Home  »  Opinion   »  
Opinion

“Serangan Balik” Facebook kepada Situs-situs Berita

[Ilustrasi Foto: wundergroundmusic.com]

Selama ini banyak sekali situs berita yang mendapatkan trafik karena kontennya dibagikan berulang kali di Facebook. Situs-situs semacam Buzzfeed, UpWorthy, dkk bahkan disebut-sebut mayoritas sumber pengunjungnya berasal dari Facebook. Tidak hanya situs “pemikat-share” seperti di atas, situs berita seperti New York Times, National Geographic pun banyak mendapatkan kunjungan dari hasil share di Facebook.

Bagi situs-situs tersebut, ini sebuah hal yang positif. Di beberapa tahun terakhir, setiap situs harus mati-matian mengoptimalkan halamannya agar mudah ditemukan di mesin pencari seperti Google dan Yahoo. Dengan adanya sumber kunjungan yang signifikan ini, ada cara lain untuk mengoptimalkan kunjungan ke situs mereka.

Begitu besarnya efek Facebook sampai saya berani bilang kalau semua search engine mati pun, situs-situs itu akan mendapatkan kunjungan yang besar. SEO sudah bukan ajian utama para pemain media di internet.

Ganti Algoritma

Seperti Google yang terus menerus memperbaiki algoritmanya agar sistemnya tidak mudah diakali, Facebook pun melakukan hal yang sama. Facebook sempat mengubah algoritmanya agar memangkas situs-situs tertentu yang mengandalkan trafiknya dari Facebook.

Namun usaha ini seperti sia-sia, karena situs-situs tersebut hanya sebentar hilang dari newsfeed para penggunanya. Dalam hitungan hari, mereka kembali merajai newsfeed para pengguna Facebook. Alasannya sederhana, karena memang para pengguna Facebook tersebut suka dengan konten yang disajikan oleh situs-situs tersebut.


Tetapi dengan begitu besarnya sumber trafik dari Facebook, saya sempat memiliki kekhawatiran bagaimana jika nantinya Facebook “menyerang balik”. Menyadari dirinya memiliki pengaruh sangat besar terhadap beberapa situs tersebut, tentunya akan membuat Facebook menjadi sangat berkuasa. Ujung-ujungnya Facebook mencari celah untuk mendapatkan keuntungan dari sini.

Serangan Balik

Benar saja, seperti diulas New York Times, akhirnya Facebook mulai melakukan hal ini. Facebook mengundang beberapa media-media online untuk diajak bekerjasama. Buzzfeed, The New York Times dan National Geographic termasuk yang diundang.

Selama ini, kita biasanya melihat cukilan (preview) dari konten media-media tersebut dibagikan di Facebook. Jika tertarik, kita harus mengklik linknya, lalu membacanya di masing-masing situs.

Nah, secara garis besar, tawaran dari Facebook adalah agar media-media ini menyajikan konten mereka di dalam Facebook. Jadi daripada hanya melihat cukilan konten di Facebook, mengapa tidak menyajikan keseluruhannya saja. Dengan begitu pengunjung akan lebih gampang menikmati konten yang disajikan, dan tidak membuang waktu untuk loading lagi ke masing-masing situs.

Tentunya ini ada baik buruknya. Di satu sisi memang media-media online tersebut terbantu menyampaikan kontennya ke pengunjung. Tetapi di satu sisi, ini artinya pengunjung tersebut akan “dikunci” di dalam Facebook. Para pemilik situs sulit untuk mengajak penggunanya agar mengunjungi bagian-bagian lain dari website mereka.

Belum ada hasil final dari pembicaraan ini. Tetapi tentu masing-masing media ini menyadari bahwa Facebook punya posisi tawar tinggi. Jika saja mereka menolak penawaran dari Facebook, apakah nantinya trafik mereka juga akan berkurang dari Facebook? Sementara sebagian dari situs-situs tersebut sangat tergantung pada sumber kunjungan dari Facebook.

[Update]

Tidak hanya Facebook. Platform lain pun sedang melakukan upaya yang serupa. Sebagian sudah berjalan malah.