mengandung dan melahirkan anak. Jadi, tetap saja perlu waktu beberapa bulan untuk mengembangkan embrio jika prosedur pembuatan manusia chimera ini berhasil.

Jika nantinya percobaan ini bisa digunakan untuk menggantikan organ manusia, setidaknya waktu untuk mendapatkan organ yang dibutuhkan bisa dipotong hingga separuhnya. Sebab, waktu hamil manusia lebih dari sembilan bulan.

Baca Juga:  Penelitian: Racun Laba-Laba Bisa Membantu Lindungi Otak Pasca Stroke

Jadi, apakah Anda setuju jika embrio chimera digunakan manusia untuk kebutuhan transplantasi kelak? Kalau saya pribadi, membayangkannya saja sudah membuat ngeri.