Opinion

Riset: Di Media Sosial, 82 Persen Orang Benci Melihat Foto Selfie

[Foto: gizbot.com]
Selfie sudah menjadi tren di berbagai kalangan. Bagi banyak orang, tidak lengkap rasanya jika tidak mengabadikan potret diri sendiri di smartphone. Fenomena selfie sebetulnya sudah membuat heboh dunia sejak 2013.

Hasil perkiraan statistik Google menyatakan bahwa setidaknya terdapat 93 juta selfie per hari selama 2014. Hasil itupun hanya selfie yang diambil di perangkat berbasis Android.

Sejalan dengan tren tersebut, aksesori seperti tongsis (tongkat narsis) menjadi semakin lumrah. Bahkan, sejumlah vendor pun berlomba-lomba menggarap smartphone dengan ‘kekuatan’ kamera depan yang diklaim mampu memaksimalkan selfie.

Meski sudah menjadi hal umum, pendapat dan tanggapan orang-orang mengenai selfie masih beragam. Sebagian orang menganggapnya sebagai tindakan kreatif dan cara untuk berhubungan dengan orang lain. Namun, sebagian lainnya menganggap selfie sebagai gejala narsistik, promosi diri, dan kepalsuan.

Bagi para psikolog, selfie—yang merupakan fenomena budaya kontemporer—menarik untuk dikaji secara mendalam. Misalnya, apa yang mereka rasa dan pikirkan saat melakukan selfie, mengeksposnya ke berbagai media sosial, dan melihat selfie diri mereka sendiri atau orang lain di media sosial.

Baca Juga:  Berhasil Meretas Instagram, Bocah Usia 10 Tahun Ini Mendapat Rp 132 Juta

Sarah Diefenbach, profesor di Ludwig-Maximilians-Universität München, menggelar survei daring untuk menilai motif dan penilaian orang saat melakukan dan melihat selfie. Riset ini dipublikasikan di Frontiers in Psychology.

Survei tersebut melibatkan 238 orang yang tinggal di Austria, Jerman, dan Swiss sebagai responden yang terlibat penuh. 77 persen dari mereka secara teratur mengambil selfie.

“Salah satu alasan mereka melakukan selfie adalah aktivitas ini dirasa cocok bagi mereka sebagai strategi presentasi diri secara luas seperti promosi diri dan keterbukaan diri,” kata Diefenbach, sebagaimana dilansir dari Science Daily.


Menariknya, meskipun 77 persen responden melakukan selfie secara teratur, 62-67 persen lainnya menyetujui kemungkinan konsekuensi negatif dari selfie, seperti dampak terhadap citra diri.

Persepsi negatif tentang selfie ini juga digambarkan oleh 82 persen responden yang menunjukkan bahwa di media sosial, mereka lebih suka melihat jenis foto lainnya ketimbang selfie.

Selfie dianggap sebagai gangguan kejiwaan?

Seiring fenomena selfie yang kian menjamur, terdapat pemikiran ‘terganggukah kejiwaan orang-orang pelaku selfie?’. Roslina Verauli, psikolog anak, remaja, dan keluarga, mengungkapkan pendapat mengenai pemikiran tersebut. Menurutnya, terlalu dini jika selfie dianggap sebagai gangguan kejiwaan.

Baca Juga:  5 Games Seru yang Bisa Kamu Mainkan di Google Search Engine

“Pada dasarnya, semua orang yang sehat mampu narsis,” katanya, seperti dikutip dari CNN Indonesia. “Pendekatan teori psikoanalasis Sigmund Freud menyebutkan bahwa manusia sehat harus mampu menghargai dirinya sendiri,” tutur Vera.

Kata kunci yang perlu dipegang adalah menghargai diri. Menurut Vera, bentuknya pun bermacam-macam. “Seperti mampu menjaga diri untuk tidak merokok dan menjauhi narkoba. Selfie adalah bentuk seseorang untuk menghargai dirinya.”

Selfie sering juga disebut sebagai sifat narsis pada diri seseorang. Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan.

Ketika gejala tersebut terjadi dalam takaran yang sangat berlebihan, maka disebut dengan narcissistic personality disorder atau gangguan narsisme, yang tergolong gangguan kejiwan. Namun, bukan pula berarti orang yang tidak pernah melakukan foto selfie tidak punya masalah dengan kejiwaan.

“Seseorang yang tidak memiliki keinginan narsis sama sekali berarti ada yang salah pada dirinya. Sebab, ia tidak memiliki penghayatan positif terhadap dirinya,” ucapnya. Vera pun berpesan, dalam melakukan selfie, sebaiknya seseorang berada di tahap yang wajar.

Baca Juga:  Berbagai Tren Mobile Web Design yang Harus Dipahami Designer

Sementara itu, mengutip dari laman detikHealth, selfie memiliki dampak terhadap kesehatan mental seseorang, apalagi jika sudah sampai pada taraf keranjingan. Adapun lima dampak tersebut diantaranya adalah narsis, adiksi atau kecanduan, histrionik, body dismorphic disorder, dan eksibisionis.