News

Tees.co.id Kembali Mendapatkan Investasi. Lalu Bagaimana dengan Rupawa.com?

[Rupawa.com]
Rupawa.com bisa dibilang memiliki model bisnis yang mirip dengan Tees.co.id. Namun, berbeda dengan Tees yang sudah meluncur sejak tahun 2012, Rupawa baru diluncurkan November 2014 lalu. Selain itu, startup yang didirikan oleh mantan co-founder Lazada ini mengincar target market yang berbeda dengan Tees.

Tanggal 2 April 2015 lalu Tees.co.id mengumumkan telah mendapatkan investasi kembali. Investasi ini dilakukan oleh sejumlah VC yang dipimpin oleh 500 Startups, 8 Capita dan beberapa angel investor, termasuk Baroni Yuzirma (founder komunitas Tangan di Atas). Lalu bagaimana dengan Rupawa?

Dihubungi oleh Labana.ID via email, Fung Fuk, founder Rupawa, menyatakan bahwa hingga saat ini Rupawa belum mendapatkan investasi dari luar. “Masih bootstrapping.” tulisnya singkat. Jadi bisa dipastikan rencana mereka untuk meluncurkan format baru Rupawa dalam waktu dekat ini masih harus merogoh kocek sendiri.

Mengingat market yang diincar Rupawa adalah segment premium, tentunya butuh strategi yang berbeda dengan pesaing yang mengincar mass market. Untuk menghadapi hal ini, Rupawa sedang mempersiapkan untuk mengorganisasi ulang tampilan Rupawa sekaligus meluncurkan beberapa inisiatif baru. Seperti apa detailnya? Fung hanya menjawab “Tunggu aja tanggal mainnya ya. ”

Penjualan di Rupawa

Labana.ID mendapatkan informasi dari salah satu sumber bahwa penjualan di Rupawa.com sekitar 2 bulan lalu tidak begitu besar. Memang tidak ada angka pasti yang disebutkan. Hanya disebutkan tidak sampai 10 item terjual dalam satu bulan itu.

“Saya juga kerap share di komunitas startup digital bahwa prioritas di awal itu tidak melulu soal traffic / sales (walaupun ini yang menjadi pertanyaan paling standar oleh berbagai media). Yang paling utama di awal itu adalah deep understanding of the problem yang startup itu ingin pecahkan.” tulis Fung, menanggapi kabar tersebut.

Fung lalu menambahkan cerita pengalamannya di Lazada. Saat awal merintis Lazada, fokus utama di beberapa bulan awal adalah talent searching, trust building dan merchandising. Hal yang sama juga diterapkan di Rupawa. “Di Rupawa, kami memiliki fokus awal untuk memahami secara mendalam dulu para desainer Indonesia dan target segmen konsumen, karena Rupawa memang hanya dapat maju bila para desainer hebat ini maju.” lanjutnya.

Mengutip dari HarianTerbit.com, pada bulan Februari 2015 lalu Rupawa memperoleh 25.000 pengunjung setiap bulannya. Jika dilihat dari SimilarWeb.com, jumlah kunjungannya turun dibanding bulan Desember 2014.

[Grafik: similarweb.com]

Mengingat pengalaman Fung sebagai co-founder Lazada, ditambah network yang didapatnya selama mengurusi incubator startup GEPI, seharusnya tidak sulit bagi Rupawa untuk mendapatkan investasi. Tetapi soal kapan sebaiknya mulai menerima investasi, mungkin sudah menjadi strategi tersendiri Rupawa.

 

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID