Home  »  Tips & Guide   »  
Tips & Guide

Perencanaan Keuangan Bagi yang Akan Menikah atau Keluarga Muda

Mengatur Keuangan untuk yang Mau Nikah atau Baru Menikah
[Foto: Pexels.com | @ketut-subiyanto]
Perencanaan keuangan adalah salah satu hal yang harus Anda diskusikan dengan calon pasangan Anda sebelum menikah. Terdengar sepele, tapi kenyataannya pengelolaan keuangan sering menjadi masalah di dalam keluarga. Untuk dapat merencanakan keuangan yang sehat, maka setiap pasangan harus terbuka mengenai penghasilan, asset, dan utang.

Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan dalam merencanakan keuangan buat keluarga muda.

Review dan Perbaiki Kesalahan dalam Pengelolaan Keuangan Anda

Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah me-review  pengelolaan keuangan Anda selama ini. Apa saja yang sudah Anda beli, berapa nilainya saat ini? Catat dan hitung semua tabungan, nilai aset riil (logam mulia, tanah, rumah, apartemen), dan aset finansial (deposito, reksadana, obligasi, saham) yang Anda miliki. Lakukan juga pengecekan dan pencatatan terhadap polis asuransi yang aktif dan perhatikan tingkat proteksi dari asuransi yang Anda miliki apakah masih memadai atau tidak.

Coba review kesalahan dalam pengelolaan keuangan Anda di masa lalu. Defisit? Terlalu banyak utang konsumtif? Belajarlah dari kesalahan masa lalu dan perbaiki cara Anda merencanakan dan mengelola keuangan di tahun ini.

Baca Juga:  Ini Dia 10 Selebgram (Selebriti Instagram) Indonesia Terpopuler Saat Ini

 

Tentukan Daftar Tujuan Keuangan

Tujuan keuangan harus dibikin konkrit, spesifik, dan detail serta dilengkapi dengan estimasi biaya yang diperlukan dan jangka waktu yang jelas untuk mencapai tujuan tersebut.

Susun dan kelompokkan daftar tujuan tersebut berdasarkan jangka waktu dari yang terdekat hingga yang terjauh.  Umumnya tujuan keuangan dibagi 3 kategori berdasarkan waktunya:

  1. Tujuan jangka pendek (kurang dari 1 tahun): melunasi tagihan kartu kredit atau membayar utang yang nilainya kecil, mengumpulkan dana darurat, dll.
  2. Tujuan jangka menengah (1- 5 tahun): membeli rumah, liburan ke negara impian, dll.
  3. Tujuan jangka panjang (lebih dari 5 tahun): biaya kuliah anak, persiapan dana pensiun, dll.

Berikut contoh daftar tujuan keuangan yang dilengkapi dengan nominal dan dikelompokkan berdasarkan jangka waktu. Contoh: Seorang laki-laki, usia 30 tahun, baru menikah dan belum memiliki anak. Angka di bawah ini hanyalah ilustrasi.


Dengan menentukan jangka waktu akan memudahkan Anda untuk menentukan langkah untuk mencapainya, memperhitungkan berapa dana yang harus Anda investasikan dan sampai kapan harus dikumpulkan. Dengan begitu, Anda dapat menentukan instrumen investasi yang tepat agar dapat mewujudkan tujuan keuangan Anda tersebut.

Baca Juga:  5 Cara Praktis Meraih Customer Bagi Startup

 

Tentukan Skala Prioritas

Anda tidak mungkin bisa memenuhi semua kebutuhan atau mendapatkan semua keinginan Anda dalam waktu dekat secara bersamaan.  Oleh karena itu, Anda harus menentukan tujuan yang menjadi prioritas utama dan penting buat Anda dan keluarga. Anda mungkin harus menunda dulu keinginan untuk berlibur ke luar negeri, karena harus fokus mengumpulkan uang muka rumah. Dengan menentukan skala prioritas, Anda akan bisa memprioritaskan tujuan keuangan utama dan mengeleminasi tujuan yang kurang atau mungkin sebenarnya tidak penting. 

 

Mengelola Keuangan Agar Tidak Defisit

Penghasilan besar tidak menjamin seseorang bebas dari masalah keuangan  dan bisa menginvestasikan lebih banyak uang. Saya mengenal beberapa orang yang penghasilannya sangat mencukupi tapi pengeluarannya jauh lebih besar dari pemasukan, sehingga mengalami defisit. Jangan sampai hal itu terjadi pada Anda. Buat rincian anggaran pengeluaran dan pastikan bahwa pengeluaran Anda lebih kecil dari pemasukan. Jika memang pengeluaran tetap lebih tinggi dari pemasukan berarti Anda harus melakukan penyesuaian yaitu melakukan pengurangan baik itu secara nominal maupun frekuensi, subsitusi atau downgrade, dan penghapusan pengeluaran yang tidak perlu.

 

Kurangi Utang Konsumtif

Saya tidak bosan-bosannya mengingatkan Anda untuk mengontrol diri dan membiasakan untuk membeli barang konsumtif secara tunai. Nilai barang konsumtif itu cenderung menurun, sehingga ketika Anda membeli barang secara kredit Anda harus membayar harga yang lebih mahal dan ada kemungkinan terkena denda jika telat membayar tagihan. Jika membeli barang konsumtif dengan berhutang, bisa jadi sebenarnya memang Anda belum layak memiliki barang tersebut.

Baca Juga:  Waspada SIM Swap, Kejahatan yang Bisa Membobol Rekening Bank Anda Melalui Kartu SIM

 

Pastikan Anda Sudah Memiliki Dana Darurat

Apakah Anda sudah memiliki dana darurat? Jika belum, pastikan itu menjadi salah satu prioritas keuangan Anda dalam waktu dekat. Dana darurat sangat diperlukan untuk mengantisipasi keadaan yang terjadi di luar kendali Anda. Besar dana darurat minimal 6 kali pengeluaran bulanan minimum Anda. Lebih baik lagi jika besarnya 12 kali pengeluaran minimum Anda.

 

Review dan Evaluasi Pertumbuhan Investasi

Anda harus melakukan review terhadap pertumbuhan investasi Anda apakah performance nya naik, stagnan, atau malah menurun? Anda mungkin perlu untuk pindah ke produk lain atau diversifikasi pada instrumen keuangan lainnya. Pilihlah instrumen investasi yang sesuai dengan profil Anda. Pastikan Anda memahami produk investasi yang Anda beli.

Selamat merencanakan dan mengelola keuangan keluarga Anda, semoga tahun ini keuangan Anda semakin membaik!