News

Rumus Matematika Tersulit Berhasil Dipecahkan oleh Ilmuwan Asal Indonesia

[Foto: lawrence.edu]
Sebagai warga Indonesia, sudah sepatutnya kita bangga dengan banyaknya ilmuwan Tanah Air yang telah diakui di dunia. Salah satu contohnya adalah pakar penerbangan BJ Habibie, yang dengan kecemerlangan otaknya sudah tidak diragukan oleh dunia. Namun dalam bidang lain, masih ada ilmuwan asal Indonesia yang menjadi buruan para konglomerat dunia bisnis perminyakan.

Ia adalah Yogi Ahmad Erlangga. Pria asal Tasikmalaya, Jawa Barat, ini berhasil memecahkan rumus matematika persamaan Helmholtz. Ilmu ini membelenggu para pakar ilmu pengetahuan dan teknologi selama 30 tahun, dan tak seorang pun mampu memecahkannya.

Dilansir dari Phys.org, ia tertantang untuk melakukan penelitian yang didanai oleh Shell dan SenterNovem, yang merupakan penelitian seputar matematika murni. Penelitian yang digagas Yogi berkutat pada persamaan Helmholtz.

Pemecahan ini penting untuk menafsirkan pengukuran akustik ketika mengamati minyak di perut Bumi. Sebagai informasi, biasanya metode yang digunakan perusahaan minyak untuk mengetahui lokasi minyak memanfaatkan gelombang suara. Lalu, gelombang suara ditransmisikan ke dalam tanah dan pantulannya dicatat ketika sampai ke permukaan Bumi. Kemudia, analisis data ini digunakan sebagai patokan posisi minyak.

Baca Juga:  iPhone 2G Generasi Pertama Dijual Ratusan Juta di e-Bay

Sebelumnya, pengukuran hanya dilakukan secara dua dimensi. Dengan cara ini, Bumi dipandang sebagai serangkaian lapisan datar. Karena itu, sejumlah perusahaan minyak lebih suka menggunakan metode yang lebih cepat dengan memanfaatkan tiga dimensi. Hanya, kemampuan komputer pada saat itu belum mampu melakukan hal tersebut. Diperlukan kemampuan aritmatika cukup tinggi untuk bisa menyelesaikan persamaan Helmholtz.


Yogi Ahmad Erlangga [Foto: muslimdaily.net]
Pria lulusan Institut Teknologi Bandung ini dalam penelitian untuk meraih gelar doktoralnya berhasil mengembangkan metode penghitungan untuk menyelesaikan persamaan Helmholtz secara lebih cepat. Hasil penelitian itu memungkinkan perusahaan menggunakan perhitungan tiga dimensi untuk memproyeksikan minyak di dalam Bumi.

Pemecahan persamaan Helmholtz ini sangat bermanfaat, terutama pada perusahaan-perusahaan minyak. Karena dengan pemecahan persamaan Helmholtz, dimungkinkan perusahaan minyak bisa 100 kali lebih cepat dalam melakukan pencarian minyak dari sebelumnya. Selain itu, kebutuhan kepada hardware bisa direduksi sampai mencapai 60 persen dari kebutuhan hardware sebelumnya.

Pada Desember 2005, hasil penelitian ini diujikan. Hasilnya, tak sekadar dapat digunakan untuk pencarian minyak bumi saja. Sebenarnya, persamaan Helmholtz dapat digunakan untuk menjelaskan beragam jenis gelombang. Tak hanya gelombang akustik, tetapi juga gelombang elektromagnetik termasuk cahaya yang tampak. Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan untuk kebutuhan laser, seperti penyimpanan data di Blu-Ray Disk, atau pengukuran radar di bidang penerbangan.

Baca Juga:  LG Luncurkan Speaker yang Mampu Melayang Selama 10 Jam

“Kami percaya masalah yang sudah berumur tiga puluh tahun telah diselesaikan dalam penelitian ini,” tutur dosen pembimbing Erlangga, Dr Kees Vuik dari Delft University of Technology.

Atas keberhasilannya, Yogi mendapat penghargaan Achmad Bakrie 2012 sebagai Ilmuwan Muda Berprestasi.

Tidak Ingin Patenkan Hasil Temuannya

Sungguh mulia yang dilakukan oleh Yogi. Sebenarnya, ia bisa saja mematenkan hasil penemuannya dan mendapatkan uang banyak. Namun nyatanya, ia tidak ingin mematenkan hasil temuannya yang luar biasa tersebut.

Menurut Yogi, mematenkan sebuah temuan justru akan menghambat perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Dengan alasan itulah, Yogi tetap menolak hasil temuannya untuk dipatenkan. Yogi juga berharap bahwa temuannya bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Saya ingin temuan ini dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena itu hak manusia. Hak ini bisa dijamin jika ilmu dimiliki publik dan bersifat open source,” ucap Yogi, seperti dilansir dari Tribunnews.

Semoga Indonesia bisa melahirkan lebih banyak lagi ilmuwan hebat.