Home  »  Opinion   »  
Opinion

Peneliti Ungkap Dampak Bila Ganja Dilegalkan untuk Pengobatan Medis

[Foto: cnn.com]
Belum lama ini, netizen sempat dihebohkan oleh foto seorang pria yang tampak murung sambil memegang pundak buah hatinya. Ia adalah Fidelis Ari Sudarwoto, seorang pria asal Sanggau, Kalimantan Barat, yang ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sanggau, lantaran kepemilikan tanaman ganja di rumahnya.

Ia menanam ganja untuk mengobati istrinya yang mengidap penyakit langka, yakni Syringomyelia atau munculnya kista di sumsum tulang belakang. Fidel pun mencoba mencari di internet dan menemukan salah satu pengobatan untuk Syringomyelia di luar negeri dengan menggunakan ekstrak ganja. Inilah yang membuatnya berani menanam ganja dan ternyata cukup berhasil.

Namun, BNN Kabupaten Sanggau mengendus kepemilikan ganja itu dan langsung membawa Fidel untuk ditahan selama 32 hari. Setelah ditinggal karena ditahan, istri Fidel meninggal. Ketika Fidel melayat ke rumah duka dan memeluk anaknya, rupanya ada seseorang yang mengabadikan melalui foto dan mengunggahnya ke media sosial. Inilah yang mengundang komentar netizen.

Berkaitan dengan kasus ini, tanaman ganja sebenarnya sudah digunakan dalam pengobatan herbal sejak ribuan tahun lalu. Namun, pemakaian ganja untuk pengobatan modern di seluruh dunia masih menuai kontroversi. Tak lain adalah karena kekhawatiran akan meluasnya penyalahgunaan. Ganja masih dianggap sebagai narkotika yang dilarang di banyak negara.

Baca Juga:  Penelitian Menyebutkan Bahwa Gurun Sahara Dulunya Adalah Daerah Hamparan Hijau

Ada sebagian negara yang memang memperbolehkan pemakaian ganja secara medis, meski terbatas. Dalam pengawasan ketat dokter, zat aktif dalam ganja bisa dipergunakan untuk mengatasi penyakit epilepsi, mengurangi nyeri, serta kejang berulang.


Sebuah penelitian dilakukan di 27 negara bagian di Amerika Serikat antara tahun 1997-2014. Studi yang dipublikasikan dalam Drug and Alcohol Dependence ini mengungkap tentang manfaat apa saja bila ganja dilegalkan untuk pengobatan medis.

Ketika ganja dilegalkan sebagai obat, ternyata angka perawatan rumah sakit karena ketagihan ganja turun hingga 23 persen. Bahkan, tingkat overdosis juga menurun 11 persen.

Yuyan Shi, ketua peneliti, mengatakan memang terlalu dini untuk menyebut hasil penelitiannya bisa digunakan untuk mendukung legalisasi ganja sebagai cara mencegah kecanduan dan overdosis.

“Meski begitu, pembuat kebijakan seharusnya juga mempertimbangkan konsekuensi positif dari melegalkan ganja dalam pengobatan,” kata Shi, asisten profesor kedokteran keluarga dan kesehatan masyarakat dari Universitas California di San Diego, seperti dilansir dari Mens Health.

Ganja Bisa Hilangkan Rasa Sakit, Tapi Juga Berbahaya untuk Kesehatan Otak

Baca Juga:  Kecerdasan Buatan Bakal Ganti Pekerjaan Manusia: Haruskah Kita Takut?

Sementara itu, Kepala Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional, Dokter Yoland, mengatakan bahwa zaman dahulu di Cina dan negara lain, ganja dikabarkan memang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit. “Beberapa penelitian pada hewan juga menunjukan itu,” kata Yoland, seperti dilansir dari Tempo.

Yoland menjelaskan, penelitian pada hewan itu menyatakan bahwa ganja bisa menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu. “Namun kenyataannya, ganja sangat berbahaya untuk kesehatan, terutama kesehatan otak,” ujarnya.

Karena alasan itulah beberapa negara termasuk Indonesia melarang penggunaan ganja untuk pengobatan. “Jadi, di Indonesia tidak menggunakan ganja untuk pengobatan. Kalau ada, itu berarti ilegal,” kata Yoland.

Di lain pihak, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Ari Fahrial Syam, mengatakan bahwa ganja memang bisa digunakan untuk obat. Namun, ia mengatakan, caranya adalah dimakan bukan dihisap. Menurutnya, penggunaan ganja sebagai obat adalah obat herbal. “Tidak bisa diukur (penggunaannya) karena itu kan herbal. Secara kepustakaan memang bisa digunakan obat,” ujarnya.

Ia menambahkan, penggunaan ganja diibaratkan seperti daun jambu yang dipercaya untuk mengobati sakit mencret. “Kalau sudah ada ekstraknya berarti sudah terbukti. Saya engga tahu ada tidak ganja ekstraknya yang dijual dan boleh dikonsumsi,” katanya.

Baca Juga:  Ilmuwan Sukses Mengubah Gen pada Embrio Manusia untuk Cegah Penyakit Keturunan