Opinion

Peneliti Ungkap Tabel Trigonometri Tertua yang Menjadi Sejarah Penting Matematika

[Foto: nationalgeographic.com.au]
Pada awal 1900-an, seorang Arkeolog Amerika bernama Edgar Banks menemukan sebuah tabel misterius di Irak. Kemudian, tabel tersebut dibeli oleh George Arthur Plimpton tahun 1922. Sejak saat itulah, tabel tersebut hingga kini dikenal dengan sebutan tabel Plimpton 322.

Baru-baru ini, para peneliti dari University of New South Wales menyebut bahwa benda tersebut merupakan tabel trigonometri tertua di dunia dan mungkin juga yang paling akurat di zaman kuno.

Dalam temuan yang dipublikasikan di jurnal Historia Mathematica ini, para peneliti mengungkapkan bagaimana cara menetapkan kapan tabel kuno dari tanah liat itu dibuat serta bagaimana penggunaannya.

Tabel kuno ini terdiri dari 15 baris dan 4 kolom yang saling berpotongan. Menurut peneliti University of New South Wales, tabel ini memiliki jumlah dasar 60, yang mungkin sudah digunakan orang Babilonia kuno untuk menciptakan bilangan bulat daripada pecahan.

Norman Wildberger menjelaskan, tim peneliti sudah menemukan fungsi tabel tersebut. Tabel itu ternyata digunakan untuk studi segitiga dengan temuan berdasarkan rasio, bukan sudut. Wildberger mengatakan, di bagian baris atas tabel, rasio yang relatif sama menciptakan segitiga sama sisi. Semakin ke bawah, rasio mengurangi inklinasi segitiga, menciptakan segitiga yang lebih sempit.

Baca Juga:  Alasan Ilmiah Mengapa Pria Lebih Sulit Menangis Dibandingkan Wanita

“Ini adalah mahakarya matematika yang menarik dan kejeniusannya tidak perlu diragukan lagi,” tutur peneliti University of New South Wales, Daniel Mansfield, sebagaimana dilansir dari National Geographic.


Para peneliti berspekulasi, tabel tersebut bisa digunakan untuk menyurvei medan atau mendirikan bangunan. Misalnya, untuk mengetahui tinggi dan lebar bangunan, para pendiri bangunan era kuno perlu membangun lereng piramida agar menghasilkan pengukuran yang tepat.

Diperdebatkan oleh para ahli

Tabel yang kemungkinan dibuat sekitar tahun 1762 SM itu mengalami kerusakan di ujung kiri. Sisa lem yang ditemukan di sisi artefak tersebut menunjukkan bahwa kerusakan baru saja terjadi. Lalu, tim menilik penelitian sebelumnya pada Plimpton 322, dan berspekulasi bahwa tabel tersebut awalnya terdiri dari 6 kolom dan 38 baris.

Duncan Melville, seorang profesor matematika di St. Lawrence University yang mengkhususkan diri pada matematika Mesopotamia berkata, “Terlepas dari judul kolom, tabel itu hanya terdiri dari kolom angka. Ini mengundang banyak spekulasi matematika murni,” ujar Melville.

Melville menyatakan, hasil penelitian ini memberikan pemahaman ulang tentang trigonometri. Namun, Wildberger—yang sebelumnya pernah memperdebatkan teori trigonometri baru—berpendapat bahwa tabel tersebut justru memberikan pemahaman baru mengenai peran besar orang Babilonia kuno.

Baca Juga:  Pasca Status Planet Pluto Dicabut, Kini Astronom Gencar Berburu Planet Baru

Profesor matematika di Texas A & M University, Donald Allen, juga merasa ragu Plimpton 322 digunakan untuk trigonometri.

“Ini sudah tua dan akurat. Namun, interpretasinya sebagai tabel trigonometri hanya dugaan karena ada bagian yang rusak. Dan bagian yang rusak tersebut tidak pernah ditemukan, sehingga tidak mampu melengkapi sejarah yang hilang,” katanya.

Allen mencatat, temuan terpenting dari tabel tersebut adalah bukti Pythagoras rangkap tiga. Itu menunjukkan bahwa orang Babilonia sepertinya menyadari teorema Pythagoras, beberapa tahun sebelum ditemukannya Pythagoras.

Wildberger mengatakan, jika studi University of New South Wales menunjukkan bagaimana tabel tersebut digunakan untuk memecahkan persoalan terkait persamaan segitiga, maka hanya konteks historis spekulatif yang bisa menentukan dengan tepat bagaimana tabel tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Allen dan Melville pun dengan kompak mengatakan bahwa jika orang Babilonia adalah pencetus trigonometri, maka efisiensi dan ketepatan trigonometri ditingkatkan secara drastis oleh orang-orang Yunani hampir seribu tahun setelahnya.

Lalu, Allen juga mencatat bahwa pada zaman kuno, matematikawan sangat beragam dan saling berkaitan. Inilah yang membuat para peneliti sulit untuk melacak asal-usul mereka.

Baca Juga:  Riset: Gender Tentukan Cara Orangtua dalam Memperlakukan Buah Hati