Home  »  News   »  
News

Perusahaan Swedia Tanamkan Microchip di Tubuh Karyawan untuk Pantau Mereka Setiap Saat

Ilustrasi [Foto: Shutterstock]
Sebagai karyawan, bagaimana rasanya jika perusahaan tempat Anda bekerja melekatkan microchip untuk melacak kemana saja Anda pergi setiap waktu? Mungkin sangat tak nyaman dan rasanya seperti ada seseorang yang selalu menguntit Anda. Namun hal ini telah menjadi sebuah kebijakan di sebuah perusahaan asal Swedia.

Epicenter, perusahaan teknologi yang berbasis di Stockholm, Swedia, telah menanamkan 150 microchip seukuran biji beras kepada 150 karyawannya. Microchip tersebut dimasukkan ke dalam tubuh karyawan dengan menggunakan jarum suntik, melalui lengan. Namun semua karyawan yang terlibat dalam program ini diklaim telah bersedia dengan sukarela untuk “ditempeli” microchip.

Dengan adanya microchip tersebut, karyawan bisa melakukan berbagai hal dengan mudah, seperti membuka pintu akses ke kantor, mengoperasikan mesin fotokopi, dan ke depannya, diharapkan bisa menjadi alat pembayaran virtual untuk digunakan untuk memesan kopi di kafe kantor.

Co-founder dan CEO perusahaan tersebut, Patrick Mesterson, menggap microchip tersebut sebagai pengganti kartu pass masuk atau password, untuk “memudahkan hidup Anda.”

“(Microchip) tersebut pada dasarnya menggantikan berbagai berbagai hal yang biasa digunakan, seperti kartu kredit, kunci, dan hal-hal semacam itu,” katanya kepada ABC.

Namun pakar manajemen sumber daya manusia dan direktur HR Staff n’ Stuff Deborah Peppard berpikir ide menanamkan microchip itu “mengerikan” dan mempertanyakan apakah perlu mencari alternatif bagi kartu pass yang ada saat ini.

“Jika seorang karyawan tak mampu membawa satu kartu saja, bayangkan betapa malasnya generasi zaman sekarang? Apakah otak kita sudah begitu tumpul hingga tak mampu mengingat password kita sendiri?” katanya kepada SmartCompany. “Mengandalkan teknologi bukan berarti kita mengorbankan kekuatan otak kita.”


Namun Sandra Haglof, karyawan yang bekerja untuk perusahaan event organizer yang berbasis di Stockholm, Eventomatic, mengatakan ia ingin ditanami chip semacam itu, karena dia ingin menjadi “bagian dari masa depan”.

“Saya biasanya kehilangan banyak hal seperti kunci saya … jadi ini akan memberikan akses dan membantu saya lebih banyak,” katanya.

Masing-masing orang boleh setuju atau tidak mengenai penanaman microchip di tubuh karyawan, namun apakah penggunaannya benar-benar sesuai dengan norma di dunia kerja?

Ahli mikrobiologi asal Swedia Ben Libberton dari Karolinska Institute menungkapkan, penanaman microchip di tubuh karyawan memungkinkan perusahaan mengakses data-data pribadi tentang karyawan, termasuk informasi kesehatan, keuangan, dan lain sebagainya.

“Pada dasarnya, mereka bisa mendapatkan data dengan kesehatan Anda, melihat kemana saja Anda pergi, seberapa sering Anda bekerja, berapa lama waktu Anda bekerja, mereka akan mengetahui jika Anda pergi ke toilet atau beristirahat, dan hal-hal semacam itu,” katanya.

Peppard menyatakan pendapatnya, bahwa perusahaan yang mendukung pemonitoran karyawan hingga tahap se-eksrem itu harus “melihat dan memikirkan dengan keras” mengenai budaya kerja mereka.

“Tak ada yang berhak mendapatkan informasi pribadi sebanyak itu mengenai seseorang, apalagi dengan adanya kemungkinan informasi tersebut bisa bocor dan menyebar ke seluruh dunia,” katanya. “Ide yang mengatakan karyawan perlu selalu dipantau menggunakan microchip sangat mengerikan. Beberapa orang berpikir itulah masa depan, namun kami tak ingin tempat kerja kami menjadi seperti itu.”

Menurut Peppard, beberapa perusahaan memang sudah menerapkan metode “pelacakan tingkat awal” kepada karyawannya seperti melalui aplikasi mobile, yang memungkinkan para atasan mengetahui kapan karyawan datang dan meninggalkan kantor. Walaupun aplikasi semacam itu juga dilengkapi dengan pelacak GPS, Peppard masih bisa menerimanya.

“Aplikasi semacam ini menyebabkan kecemasan bagi karyawan karena mereka mengira atasan mereka dapat memantau mereka setiap saat, namun tidak demikian. Aplikasi ini hanya melacak mereka ketika datang dan absen di tempat kerja,” katanya. “Aplikasi tersebut sangat berguna, dan hanya sampai di situlah batasan teknologi yang perlu digunakan untuk ‘melacak’ karyawan.”