News

Penelitian Ungkap Bahwa Sapi Bisa Bantu Melawan Virus HIV

[Foto: time.com]
HIV diketahui merupakan salah satu penyakit mematikan di dunia.  Hingga saat ini, virus HIV yang bermutasi secara konstan sudah menyulitkan sistem kekebalan orang yang terjangkit virus tersebut untuk mengatasinya. Bahkan, sebuah studi mengungkapkan satu alasan mengapa tubuh manusia tidak bisa melawan virus HIV.

Alasannya adalah karena pelakunya merupakan protein pada virus HIV. Saat HIV masuk ke dalam tubuh, virus tersebut menghasilkan protein bernama vpu yang langsung menyerang dan menghancurkan protein pertahanan pada sistem imun manusia.

Secara normal, protein sistem imun harus bekerja mencegah virus melakukan replikasi dan menyebar dalam tubuh. Namun, vpu tersebut mematikan tugas protein sistem imun, sehingga HIV dengan bebas menyerang manusia.

Lalu, muncul pertanyaan: Adakah obat atau penawar yang bisa melawan virus HIV? Baru-baru ini, para peneliti dibuat terkejut dengan penemuan bahwa hewan sapi bisa membantu dalam melawan virus mematikan HIV. Dalam penelitian gabungan tersebut, peneliti menemukan bahwa sapi memiliki kemampuan cepat dalam mengembangkan antibodi yang potensial melawan HIV.

Baca Juga:  Ternyata Mengisi Baterai Smartphone di Tempat Pengisian Umum Bisa Menimbulkan Bahaya

Hasil temuan dari gabungan tim International AIDS Vaccine Initiative, Scripps Research Institute Amerika Serikat dan Texas A&M University Amerika Serikat ini membuat alternatif yang lebih baik dalam melawan HIV. Sebab, selama ini antibodi untuk melawan HIV kurang efektif.

Dalam mengembangkan vaksin pelawan HIV, salah satu kendala besar bagi peneliti adalah pengidap HIV tidak efisien dalam membuat antibodi melawan virus tersebut. Ilmuwan memperkirakan, hanya 20 persen pengidap HIV yang mampu memproduksi broadly neutralizing antibodies (bNAbs).


bNAbs adalah antibodi yang terjadi secara natural pada pengidap HIV. Antibodi ini bisa mempertahankan sel dalam melawan virus HIV. Namun sayangnya, produksi antibodi ini mulai muncul dua tahun setelah seorang terinfeksi HIV.

Oleh sebab itu, peneliti sangat mensyukuri atas temuan tidak terduga pada sapi yang membantu melawan HIV. “Saya terkejut. Temuan ini benar-benar gila dan sangat menarik. Respons yang dikembangkan (sapi) sangat cepat, antara satu sampai dua bulan. Ini melebihi apa yang kami antisipasi,” ujar Devin Sok, Direktur Pengembangan dan Penemuan Antibodi IAVI, seperti dilansir dari Time.

Baca Juga:  Hasil Riset Ini Bisa Ketahui Seseorang Sedang Depresi Hanya Lewat Foto Instagram

Dalam penelitiannya, tim peneliti mampu menumbuhkan antibodi potensial di dalam sapi untuk melawan HIV. Meski sapi tidak terinfeksi HIV, tetapi hewan ini memiliki sistem kekebalan yang memproduksi antibodi unik melawan infeksi HIV.

Sebagai percobaan, tim menyuntikkan empat sapi dengan imunogen HIV, protein yang dirancang menghasilkan respons kekebalan terhadap HIV. Setelah itu, tim menemukan bahwa sapi dengan cepat mengembangkan bNAbs terhadap HIV pada darah hewan tersebut.

Peneliti mampu mengisolasi antibodi dari sapi dan mengamatinya lebih dekat. Ternyata, sebuah antibodi yang disebut NC-Cow 1 memiliki kemampuan khusus dalam melawan HIV.

“Wawasan baru yang kami dapatkan dari studi ini adalah pemahaman mekanisme, yang mana sistem kekebalan sapi mampu menciptakan antibodi tersebut,” ujar Anthony Fauci ,Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID). NIAID adalah badan yang mendukung riset baru tersebut.

Hasil penelitian mereka yang dipublikasi di jurnal Nature itu menunjukkan bahwa antibodi sapi bisa menetralisir 96 persen virus HIV. Pengujian itu dilakukan dalam 381 hari di laboratorium.

Baca Juga:  Gara-Gara Mengkoreksi Siswa Yang Salah Eja di Twitter, Seorang Staf di Sekolah Negeri Dipecat

Temuan ini menjadi jalan baru bagi para peneliti untuk mengembangkan vaksin. Setidaknya, manusia bisa meniru pola kekebalan yang dimiliki sapi. Selain itu, penelitian ini juga memberikan wawasan baru tentang bagaimana mengembangkan terapi atau perawatan baru untuk virus mematikan.

Sementara itu, National Institutes of Health Amerika Serikat menggambarkan penemuan tersebut sebagai ‘kepentingan yang besar’.