News

Selamat Datang di Papan Atas Lagi, Motorola!

Ilustrasi Motorola [Foto: Motorola]
Kalau Anda terinspirasi oleh kalimat motivasi “kerja keras tak akan mengkhianati”, kemungkinan Motorola pun demikian. Pasalnya, tak sia-sia perusahaan yang kini menjadi subsider Lenovo itu melakukan upaya ekstra untuk menyediakan smartphone yang benar-benar dibutuhkan konsumennya.

Di tengah hegemoni Samsung maupun Apple, Motorola tetap konsisten dengan memproduksi smartphone berdesain khasnya, ditambah lagi dengan mengenalkan ponsel modular yang inovatif seperti Moto Z. Alhasil ketika tak lagi bekerja sama dengan Google untuk memproduksi Nexus (atau Google Pixel), bendera Motorola tetap bisa berkibar di industri ini.

Puncaknya, adalah ketika pada kuartal ketiga 2017 ini mereka kembali menduduki posisi lima besar vendor smartphone top di Amerika Serikat. Bukan untuk skala global, memang, tetapi setidaknya ini adalah capaian penting yang layak dijadikan motivasi bagi tim Motorola untuk terus menghasilkan karya yang lebih baik.

Moto Mods [Foto: Motorola]
Berdasarkan analisis Counterpoint Research (12/11/17), pada Q3 2017, Motorola tercatat sebagai brand smartphone terlaris di AS nomor lima. Pangsa pasarnya sendiri sebesar 5,1 persen, faktanya masih kalah dengan vendor “kelas dua” seperti LG dan ZTE yang market share-nya belasan persen. Tetapi, growth tahunan Motorola jauh lebih tinggi dari keduanya (bahkan jika pertumbuhan YoY LG dan ZTE ditambahkan sekaligus).

Baca Juga:  Apple Dirumorkan Telah Bermitra Dengan Carl Zeiss Untuk Kembangkan Smart Glasses

Seri Moto E, yang menyasar konsumen menengah ke bawah, adalah produk yang mendorong tingginya penjualan ponsel Motorola pada Q3 2017. Jadi, jangan heran di tengah etalase ponsel pintar terlaris di AS yang diisi iPhone 7 sampai Samsung Galaxy S8, terselip nama Moto E4 dengan persentase 2,5 persen.

Sementara dari pasar high-end, kerja sama Motorola dengan empat carrier ternama di AS untuk mem-bundling Moto Z2 Force Edition juga cukup berkontribusi. Moto Z2 Force sendiri baru dirilis pada Agustus 2017 dengan keunggulan spesifikasi semacam kamera dual 12MP di bagian belakang dan tentu saja sifat modularnya yang bisa dipasangkan dengan beragam mods canggih mirip Motorola.

Dari analisis Counterpoint, keputusan Motorola menyediakan smartphone dengan harga terjangkau untuk prepaid atau dalam versi unlocked adalah salah satu faktor membaiknya market share mereka di AS. Tentu saja hal tersebut turut didongkrak oleh keinginan banyak konsumen di AS untuk bernostalgia dengan brand yang terkenal dengan tagline “Hello Moto!” ini.

Baca Juga:  Shopee Ajak Pengguna Rayakan Kekayaan Budaya Melalui Kampanye ‘Wonderful Indonesia’

Penjualan smartphone Q3 2017 di AS [Foto: Counterpoint]
Motorola sendiri di tahun 2017 ini sudah merilis beragam varian smartphone, dari Moto Z2 Play dan Z2 Force, sampai Moto E4, dan Moto G5S Plus yang belakangan juga di-launching di Indonesia. Walau begitu, tidak ada jaminan bahwa performa ponsel Motorola di pasaran pada liburan akhir tahun 2017 bakal tetap tinggi atau membaik. Sebab, produk-produk lain juga mengincar perhatian dan uang konsumen di sana. Tengok saja bagaimana Google yang rajin mengiklankan Pixel 2 dan Pixel XL di TV dan ranah digital (kendati belum terasa dampaknya dari segi volume penjualan). Belum lagi pendatang baru semacam Essential Phone, smartphone gaming Razer Phone, dan ponsel dual-display pertama di dunia, ZTE Axon M.

Secara garis besar, shipment ponsel di AS pada Q3 2017 termasuk flat atau hanya tumbuh 1 persen dari Q3 tahun lalu. Menurut Counterpoint, di kuartal yang tampak kompetitif ini, keputusan sejumlah operator telekomunikasi ternama di sana yang memilih untuk mengerem marketing campaign-nya dan keputusan konsumen untuk menunggu launching iPhone X ialah faktor penyebanya. Sementara Apple dan Samsung masih bertahan di nomor satu dan dua sebagai OEM yang terlaris produknya.

Baca Juga:  Perusahaan - Perusahaan Label Rekaman Tuntut Situs YouTube-mp3.org