News

Perangi Hoax, Facebook Mulai Pasang Label “Disputed” pada Setiap Berita yang Diragukan

[Foto: businessinsider.com]
Hingga saat ini, Facebook memang masih belum bisa seratus persen membasmi hoax atau berita bohong di layanan News Feed-nya. Namun kali ini, tampaknya mereka sudah mengambil langkah tepat. Raksasa media sosial ini memberi peringatan pada setiap berita yang belum jelas kebenarannya.

Bentuk peringatan tersebut berupa label bertuliskan “disputed”. Pemilihan kata “disputed” merupakan cara Facebook untuk menunjukkan kehati-hatiannya dalam menghadapi suatu persoalan. Langkah ini adalah bentuk nyata dari janji Facebook di bulan Desember tahun lalu dan bagian dari upaya serius Facebook dalam memerangi berita bohong yang meresahkan.

Dalam bahasa Indonesia, kata “disputed” bisa diartikan sebagai ‘dapat diperdebatkan’. Artinya, berita yang mendapat tanda ini adalah berita yang masih perlu dilakukan pengecekan ulang soal kebenaran informasinya.

Nantinya, label “disputed” akan dipasang pada postingan secara individual. Label tersebut tidak akan dipasang pada akun pengunggah secara keseluruhan. Dilansir dari Recode, label tersebut akan diikuti dengan sebuah tautan menuju situs pencari fakta yang menjelaskan menganai alasan mengapa berita tersebut dianggap bohong.

Baca Juga:  Menjelang Puasa, Fave Indonesia Tawarkan Diskon Ekstra untuk Pengguna Paket XL Xtra Combo

Berikut ini salah satu contoh tanda “disputed” dalam sebuah cerita rekaan The Seattle Tribune yang diberi judul “Ponsel Android Trump Diyakini Sebagai Sumber Kebocoran Informasi di Gedung Putih”. Selain mulai memasang tanda “disputed” karena ada artikel yang mengandung informasi palsu, Facebook juga mengungkap tata cara pemasangan tanda tersebut. Terdapat tiga bagian tata cara.


Pertama, sebelum memberi tanda peringatan, Facebook akan terlebih dulu memindai laporan pengguna mengenai berita terkait. Atau mereka menggunakan sistem buatannya untuk mencari tahu keanehan dalam kandungan berita.

Kedua, Facebook akan mengirim berita yang dinilai aneh itu ke organisasi pencari fakta yang menjadi rekan mereka. Misalnya, organisasi bernama Snopes atau Politifact. Para organisasi pencari fakta ini bergabung di bawah organisasi jurnalis non-profit, yakni Poynter. Total anggotanya ada 42, tetapi Facebook baru aktif menggunakan jasa dari 4 di antaranya, yakni Snopes, Factcheck.org, ABC News, dan PolitiFact.

Ketiga, jika kedua metode pencarian fakta di atas berhasil menemukan kepalsuan informasi dalam berita, maka Facebook akan langsung memasang label “disputed”.  Jika tidak menemukan kepalsuan, maka berita akan tampil seperti biasa.

Baca Juga:  Robot Humanoid Asal Jepang, Pepper, Mulai Dijual di Taiwan

Sebagai informasi, pada praktiknya, berita The Seattle Tribue yang menjadi contoh itu sempat beredar tanpa label. Berita mengenai Donald Trump itu diunggah pada Minggu, 26 Februari 2017 dan beredar tanpa label “disputed” selama beberapa hari. Akhirnya pada Kamis (2/3/2017), Snopes baru menyatakan bahwa berita itu palsu dan Politifact mengeluarkan pernyataan serupa pada hari berikutnya.

Setelah kedua organisasi pencari fakta itu mengeluarkan pernyataan soal kepalsuan berita The Seattle Tribune, Facebook baru menempelkan label “disputed”.

Memang, penerapan sistem label ini masih belum sepenuhnya ideal. Posting yang telah dilabeli tetap beredar, sementara isi label sendiri hanya menyebutkan bahwa kebenaran isinya ‘diragukan’, bukan dengan tegas menyatakan bahwa konten tersebut merupakan hoax. Untuk saat ini, belum diketahui kapan fitur tersebut bakal bisa diterapkan di sejagat Facebook.

Dalam konteks memerangi penyebaran hoax, langkah ini jelas sebuah kemajuan. Namun kenyataannya, proses yang dibutuhkan tidak semudah yang dibayangkan. Bahkan, ada yang cenderung lambat sehingga dikhawatirkan gagal mencegah meluasnya penyebaran hoax. Sebaliknya, hoax malah berjalan sangat cepat.

Baca Juga:  Facebook Berencana Berikan Layanan Internet Gratis di Amerika Serikat

Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita sebagai pengguna media sosial baik itu Facebook, Twitter, dan lainnya, tetap menyaring diri sendiri terhadap berita yang diragukan informasi kebenarannya.