News

Startup Lokal Shopious.com Akhirnya Harus “Magud”

[Gambar: Shopious.com sebelum ditutup]
Di sekitar pertengahan tahun 2015 saya sempat mengulas tentang Shopious.com. Ini adalah aggregator bagi para penjual online di Instagram. Ternyata bulan April 2016 ini sang pendiri Aditya Herlambang memutuskan untuk menutup startup pertamanya ini. Alasannya? Karena Shopious tidak bisa memberikan keuntungan secara bisnis, dan karena Aditya menolak untuk bermain “valuation game”.

*Magud: masuk gudang.

Konsep awal Shopious sewaktu didirikan tahun 2013 sebenarnya adalah marketplace C2C (Customer to Customer), persis Tokopedia. Hanya saja di tahun 2014 Aditya memutuskan untuk pivot. Shopious akhirnya berubah menjadi e-commerce aggregator bagi para penjual di Instagram.

Mereka yang berjualan di Instagram bisa menampilkan produk-produknya secara otomatis di Shopious.com jika mereka sudah menjadi anggota. Biaya untuk menjadi anggota bervariasi. Untuk langganan bulanan dengan maksimal 10 foto produk biayanya adalah Rp 60.000. Shopious sendiri sebelum ditutup sebenarnya sudah memiliki ratusan pengguna berbayar.

Tangan Kesekian

Walaupun Shopious memiliki banyak pengguna berbayar, ternyata proses bisnis di Shopious tidak sesederhana yang terlihat. Kebanyakan penjual di Instagram adalah tangan kedua bahkan ketiga dan seterusnya. Ini menyebabkan lambatnya respon para penjual ketika ada calon pembeli yang bertanya soal produk yang mereka inginkan. Dengan lambatnya respon ini, membuat calon pembeli akhirnya batal membeli. Ketika ini berlangsung semakin lama dan semakin sering tingkat kepercayaan pengguna akhirnya turun.

Untuk memperbaiki hal tersebut Shopious mau tak mau harus memprioritaskan penjual Instagram tangan pertama. Namun jika Shopious melakukan hal ini, menurut perkiraan Aditya market size mereka bisa jadi turun hingga 50%.

Konversi yang Mahal

Membawa trafik ke dalam Shopious agar produk yang dijual laku tidaklah murah. Biaya iklan di internet (Facebook Ads, Google Ads, dll) semakin lama semakin lama mahal. Ini adalah dampak dari banyak pemain e-commerce yang didukung dana investor gila-gilaan. Mereka yang berkantong super tebal ini berani membayar gila-gilaan juga untuk bisa menguasai iklan produk-produk yang dijual mereka, tentu saja termasuk jenis produk yang dipajang di Shopious.

Dengan biaya yang menjadi semakin membengkak, ditambah market size yang sepertinya harus dipangkas besar-besaran, maka secara bisnis Shopious menjadi semakin sulit untuk bisa menghasilkan profit. Melihat kenyataan ini, maka Aditya akhirnya memutuskan untuk menutup Shopious walaupun mereka masih memiliki dana untuk beroperasi hingga 1 tahun ke depan. Aditya menyatakan dalam tulisannya jika dana yang tersisa itu akan dikembalikan kepada investor mereka.


Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID