Review

Seperti Inilah “Jeroan” Blibli.com yang Sebenarnya

Walaupun dari sisi jumlah kunjungan Blibli.com bukan yang nomor 1 di Indonesia, bukan berarti pengunjung situsnya sedikit. Kalau merujuk dari SimilarWeb, 3 bulan terakhir ini rata-rata trafik Blibli adalah 11 juta kunjungan perbulannya. Seperti apa jeroan Blibli hingga mampu menangani trafik segitu besar? Mari kita simak.

[Gambar: Trafik Mingguan | Similarweb.com]
Hari Jumat, 8 April 2016 lalu, Blibli mengadakan acara sharing session bertajuk Tech-IT Easy. Acara ini dibawakan oleh Ifnu Bima, Development Manager Blibli.com.

Ifnu sebelumnya sempat bekerja di sebuah bank multinasional di Singapura sebagai software engineer. Bahasa program pilihannya adalah Java. Ia begitu cinta dengan bahasa program buatan Sun Microsystem itu (kini menjadi Oracle), sampai-sampai Ia sempat menyatakan “Kalau Blibli gak pakai Java, saya juga gak bakal gabung sih..” Walaupun dinyatakan dengan nada setengah bercanda dan setengah serius.

Mengapa Java?

Tadinya saya berharap mendapatkan cerita “drama” bagaimana Blibli akhirnya menentukan Java sebagai basis pengembangan hampir keseluruhan sistemnya. Ternyata tidak dramatis sih. Ifnu mengatakan hal ini sudah diputuskan sebelum ia bergabung di Blibli. Pada dasarnya Blibli masih berada di dalam grup korporasi Djarum (melalui GDP Venture), jadi pemilihan platform pun masih diputuskan di level korporasi.

Arsitektur

Situs e-commerce yang didirikan pada 2010 ini pada saat awal dibangun masih menggunakan struktur yang sederhana dan berasitektur monolitik. Tapi, di tahun 2012, mesin Blibli sudah dipecah menjadi 3 bagian services:

  • Store Front: Pada dasarnya inilah bagian yang dilihat oleh pengunjung Blibli.com
  • Merchant: Sistem yang mengurusi merchant (penjual di Blibli), baik untuk unggah foto produk, informasi produk yang dijual, dll.
  • Back Office: Bagian sistem yang menangani penjualan, logistik sampai urusan transaksi keuangan.

Salah satu kekurangan dari arsitektur monolitik adalah ketika ada beban proses yang sangat berat di salah satu bagian, (misal di bagian pembayaran) maka keseluruhan sistem pun akan ikut menjadi sangat lambat. Ini sangat mengganggu kestabilan sistem Blibli, yang ujung-ujungnya tentu membuat jumlah transaksi menurun.

Ifnu dan timnya tentunya bertanggung jawab untuk mengatasi hal ini. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengubah arsitektur Blibli menjadi microservices. Semua beban proses tadi dipecah lagi menjadi service-service kecil. Jadi ketika terjadi proses yang sangat berat di salah bagian, bagian yang lain masih tetap bisa berfungsi normal. Sebagai contoh, mereka yang sedang browsing-browsing saja, tetap bisa “menggalau” melihat-lihat produk di Blibli walaupun sebenarnya sistem pembayaran Blibli sedang bermasalah.

Saat ini arsitektur Blibli sudah disokong oleh sejumlah microservices. Bagian Store Front kini sudah dipecah menjadi belasan microservices. Bagian Back Office juga kini sudah dipecah menjadi microservices Logistic, Warehouse dan Finance. Dari penjelasan Ifnu, jumlah microservices ini kemungkinan akan terus bertambah.

Setiap microservices ini biasanya memiliki paling tidak 2 stack identik. Dengan sistem rangkap ini, selain berguna untuk memecah beban kerja, ia juga berguna sebagai cadangan jika salah satu service gagal dan ketika ada deployment baru.

Walaupun kini Java masih mendominasi berbagai services yang ada di Blibli, Ifnu menyatakan ke depannya mereka tidak lagi kaku membatasi pilihan platform yang digunakan. “Toh ujung-ujungnya services-nya digunakan via TCP/IP kok, lewat HTTP request,” lanjutnya.

Caching

Untuk situs dengan trafik sebesar Blibli, tentunya sistem caching mutlak diperlukan. Tetapi sama seperti di situs-situs besar lainnya, jarang memang yang menggunakan satu sistem caching untuk keseluruhan bagian dari mesin situs tersebut.

Blibli menggunakan beberapa solusi untuk menangani caching:

  • Redis: Digunakan untuk cache user session
  • Guava: Digunakan untuk cache Java library
  • Varnish: Digunakan untuk cache bagian front end (HTML, CSS, JavaScript)

Antarmuka (User Interface)

“Semua situs e-commerce ini gak kreatif. Mirip-mirip semua. Malu liatnya, ” ujar seorang teman saya beberapa waktu lalu. Ia mengomentari tampilan hampir semua pemain e-commerce di Indonesia yang memang satu sama lain terlihat mirip, tidak terkecuali Blibli. Teringat akan komentar teman saya itu, saya lalu menanyakan hal ini kepada Ifnu.

Ifnu tidak menampik bahwa tampilan situs e-commerce di Indonesia memang mirip-mirip. Tetapi Ifnu memiliki argumen yang cukup berdasar tentang alasan mereka juga memilih untuk mengikuti trend ini.

Pada dasarnya Blibli ingin memberikan pengalaman berbelanja online yang paling nyaman bagi pengunjung. Karena itu jika semua situs e-commerce tampilannya hampir serupa, pengunjung pun tidak lagi bingung ketika menjelajah di Blibli.

“Analoginya kaya setir mobil aja. Semua orang sudah terbiasa dengan setir mobil yang bulat, kalau tiba-tiba ada mobil dengan setir yang berbentuk segitiga pasti user akan kebingungan kan?” ~Ifnu Bima

Ifnu menambahkan, semua tampilan situs-situs e-commerce tersebut konon kabarnya merujuk kepada tampilan antarmuka TMall.com, sebuah e-commerce B2C milik Alibaba Group.

Dari sejak didirikan hingga saat ini, Blibli.com sudah 5 kali berganti wajah secara besar-besaran. Ifnu mengatakan kalau perubahan ini dilakukan setelah memperhatikan masukan-masukan dari pengguna maupun dari tim internal Blibli sendiri. Mereka akan mendiskusikan terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan tampilan antarmuka seperti apa yang akan dibuat untuk Blibli.

Mungkin ini hasil diskusi terakhir mereka: “Ok, kalau gitu tampilannya kita ubah jadi kaya TMall.com!” Mungkin ya.

Pengguna Blibli yang Unik

Cerita mengenai pengguna Blibli juga menarik. Ifnu mengatakan, dari data yang mereka liat, banyak pengguna Blibli yang melihat-lihat produk pada pagi hari, sekitar jam berangkat kerja. Tetapi sedikit yang membeli. Kemudian pengunjung akan agak ramai lagi di sekitar jam makan siang. Setelah itu pengunjung Blibli baru ramai lagi di sekitar jam pulang kantor, dan di sini baru banyak transaksi.

Melihat dari cuplikan cerita tersebut mungkin ilustrasi perjalanan pengguna Blibli adalah seperti ini:

Pagi hari sewaktu berangkat kerja, di mobil, busway atau KRL, pengunjung Blibli menjelajahi produk-produk di Blibli. Siapa tahu ada yang perlu, kalaupun tidak perlu mungkin lucu, kalau pun juga tidak lucu, siapa tahu lagi diskon. #ehm.

Di jam makan siang, si pengunjung curhat dulu ke teman-temannya, mungkin minta pendapat tentang produk tersebut, atau seperti pengalaman saya sendiri biasanya berujung dengan pertanyaan “Gak perlu sih, tapi beli gak ya? Diskon lumayan soalnya..”

Setelah mendengar masukan teman-temannya sambil makan siang, akhirnya mulai memantapkan hati. Tapi belum 100%. Ketika tiba waktunya pulang kantor, baru si pengunjung ini mengambil sikap “Okeeh..! Gue belik, cuss..!”.

Mobile vs Desktop

Soal ini juga layak diperhatikan. Sebesar 70% trafik Blibli sebenarnya berasal dari perangkat mobile. Tapi kunjungan dari perangkat mobile ini tidak berlanjut ke pembelian. Sebesar 80% pembelian justru terjadi di desktop. Jika mengikuti ilustrasi di atas, berarti transaksi kebanyakan terjadi di sekitar waktu pulang kantor dengan menggunakan desktop. Kesimpulan saya: “Penggunanya melihat-lihat produk via ponsel, tetapi belinya via komputer kantor.”

Oh satu lagi, pengunjung Blibli dari mobile site juga meningkat di sekitar jam menjelang tidur pada malam hari. Mungkin sambil berguling-guling di kasur, melihat-lihat produk apa yang.. perlu, lucu, atau sedang diskon tadi.

Antarmuka Blibli tidak mengikuti trend website responsive saat ini. Blibli memilih untuk menyediakan antarmuka yang berbeda antara versi desktop dan versi mobile. Kalau istilah Ifnu, ini tampilan adaptive. Bedanya, untuk responsive, front end nya sebenarnya hanya satu, hanya saja tampilannya akan menyesuaikan ukuran layar browser. Sedangkan untuk model adaptive, front end yang ditampilkan menyesuaikan permintaan (request) dari browser. Jika browser yang meminta dari ponsel, maka front end yang ditampilkan adalah versi mobile, begitu juga sebaliknya untuk desktop.

Blibli sendiri baru memiliki dua jenis front end, desktop dan mobile. Tentu saja mengurusi dua front end ini cukup merepotkan, tapi demi kenyamanan pengguna, Blibli masih memilih opsi ini. Setidaknya sampai saat ini.

Fokus ke Mobile Application

Jika tadi yang dibahas adalah mengenai website (desktop) dan mobile site. Bagaimana dengan mobile application dari Blibli?

Faktanya cukup mengejutkan. Ternyata tingkat konversi pembelian dari mobile application Blibli lebih tinggi 7 kali lipat daripada dari websitenya. Ini yang menyebabkan mengapa Blibli sebenarnya saat ini sedang fokus ke pengembangan (dan pemasaran) aplikasi mobile-nya.

Mengapa tidak berusaha mencari cara menaikkan tingkat konversi di website saja? Jawabannya, karena tidak akan efektif. Di Indonesia, jumlah pengguna komputer jauh lebih sedikit daripada jumlah pengguna mobile (ponsel, tablet, phablet). Indonesia memang berbeda dengan negara-negara maju, di mana kebanyakan orang sudah memiliki komputer terlebih dahulu baru kemudian mengenal smartphone. Di Indonesia, sebagian besar orang justru tidak pernah memiliki komputer (desktop). Perkenalan pertamanya pada internet terjadi melalui ponsel (featured phone), dan belakangan smartphone.

Dengan profil pengguna seperti itu, untuk bisa menjangkau pasar (market) sebesar-besarnya di Indonesia, tentunya Blibli harus fokus ke mobile. Dan seperti diungkapkan di atas, di mobile application-lah tingkat konversi tertinggi (7x lipat dari konversi di website). Maka masuk akal jika Blibli kini fokus ke mobile application.

Tantangan fokus ke mobile application ini bukan soal teknis saja, tetapi soal marketing. Menurut Ifnu, sangat susah mengajak orang Indonesia untuk memasang aplikasi baru di ponselnya. Ini sesuai dengan data yang ditampilkan di acara Google for Mobile di Gandaria beberapa waktu lalu. Di situ disebutkan pengguna di Indonesia rata-rata hanya memasang 11 aplikasi di ponselnya. Berbeda dengan di negara-negara lain yang bisa memasang lebih dari 20 aplikasi di ponselnya.

Catatan: Tak heran sekarang banyak e-commerce yang tersedia hanya dalam bentuk aplikasi: Shopee, CoralShop dan  Flipkart.

Perbedaan Blibli dan “Tetangga-tetangganya”

Dari segi positioning, sejujurnya saya sendiri baru paham Blibli itu ada di mana. Ifnu mengatakan, Blibli konsepnya mirip sebuah mall yang terpercaya, hanya saja berbentuk online. Jadi layaknya mall terpercaya, Blibli hanya menjual produk dari distributor resmi atau dari pemilik merek langsung. Tidak akan ada produk “KW” di Blibli.

Mendengar penjelasan Ifnu tersebut saya mencoba mengingat platform e-commerce lainnya yang penuh dengan produk-produk “KW” dengan harga miring. Jadi kalau dikembalikan ke dunia offline, beberapa pesaing Blibli itu positioning-nya mungkin seperti katakanlah.. ITC. Selalu ramai dan penuh sesak, tetapi masih selalu bertemu dengan resiko membeli produk “KW” atau setidaknya produk dari distributor tidak resmi.

Mungkin ini sebabnya mengapa Blibli (setidaknya menurut saya) tidak terlalu “ngoyo” mengejar posisi e-commerce dengan trafik tertinggi se-Indonesia.

Salah satu kelebihan yang ditonjolkan Blibli dari sisi teknis adalah pembayaran dengan kartu kredit di Blibli. Blibli sudah menerapkan keamanan kartu kredit 3DS. Jadi ketika seseorang bertransaksi dengan kartu kredit di Blibli, akan butuh verifikasi via SMS lagi. Dengan begitu Blibli bisa menjaga merek (brand)-nya sebagai e-commerce terpercaya, yang serius berniat menekan tingkat penyalahgunaan (fraud) kartu kredit.

Ifnu menambahkan, ada pemain e-commerce lain yang juga sadar akan pentingnya keamanan bertransaksi dengan 3DS ini. Tetapi mereka urung menerapkannya, karena konon kabarnya ternyata ini berakibat penurunan jumlah transaksi hingga 30%.

People

Menurut Ifnu, Blibli adalah perusahaan teknologi. Sebagai perusahaan teknologi, aset dan kunci keberhasilan terbesar Blibli adalah orang-orangnya (people). Karena itu Blibli pun tidak setengah-setengah mengurusi aset paling berharganya ini. Setiap orang, setidaknya akan mengikuti 7 pelatihan (training) dalam satu tahun. Pelatihannya variatif, ada yang teknis, ada yang tentang softskill, dan ada juga yang tentang berorganisasi.

Masih soal pasukan Blibli. Ifnu mengatakan tim teknologi di Blibli pada dasarnya dibagi menjadi tiga fungsi:

  • Product Manager: Mengurusi pengembangan fitur, proses bisnis dan memastikan perjalanan pengguna (user journey) sangat nyaman. Kalau di perusahaan consumer goods menurut saya kurang lebih seperti Business Analyst.
  • Development Manager: Pengembangan sistem dari sisi teknis
  • Program Manager: Ini yang mengurusi sisanya. Saya kurang jelas sebenarnya, tetapi dari yang saya tangkap kurang lebih tugasnya adalah memastikan apa yang dibutuhkan fungsi Product Manager dan Development Manager terpenuhi.

Ifnu menambahkan posisi yang cukup langka kandidatnya adalah fungsi Product Manager. Blibli sampai harus “mengimpor” talenta dari Amerika Serikat (tapi WNI) untuk mengisi posisi-posisi ini. Saya kurang tahu untuk Blibli, tetapi memang kadangkala tim perekrutlah yang kurang bisa menentukan CV seperti apa yang cocok untuk menjadi Product Manager. Mengingat pensortiran CV pertama kali dilakukan oleh tim perekrut.

Salah seorang tim Blibli yang lain (saya tidak ingat namanya), mengatakan pencarian talenta baru memang sangat sulit, terutama untuk posisi teknis (software engineer, testing engineer, sys-admin, dsb). Itu sebabnya Blibli pun bekerjasama dengan sebuah perusahaan developer di India untuk ikut membantu mengembangkan Blibli.

Saya rasa memang ini salah satu tujuan Blibli mengadakan acara ini. Karena di beberapa sudut saya melihat poster-poster kecil yang bertuliskan kurang lebih “Join Us. Drop your CV at ..

Well, mengintip di buku tamu acara ini, saya banyak sekali menemukan peserta yang berasal dari kantor “tetangga”, yaitu Tokopedia. Bisa jadi setelah acara ini, ada sebagian dari mereka yang tertarik berpindah kantor ke Aipda KS Tubun 2C/8 dari Wisma 77. Kecuali  kalau “guyuran” duit hampir 2T kemarin sebagian sampai ke mereka, mungkin agak berat ya. 😀

Saya punya saran kecil untuk Blibli untuk proses perekrutan ini. Setidaknya pastikan dulu semua lowongan yang terpajang di situs Blibli seragam dengan yang tampil di laman Linkedin-nya, dan di berbagai situs lowongan kerja lainnya yang mereka gunakan. Seperti hampir di semua situs lain (bahkan korporasi besar multinasional), seringkali informasi ini tidak diperhatikan. Lowongan yang masih aktif dan tidak aktif bercampur aduk.

Catatan:

Salah satu tim dari Blibli mengatakan CTO Blibli tadinya adalah Ferry Sutanto. Namun ia sudah mengundurkan diri di tahun 2015. Laman Linkedinnya mencatat Ferry saat ini menjadi pendiri Grya.co.id. Saat ini posisi CTO di Blibli masih kosong. Anda tertarik?

 

DISCLAIMER: Saya pernah memiliki hubungan kerja dengan MCM yang juga berada dalam grup GDP Ventures, perusahaan induk dari Blibli. *kunjungan ke markas Blibli ini setengah nostalgia sebenarnya.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID