News

Penelitian: Racun Laba-Laba Bisa Membantu Lindungi Otak Pasca Stroke

[Foto: bbc.com]
Baru-baru ini, para peneliti dari Universitas Monash dan Universitas Queensland berhasil menemukan metode pengobatan baru untuk penderita stroke. Sebelumnya, mereka bepergian ke Pulau Fraser di Australia untuk berburu dan menangkap tiga laba-laba jaring corong Australia yang mematikan.

Profesor Glenn King, pemimpin penelitian ini mengatakan bahwa mereka secara teratur mengumpulkan laba-laba itu dari Pulau Fraser di lepas pantai selatan Queensland.

“Alasannya adalah bahwa laba-laba itu menggali liang sedalam 20-30 cm. Dengan demikian, menggali mereka dari tanah liat keras sangat sulit. Pulau Fraser adalah pulau pasir yang membuatnya mudah bagi kami untuk menarik laba-laba dari liang mereka,” ungkap King, seperti dilansir dari BBC.

Setelah mendapatkan laba-laba, mereka membedah hewan tersebut di laboratorium. Hasilnya, sebuah protein dalam racun laba-laba ternyata bisa membantu melindungi otak dari cedera setelah stroke.

Para ilmuwan menemukan dosis tunggal dari protein Hi1a tersebut bekerja pada tikus laboratorium. Ketika tikus yang stroke diberikan protein racun laba-laba, kerusakan otaknya berkurang hingga 65 persen dibanding tikus stroke lain yang tidak mendapat protein racun.

Baca Juga:  Aplikasi Fidget Spinner Menjadi yang Paling Sering Diunduh di iOS

Di laboratorium, para peneliti menguras laba-laba dengan cara membujuk hewan tersebut untuk melepaskan racun, yang kemudian disedot menggunakan pipet. Berikutnya, para ilmuwan membedah kelenjar racun dari laba-laba dan mengambil sebuah protein dalam racun itu untuk menciptakan kembali versi mereka di laboratorium. Mereka kemudian menyuntikkan Hi1a ini ke tikus laboratorium.


Para peneliti menemukan bahwa protein itu memblokir acid-sensing ion channels (ASIC) di otak, sesuatu yang menurut para peneliti merupakan pendorong utama dari kerusakan otak setelah stroke. “Kami percaya bahwa kami telah, untuk pertama kalinya, menemukan cara untuk meminimalkan efek dari kerusakan otak setelah stroke,” kata King.

“Bahkan, Hi1a memberikan beberapa perlindungan untuk wilayah otak inti yang paling terpengaruh oleh kekurangan oksigen, yang umumnya dianggap tidak terpulihkan karena kematian sel yang cepat yang disebabkan oleh stroke.”

Penelitian ini diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences. Mereka mengatakan, protein itu memberikan janji besar sebagai pengobatan stroke di masa depan. Namun, belum diuji dalam percobaan manusia.

Baca Juga:  Ubah Tentaranya Jadi Manusia Super, Militer Rusia Kembangkan Eksoskeleton

Sementara itu, Asosiasi Stroke mengatakan bahwa penelitian itu pada tahap awal. Namun, mereka akan menyambut setiap pengobatan yang memiliki potensi untuk mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh stroke.

Pengobatan Disesuaikan dengan Area Otak Mana yang Terkena Stroke

Stroke merupakan serangan yang terjadi akibat adanya penyumbatan atau pendarahan di otak. Sehingga area tertentu menjadi tidak mendapat asupan nutrisi dan oksigen. Jika terlambat ditangani, maka stroke dapat menyebabkan kematian.

Pada pasien yang selamat, sebagian besar juga akan mengalami bentuk kecacatan permanen akibat kerusakan yang sudah terjadi pada otak. Oleh karena itu, kecepatan dalam penanganan adalah kunci. Karena semakin cepat penderita ditangani, kerusakan yang terjadi pun semakin kecil bahkan kematian bisa dihindari.

Setiap tahunnya, sebanyak 6 juta orang di dunia terkena stroke. Dan 5 juta pasien mengalami cacat permanen. Di zaman modern ini pun, berbagai pengobatan sudah dijual baik menggunakan teknologi canggih, tradisional, maupun yang ekstrem.

Pengobatannya juga disesuaikan pada area otak mana stroke terjadi. Umumnya, stroke diobati dengan obat-obatan, termasuk obat pencegahan untuk menurunkan tekanan darah, menurunkan tingkat kolesterol, dan menghilangkan pembekuan darah.

Baca Juga:  Bakteri Ini Mampu Mengurai Plastik Hanya dalam 6 Minggu

Dalam beberapa kasus, operasi diperlukan untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh stroke hemoragik atau menghilangkan lemak di arteri.

Semoga penemuan ini bisa menjadi salah satu pengobatan alternatif bagi penderita stroke ke depannya.