News

Pertama Kali dalam Sepakbola, Timnas Jerman Gunakan VR dalam Latihan

[Foto: Flickr/l3o_]
Liga Futbol Nasional Amerika Serikat (NFL) telah menjadi percontohan liga olahraga yang menggunakan teknologi virtual reality (VR) dalam latihannya. Semua orang mulai dari Dallas Cowboys, yang mulai menggunakan teknologi ini pada tahun 2015, lalu quarterback Arizona Cardinals Carson Palmer telah menganut gagasan untuk berlatih di ruang 3D ini. Begitu juga dengan klub bola baskel NBA Washington Wizards, klub hoki NHL Chicago Blackhawks, dan yang terakhir, asosiasi Walmart.

Saat ini STRIVR Labs—yang memproklamirkan diri sendiri dalam melatih atlet dengan menggunakan realitas maya—mulai merambah ke sepak bola Eropa, dan Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) adalah pihak pertama yang mengambil langkah besar menuju dunia baru yang berani ini.

Mengingat Jerman adalah juara bertahan Piala Dunia, dan memiliki reputasi untuk berpikir ke depan ketika harus menggunakan teknologi untuk menjadikan tim nasional yang lebih baik, sepertinya menggunakan VR sebagai bagian dari latihan adalah pilihan yang sempurna.

“Kami baru saja mengenal virtual reality. Hal ini masih merupakan ruang yang belum terdefinisi dalam dunia sepak bola, tapi kami ingin menjadi pionir,” kata Nicolas Jungkind, kepala lab teknologi bersama DFB. “Di sisi akademi, fokus terbesar kami untuk tahun 2017 dan memasuki tahun 2018 adalah kognisi. Virtual reality menyentuh memberi peluang untuk mewujudkan apa yang ingin kami capai.”

DFB berdiri dengan tujuan tertentu. Seperti kata Jungkind, DFB ingin memulai dari awal dan berpikir maju. Dia mengerti akan ada banyak trial and error, karena ketika berbicara tentang penggunaan teknologi VR, futbol Amerika sangat berbeda dari sepakbola Jerman.

Baca Juga:  10 Hal yang Menggambarkan Betapa Minimnya Penggunaan Teknologi di Korea Utara

Perbedaan mencoloknya adalah, setiap permainan di lapangan futbol dimulai dari keadaan berhenti. Satu tim berdiri di satu sisi garis pergulatan. Garis lawan ada di sisi lain. Lalu, bola dilempar, dan permainan dimulai. Memulai dan keadaan statis semacam itu memudahkan melatih quarterback dengan VR, karena ada awal dan akhir yang jelas.

Namun sepakbola adalah permainan yang terus bergerak, membuatnya menjadi pengalaman yang sama sekali berbeda dan yang berpotensi lebih sulit ditangkap dengan VR.

“(Sepakbola) ini sangat dinamis,” kata Derek Belch, CEO dan salah satu pendiri STRIVR. “Ada banyak ruang di antara orang-orang. Ada banyak tantangan yang terkait dengannya. Segalanya adalah tentang waktu bereaksi. Tentang kognisi. Saat ini, mereka tahu ada delapan hal yang berbeda yang bisa dilihat oleh seorang gelandang tengah dalam setahun. Bagaimana kita memasukkannya ke dalam VR? Bagaimana kita membuat imitasi dari hal tersebut?”


Untuk saat ini, DFB menggunakan VR untuk memikirkan bagaimana penjaga gawang dapat memperbaiki permainan mereka, terutama saat harus mengantisipasi penalti, tendangan bebas, atau tendangan sudut. Anggap saja begini: Kiper bisa menggunakan VR untuk menganalisa bagaimana lawan akan melakukan tendangan penalti. Berapa banyak langkah yang diambil pemain dari titik awalnya saat dia benar-benar menendang bola? Seberapa dinamis pendekatannya? Apakah dia mulai dan berhenti, atau apakah dia melakukan tendangannya dalam satu gerakan? Apakah dia membuka tubuhnya sebelum dia melakukan kontak dengan bola? Apakah dia akan melakukan pengalihan konsentrasi sebelum menendang bola ke satu arah?

Baca Juga:  Dicurigai Jadi Target Peretas, 465.000 Alat Pacu Jantung Ditarik dari Peredaran

Penggunaan VR dalam sepakbola juga tentang visualisasi dan pengulangan. Seorang pemain yang sedang melakukan tendangan bebas bisa menyaksikan dirinya dalam versi VR, menembak bola di sekitar tembok pertahanan dan di bawah mistar gawang untuk mencetak gol yang keren dari waktu ke waktu. Pemain tersebut bisa membelokkan arah bola seperti Beckham dengan sempurna pada setiap upayanya. Bagi timnas Jerman, hal itu memberi mereka keuntungan yang nyata.

“Seperti apa momen pengambilan keputusan yang sangat terbatas itu?” Kata Belch. “Waktunya hanya sepersekian detik (untuk mengambil keputusan). (Kita harus memikirkan) apa saja hal yang bisa kita integrasikan ke dalam VR untuk membantu pemain membuat keputusan terbaik saat pertandingan dimulai, sehingga mereka bisa bereaksi otomatis, tanpa harus berpikir dua kali?”

Namun tidak seperti hambatan yang dihadapi STRIVR saat tim NFL melontarkan alasan mengapa mereka harus menggunakan VR, ada sedikit mentalitas kuno dalam dunia sepak bola yang mungkin menghambat penggunaan teknologi baru semacam ini.

“Kami punya pelatih yang ‘kuno’ di sepak bola, hal itu tidak perlu dipertanyakan lagi,” kata Jungkind. “Tapi sekarang setelah kami memiliki banyak pelatih muda yang mencapai tingkat tertinggi, kami sudah melihat pergeseran menuju keterbukaan terhadap teknologi dan melakukan berbagai hal secara berbeda. Kami ingin menjadi penggerak pertama di bidang strategis semacam ini. Itulah ambisi kami.”

Baca Juga:  Bertekad Tingkatkan Sisi Teknis, LINE Kumpulkan 500 Teknisi dari Seluruh Dunia di Seoul

Bukan hanya dengan tim nasional Jerman yang berlaga di turnamen internasional dan akan tampil mempertahankan gelar Piala Dunia tahun depan di Rusia. DFB juga ingin terus memperbaiki tim klub di Bundesliga, liga pro Jerman yang merupakan salah satu liga sepakbola terbaik di dunia.

Untuk saat ini, DFB tidak terlalu fokus pada timnas senior atau regu teratas di Bundesliga. Sebagai gantinya, pelatihan dengan VR dimulai dengan tim pemuda nasional, dan DFB baru-baru ini memperkenalkan gagasan pelatihan VR saat timnas di bawah 21 dan tim nasional senior bertemu di Frankfurt.

“(Para pemain) menyukainya; Mereka benar-benar melakukannya,” kata Jungkind. “Ada begitu banyak hal positif. Yang ingin mereka lakukan adalah menjadi lebih baik. Jika mereka menyadari bahwa kami berusaha membuat mereka lebih baik—bahwa mereka dipancing untuk berpikir out-of-the-box—mereka akan menghargai itu. Dua puluh tahun yang lalu, Anda akan duduk di dalam ruangan selama dua jam dan menonton rekaman video pertandingan (untuk mempelajarinya).”