News

Pesawat Ulang Alik NASA yang Mengorbit Bulan Ditabrak Meteoroid

[Foto: Shutterstock]
Dalam sebuah urutan peristiwa yang sangat tidak mungkin, sebuah kamera pada pesawat ulang alik milik Badan Antariksa Amerka Serikat (NASA) tertabrak meteoroid saat mengumpulkan gambar, seperti yang ditemukan para ilmuwan baru-baru ini. Kejadian Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) tertabrak meteorit itu terjadi pada tahun 2014 lalu.

Para peneliti NASA melihat ada yang salah saat pesawat ulang alik yang mengambil foto permukaan bulan tersebut mengirim gambar aneh kembali ke Bumi. Pesawat itu berada di orbit, dan seharusnya mengambil beberapa gambar dalam satu garis untuk menyesuaikan posisi, untuk kemudian mengambil ribuan gambar kembali dalam satu garis untuk dikompilasi menjadi satu gambar penuh.

Gambar yang dihasilkan kamera di pesawat tersebut biasanya sangat rinci dan berkualitas tinggi, sehingga ketika para peneliti mendapatkan gambar yang tidak memenuhi standar dan terlihat aneh, mereka mulai mencari tahu apa yang salah. Gangguan yang terjadi pada saat pengambilan gambar bisa dilihat pada gelombang pada foto, yang terlihat lebih bergelombang di bagian tengah.

Baca Juga:  Go-Jek “Memberi Pelajaran” pada Uber Melalui Go-Pay dan Go-Points

Hasil foto kamera yang tertabrak meteoroid [Foto: NASA]
Para peneliti memperkirakan bahwa kamera tersebut telah ditabrak oleh sesuatu secara langsung, kemungkinan meteoroid, saat mengambil foto. Mereka menguji kamera di bawah kondisi turbulensi untuk memastikan agar kondisi pada saat lepas landas dan roket diluncurkan tidak akan merusaknya. Dengan menggunakan simulasi yang sama yang mereka gunakan untuk menguji kamera sebelum take-off, mereka mengujinya dengan berbagai kondisi untuk mencoba meniru foto yang mereka terima dari luar angkasa.


Apa itu meteoroid?

Meteoroid kurang lebih merupakan batuan atau besi yang bergerak melintasi ruang angkasa. Mereka lebih kecil dari asteroid dan biasanya potongan lebih kecil yang telah terpisah dari benda langit yang lebih besar. Mereka juga terkadang merupakan serpihan yang berasal dari bulan. Ketika sebuah meteoroid memasuki atmosfer bumi dan membakarnya, ia kemudian disebut meteor atau bintang jatuh. Biasanya mereka terbakar di atmosfer tapi jika tidak —dan akhirnya mendarat di Bumi— mereka disebut meteorit.

Pembagian ini membantu ilmuwan menentukan ukuran meteoroid yang menabrak kamera NASA. Mereka akhirnya menyimpulkan bahwa kemungkinan ukuran meteoroid tersebut hanya setengah kepala peniti dan melesat lebih cepat dari pada peluru.

Baca Juga:  NASA Kembangkan Perban yang Mampu Menyembuhkan Luka dengan Cepat

M]Menurut Mark Robinson, penyidik utama dalam pesawat tersebut, kejadian ini sangat langka karena pesawat tersebut hanya mengambil foto saat keadaan langit sedang terang, dan lamanya hanya sepuluh persen dari saat kamera benar-benar menangkap gambar.

Saat ini, LRO masih mengorbit di luar angkasa untuk mengumpulkan informasi dan foto, karena kejadian tersebut tidak menyebabkan kerusakan pada pesawat, atau menyebabkan gangguan apapun.

“Karena dampaknya hanyalah teknis dan keamanan instrumen, tim yang ada di pesawat sekarang hanya menyebut kejadian ini sebagai contoh menarik tentang bagaimana data teknik dapat digunakan, dengan cara yang sebelumnya tidak diantisipasi,” kata John Keller, seorang ilmuwan Proyek LRO.

Kejadian serupa pernah terjadi di tahun 2013, ketika seorang astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional mengirim tweet sebuah foto dari stasiun yang memperlihatkan sebuah lubang kecil di salah satu panel surya stasiun tersebut. “Lubang peluru” tersebut, menurut astronot Kanada Chris Hadfield, disebabkan oleh sebuah meteor kecil.

Jika perlu, ISS dapat bergerak keluar dari orbit asteroid besar. Namun memang sudah diperkirakan sebelumnya bahwa stasiun luar angkasa tersebut akan ditabrak oleh potongan-potongan kecil puing-puing ruang setiap beberapa bulan. Ilmuwan NASA juga telah melacak potongan-potongan puing yang lebih besar sehingga ISS dapat mempersiapkan atau bergerak dalam banyak waktu jika perlu.

Baca Juga:  NASA Bersiap Mengekspedisi Planet Uranus dan Neptunus pada 2030