News

Psikolog: Virtual Reality Bisa Digunakan Sebagai Terapi Trauma

[Foto: fi.edu]
Ketika membicarakan virtual reality, hal pertama yang terlintas dipikiran kita tentu adalah sebuah bentuk hiburan. Namun ternyata, manfaat teknologi tersebut bukan hanya sekadar sebagai ‘mainan’ saja. Pasalnya, virtual reality juga bisa digunakan sebagai media terapi trauma untuk korban kecelakaan di jalan.

Hal tersebut sudah dilakukan oleh psikolog di Colorado, Amerika Serikat, Dawn Jewell. Ia memanfaatkan teknologi realitas maya itu untuk menyembuhkan trauma pasiennya pasca kecelakaan mobil.

Jewell menggunakan terapi paparan dengan teknologi realitas maya untuk memandu emosi sang pasien saat menjelajahi perempatan. Usai kecelakaan, pasiennya merasa takut saat dibawa ke jalan raya. Untuk itu, Jewell mengajak sang pasien menyusuri perempatan dan jalanan secara virtual dengan teknologi tersebut, dan tidak hadir secara fisik di jalanan. Dalam menjalankan terapi itu, Jewell menggunakan perangkat kepala buatan Google, Daydream View.

Jewell merupakan pakar yang menguji layanan baru dari perusahaan rintisan Limbix. Perusahaan ini menawarkan terapi paparan. “Terapi teknologi ini memaparkan pasien dengan rasa yang aman. Kita bisa pergi ke lokasi bersama dan pasien bisa menceritakan apa yang mereka rasakan dan pikirkan,” ujar Jewell, sebagaimana dilansir dari laman Seattle Times.


Selain itu, terapi Limbix juga menyediakan terapi untuk klien yang merasa takut dengan gedung pencakar langit. Perangkat virtual reality dimanfaatkan supaya pasien bisa menjelajahi puncak gedung pencakar langit. Terapi ini diklaim juga bisa mengatasi pasien yang kecanduan alkohol. Caranya adalah dengan menjelajahi bar secara virtual bagi pasien yang bersangkutan.

Baca Juga:  Apple Kini Mulai Serius Garap Kacamata Augmented Reality

Lebih dari itu, teknologi terapi ini juga efektif untuk mengatasi gangguan stres traumatik bagi kalangan veteran. Terapi ini mengambil manfaat dengan ‘memaksa’ pasien menghadapi trauma masa lalu mereka.

Startup Limbix sudah cukup lama menyiapkan layanan terapi ini. Benjamin Lewis yang merupakan penggagas layanan ini, sebelumnya sudah bekerja pada divisi realitas maya di Google dan Facebook.

Meski perangkat keras dan lunak realitas maya terbilang masih baru, namun Limbix mengaku sudah membangun terapi realitas maya ini sejak lama. Startup tersebut sudah dua dekade melakukan penelitian dan menguji klinis seputar realitas maya serta terapi paparan.

Pada pertengahan 1980-an, uji klinis menunjukkan bahwa teknologi semacam realitas maya bisa membantu mengobati fobia dan gangguan lain, misalnya gangguan stres pasca trauma.

Terapi virtual reality diadopsi di berbagai tempat

Sebelumnya, sebuah proyek di University of Southern California juga pernah mengeksplorasi virtual reality sebagai sebuah bentuk terapi. Prosedur ini dinamai Virtual Reality Exposure Therapy. Setelah dilakukan, metode ini hasilnya cukup efektif hingga akhirnya diadopsi oleh lebih dari 60 fasilitas, termasuk basis-basis militer, pusat universitas, dan rumah sakit.

Baca Juga:  Kini Anda Bisa Jelajahi Dunia Animasi Ghibli Melalui Virtual Reality

Teknologi ini mengizinkan para terapis menciptakan kembali sebuah trauma dalam lingkungan terkontrol. Dengan menggunakan perangkat kepala virtual reality, audio direksoonal, gaya feedback serta stimuli olfactory, seorang terapis terlatih bisa membantu para pasien mengonfrontasi trauma dengan tempo mereka sendiri.

Para ilmuwan berpikir bahwa sistem ini bisa digunakan untuk menghindari trauma. Mereka bekerja untuk mengadaptasikannya ke dalam sebuah program pelatihan untuk diagnosis Traumatic Stress Disorde (PTSD) serta perlawanan stres.