News

[Update] SafeMotos – “Go-Jek” dari Negara Rwanda

[Foto: SafeMotos.com]
Kendaraan roda dua yang dijadikan kendaraan umum ternyata tidak hanya populer di negara Asia seperti Indonesia dan Thailand. Di benua Afrika, tepatnya negara Rwanda, ojek juga menjadi andalan masyarakat setempat. Ketika konsep aplikasi seperti Uber mendunia, maka sama seperti di Indonesia yang melahirkan Go-Jek, di Rwanda juga lahir aplikasi SafeMotos.

Berbeda dengan Go-Jek yang didirikan oleh warga negara Indonesia sendiri, SafeMotos justru didirikan oleh pendatang. Mereka adalah Peter Kariuki, seorang warga negara Kenya, dan Barrett Nash, seorang warga negara Kanada. Saat ini Peter menjabat sebagai CTO dan Barret menjabat sebagai CEO.

Di Indonesia permasalahan yang sering dikeluhkan pengguna jasa ojek salah satunya adalah keharusan untuk tawar menawar. Permasalahan lainnya adalah kemudahan pemesanan. Kalau tidak ada abang ojek yang terlihat, sulit untuk mencari jasa angkutan roda dua ini. Karena itu tidak heran munculnya aplikasi Go-Jek disambut dengan antusias. Tentunya selain karena harga promosinya yang sangat murah.

Di Rwanda, permasalahan besarnya sedikit berbeda. Keluhan yang banyak dialami pengguna ojek di Rwanda adalah pengemudinya yang suka membawa sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Para pengemudi ojek Rwanda ini berusaha secepat mungkin mengantarkan penumpangnya agar bisa sesegera mungkin mengangkut penumpang lainnya. “Kejar setoran”, kalau istilah orang Indonesia.

Berangkat dari masalah ini, SafeMotos menghadirkan fitur yang cukup unik di aplikasinya, pengukur batas kecepatan. Jadi pengemudi SafeMotos akan diberikan sanksi jika melanggar kecepatan maksimum yang diperbolehkan. Hanya pengemudi yang tidak melewati batas kecepatanlah yang bisa tetap bermitra dengan SafeMotos. Di Jakarta urusan batas kecepatan ini tidak jadi masalah sih, karena kendaraan bisa bergerak di jam sibuk saja sudah menjadi sesuatu yang patut disyukuri.

Tidak hanya soal fitur pengukur kecepatan. SafeMotos juga memasang berbagai plang penunjuk jalan di jalanan. Ini demi membantu pengemudi agar lebih cepat mencapai lokasi yang dituju.

[Foto: Akun YouTube SafeMotos]
Perusahaan yang bermarkas di Kigali -ibukota Rwanda- ini didirikan pada tahun 2015. Sejak didirikan hingga saat ini, CrunchBase mencatat mereka telah mendapatkan investasi 2 kali. Investasi pertama didapatkan dari Carma Axlr8r dan SOSV pada Januari 2015. Namun tidak disebutkan berapa nilainya. Sementara itu investasi yang kedua didapatkan pada Oktober 2015, besarnya adalah $ 131.000 (sekitar Rp 1,7 miliar).

SafeMotos menyatakan melalui akun Twitternya bahwa Rwanda sebenarnya hanya menjadi dapur percobaan mereka saja sebelum berekspansi ke negara lain. Tapi saya yakin SafeMotos tidak akan masuk ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Situasi “ojek online” di Indonesia sudah cukup panas dengan GrabBike, UberMotor dan Gojek.

[Update]

Kami berhasil menghubungi Nash, CEO SafeMotos. Ternyata mereka memang sudah lama tahu tentang Go-Jek dan justru ngefans berat. SafeMotos sebetulnya ingin berkolaborasi dengan Go-Jek, namun sayang beberapa kali Nash mencoba menghubungi pihak Go-Jek tapi belum ada jawaban.

We’ve reached out to GoJek before but could never get any response. We’re huge fans of their service and would love to find ways to collaborate.

~ Barrett Nash, CEO SafeMotos via email kepada LABANA

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID