News

Strategi Instagram Berantas ‘Selebgram’ Palsu

[Foto: Shutterstock]
Beberapa tahun yang lalu, “influencer media sosial” bukanlah sebuah profesi, apalagi pekerjaan yang digeluti secara serius. Namun sekarang, mereka yang berprofesi sebagai influencer tersebut termasuk di antara orang-orang dengan penghasilan tertinggi di dunia.

Super-vlogger asal Inggris Zoella, misalnya, dilaporkan menghasilkan sekitar 50.000 poundsterling (sekitar Rp865 juta) setiap bulannya. Selain dia, ada banyak sekali influencer lainnya, termasuk di Indonesia, dan brand semakin yakin dengan efektivitas promosi yang dilakukan para influencer media sosial dengan jumlah pengikut yang sangat besar.

Tahun lalu, penghargaan Blog Awards tahunan yang diadakan Cosmopolitan diganti namanya menjadi Influencer Awards, dan media sosial yang paling banyak menjadi wilayah operasi para influencer dalam menyebarkan pengaruhnya adalah Instagram. Di Indonesia, influencer yang aktif di Instagram biasa disebut selebgram.

Jika Anda memiliki cukup banyak pengikut, ada banyak uang yang bisa dihasilkan dari satu gambar saja yang di-posting di Instagram. Terkadang, uang dalam jumlah besar juga bisa dihasilkan hanya dengan satu posting Instagram story, yang akan hilang setelah 24 jam.

Baca Juga:  Kini Tak Perlu Khawatir Beriklan di Facebook Tapi Stock Barang Habis

Namun sayangnya, dengan banyaknya uang yang “bermain” di sana, beberapa orang mulai menggunakan metode curang dan anorganik untuk mengumpulkan ribuan follower. Mereka disebut “influencer palsu” yang tidak bekerja keras untuk mengumpulkan follower-nya.

Instagram sendiri mulai memperhatikan pasar influencer media sosial yang sedang booming ini. Para influencer ini menghasilkan uang tunai untuk ribuan “likes” dan komentar yang “bernada spam”. Menurut sebagian pengamat, mereka adalah mimpi buruk para marketer dan gangguan bagi pengguna Instagram yang memang benar-benar ingin menggunakan media sosial sebagaimana fungsinya—yakni untuk berinteraksi dengan teman dan kerabat.


Menurut laporan The Next Web, selama beberapa minggu terakhir, Instagram telah menutup situs dan aplikasi pihak ketiga seperti Instagress, InstaPlus, dan PeerBoost, yang semuanya melanggar Pedoman Komunitas dan Persyaratan Penggunaan Instagram.

Wannabe influencer alias “influencer palsu” menggunakan jenis layanan ini untuk mengotomatisasi ribuan komentar generik dan “likes”. Yang perlu mereka lakukan hanyalah membayar jumlah “likes” dan komentar yang mereka inginkan, dan bot akan menangani pekerjaan mereka. Instagram bot bertanggung jawab atas komentar palsu seperti, “Fotonya bagus banget” atau emotikon “❤️” dan komentar “Saya suka sekali barang ini!” Komentarnya tidak jujur, samar dan tidak berhubungan dengan konten atau foto yang bersangkutan.

Baca Juga:  6 Fakta Unik yang Terjadi Pada E-Commerce di Indonesia

Dan kini, Instagram ingin para influencer palsu dihilangkan dari platform mereka.

Instagram juga melakukan “shadowbanning” terhadap akun yang melanggar, yang berarti gambar dengan hashtag spam tidak akan terlihat dalam pencarian atau di pada tab Explore. Upaya ini diharapkan akan membuat platform Instagram bersih dari spam dan lebih autentik.

Karena bisnis anonim ini dimatikan, para influencer palsu juga akan tersingkir. Namun ternyata, menyingkirkan mereka tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setidaknya bagi Instagram.

Dalam beberapa tahun terakhir, Instagram juga telah mencoba menindak akun palsu, namun hal tersebut mendorong para “influencer palsu” untuk menggunakan metode lain untuk menambah follower dan komentar.

Salah satu yang terbaru adalah melalui pengaturan “pods.”

Pods adalah kelompok orang di Instagram dengan profil dan minat yang sama yang setuju untuk bekerja sama untuk saling meningkatkan profil masing-masing. Mereka semua saling mengomentari foto masing-masing segera setelah foto di-posting untuk menipu algoritme Instagram dan memastikan pos mereka muncul di newsfeeds para pengguna Instagram lainnya.

Baca Juga:  Cara Membagikan Tweet Secara Privat Melalui Direct Message

Hal ini berarti, para brand tidak dapat mengetahui apakah aktivitas dan popularitas para Instagrammer itu nyata atau palsu, dan hal itu adalah masalah lain terkait para influencer palsu. Kita nantikan saja, apakah Instagram punya strategi lain untuk mengatasinya.