News

Peneliti Temukan Cara yang Lebih Akurat untuk Mengukur Dampak Emisi Gas Rumah Kaca

[Foto: voanews.com]
Pada abad ini, emisi karbon yang terus meningkat bakal memperbesar risiko seperti konflik, kelaparan, banjir, gangguan ekonomi, dan migrasi massal penghuni Bumi. Jika dibiarkan, emisi gas rumah kaca tersebut akan menyebabkan kerugian triliunan dolar AS karena kerusakan properti dan ekosistem. Belum lagi biaya untuk membangun sistem pertahanan iklim.

Risiko ini pun meningkat setiap satu derajat kenaikan temperatur udara akibat pemanasan global. Setidaknya, inilah fakta yang diungkapkan dalam laporan Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) yang disampaikan setelah konferensi selama lima hari di Yokohama, Jepang, 31 Maret 2014 silam.

IPCC adalah panel para pakar yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1988 untuk memberikan panduan ilmiah dan netral terkait perubahan iklim.

Kini, untuk membantu mengukur dampak emisi gas rumah kaca terhadap iklim di Bumi, para peneliti dari Harvard University, Princeton University, dan The Environmental Defense Fund mengusulkan sebuah cara baru yang lebih akurat. Studi tersebut diterbitkan dalam sebuah artikel di jurnal akademis Science.

Baca Juga:  Ilmuwan Sukses Mengubah Gen pada Embrio Manusia untuk Cegah Penyakit Keturunan

Science adalah jurnal mingguan yang diulas oleh rekan sesama ilmuwan. Jurnal tersebut dipublikasikan oleh The American Association For The Advancement of Science.


Usulan tersebut akan menciptakan sistem pengukuran dua angka. Para ilmuwan mengibaratkannya dengan hasil pengukuran tekanan darah dalam bidang kedokteran. Sistem tersebut menunjukkan tekanan pada pembuluh darah, baik selama terjadi detak jantung maupun antara satu detak jantung dan detak jantung lainnya.

Sistem ini akan membantu para ilmuwan dan pengambil kebijakan dalam menjelaskan fakta bahwa beberapa gas rumah kaca bertahan lebih lama dibandingkan gas rumah kaca lainnya di atmosfer.

“Gas yang berbeda memiliki masa bertahan yang sangat berbeda di atmosfer setelah emisi, dan berdampak pada iklim dalam cara yang berbeda-beda dalam skala waktu yang sangat bervariasi,” ujar Michael Oppenheimer, seorang profesor ilmu kebumian di Princeton yang merupakan salah satu penulis artikel, sebagaimana dilansir dari VOA News.

Sistem ini akan menujukkan dampak dari emisi gas rumah kaca dalam skala waktu 20 dan 100 tahun. Dengan memiliki pengukuran yang menunjukkan kedua skala waktu, para ilmuwan beralasan, akan memberi kesempatan pada pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya yang mencoba untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Baca Juga:  Avast Siap Keluarkan Rp 17,1 triliun untuk Akuisisi AVG

Selain itu, sistem ini juga akan membantu dalam memperlambat pemanasan global. Sehingga berguna untuk memutuskan kebijakan mana yang paling baik dalam jangka pendek dan mana yang harus diadopsi dalam jangka panjang.

Sistem yang membantu saat terjadi perselisihan antar kelompok

Di sisi lain, sistem ini juga akan membantu saat terjadi perselisihan antar kelompok pendukung yang berlawanan. Contohnya, menurut para peneliti, para pendukung pengguna gas alam sebagai sumber energi mendasarkan argumennya pada skala waktu 100 tahun.

Namun lawannya, para aktivis yang berusaha menanamkan pengaruhnya untuk menentang penggunaan gas alam, menggunakan skala waktu 20 tahun untuk menunjukkan efek dari pembakaran gas alam terhadap iklim.

Mayoritas ilmuwan dalam jumlah yang meyakinkan percaya bahwa emisi gas seperti karbon dioksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, berkontribusi pada perubahan iklim global, sehingga menyebabkan naiknya permukaan air laut, menimbulkan kekeringan, dan lebih sering terjadinya topan dahsyat.

Para ilmuwan berpendapat, agar usulan dua nilai berhasil, sistem ini harus diadopsi secara luas. Tidak hanya oleh satu lembaga pemerintah seperti US Environmental Protection Agency, tetapi juga oleh badan-badan internasional seperti PBB dan The Intergovernmental Panel on Climate Change.

Baca Juga:  Astronom Berhasil Temukan Planet yang Kaya Akan Air di Atmosfernya