Home  »  News   »  
News

Penemuan Baru: Pengobatan Kanker Bisa Melalui Teknologi Terapi Suara

[Foto: gephardtdaily.com]
Saat ini, kecanggihan teknologi hampir merambah di hampir semua bidang. Tak terkecuali dalam bidang kesehatan. Tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini banyak membawa angin segar bagi para pejuang kanker.

Seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh tim penelitian multi-lembaga asal Cina. Mereka melakukan sebuah terobosan baru dalam teknologi terapi high-intensity focused ultrasound (HIFU), dimana teknologi ini telah terbukti penggunaannya sebagai pengobatan kanker yang efektif.

Tim peneliti mengembangkan sebuah rongga transduser bola semi-tertutup yang bisa menghasilkan medan gelombang-berdiri (standing-wave), yang fokus dengan wilayah fokal panjang gelombang menengah dan intensitas ultrasound sangat tinggi.

Rongga transduser bola muncul untuk menghasilkan daerah terpusat dan amplitudo tekanan yang lebih besar dibandingkan dengan transduser tradisional berbentuk bola cekung.

Para peneliti mengatakan, tingkat intensitas yang dihasilkan oleh desain transduser baru bisa menyebabkan perbaikan yang signifikan dalam terapi HIFU. Penemuan ini dipublikasikan dalam Journal of Applied Physics.

HIFU merupakan pengobatan target non-invasif (tanpa pembedahan) yang menggunakan gelombang suara untuk membasmi sel-sel kanker. HIFU menggunakan transduser ultrasonik untuk mengubah sinyal listrik menjadi gelombang suara. Lalu, mengumpulkan suara ultra itu dan memusatkan pada area sempit untuk menaikkan suhu lebih dari 65 derajat Celcius.

Baca Juga:  Kamera Bawaan iPhone Kabarnya Akan Mendukung Augmented Reality

Akibatnya, tanpa menimbulkan kerusakan pada jaringan sekitarnya, sel-sel kanker bisa dimusnahkan. Teknik ini bekerja dengan cara yang sama seperti memfokuskan sinar matahari melalui lensa, yang membantu menghilangkan sel-sel penyebab penyakit.


Oleh karena itu, HIFU bisa digunakan sebagai alternatif untuk pengobatan kanker tradisional seperti kemoterapi dan pembedahan. Terapi HIFU terbukti menjadi pengobatan kanker yang sangat efektif dalam berbagai penelitian dan uji klinis.

Sebagai contoh, para peneliti di University College Hospital di London meneliti 625 pria dengan kanker prostat. Mereka menemukan bahwa 93 persen pasien yang menjalani HIFU saja bisa terbebas dari kanker setelah lima tahun menjalani pengobatan, tanpa memerlukan pembedahan atau radioterapi.

Data juga menunjukkan bahwa hanya satu hingga dua persen dari pasien yang memiliki pengobatan HIFU menderita inkontinensia urin jangka panjang, dibandingkan 10 hingga 20 persen pasien yang menjalani operasi. Selain itu, hanya 15 persen dari pasien dalam kelompok HIFU yang mengalami disfungsi ereksi, dibandingkan 30 sampai 60 persen pada pasien bedah.

Baca Juga:  Apple Akhirnya Rilis Aplikasi Kesehatan Berbasis CareKit

“Hasil penelitian ini mengesankan dan berpotensi mengubah pengobatan kanker prostat bagi banyak orang di masa depan. Teknologi ini sangat menarik dan hasilnya menunjukkan bahwa pada pria yang didiagnosis secara dini dengan tes darah prostate-specific antigen (PSA), terapi target ini bisa seefektif pembedahan untuk mengangkat seluruh kelenjar prostat atau radioterapi dan memiliki efek samping yang lebih sedikit,” kata rekan penulis penelitian Tim Dudderidge.

Penemuan ini dipresentasikan pada pertemuan tahunan Asosiasi Eropa Urologi di Munich, Jerman.

Selain itu, sebuah uji klinis di Inggris yang didanai oleh Medical Research Council juga menemukan bahwa 95 persen pasien yang menjalani terapi HIFU untuk kanker prostat bisa terbebas dari kanker setelah 12 bulan perawatan. Para peneliti juga menemukan bahwa tidak ada responden yang menderita inkontinensia urine selama masa tindak lanjut.

Di belahan bumi lain, para peneliti di University of Alberta di Kanada juga mengembangkan teknik baru yang menggunakan gelombang suara terfokus untuk mengaktifkan partikel-partikel kecil yang dikenal sebagai Nanodroplets. Menurut para peneliti, teknik baru ini seakurat teknik yang menggunakan jarum dalam biopsi. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Cancer Research.

Baca Juga:  Kaspar, Robot Sosial yang Bantu Anak Autisme Agar Mudah Berinteraksi