News

Teknologi Biometrik Bakal Segera Gantikan Fungsi Paspor

[Foto: Flickr.com/The U.S. Army]
Ketika bepergian ke luar negeri, paspor menjadi dokumen super-penting yang bahkan mungkin lebih penting dari uang. Identitas diri dan eksistensi Anda semua terekam dalam paspor, sehingga Anda bisa bepergian ke seluruh belahan dunia dan pulang ke Tanah Air dengan aman sentosa. Namun sebuah teknologi baru memungkinkan Anda untuk meninggalkan paspor ketika liburan ke negara lain. Teknologi semacam ini tentu akan menghilangkan kerepotan membawa paspor kemana-mana saat bepergian.

Teknologi yang disebut biometrik ini akan digunakan Australia untuk menggantikan fungsi paspor. Teknologi ini memungkinkan warga Australia untuk melewati antrian di meja imigrasi dengan menggunakan sensor biometrik untuk mengenali wajah, sidik jari, dan iris mata, baik untuk mereka yang masuk atau keluar negara itu. Jika semua berjalan sesuai rencana, penumpang yang baru tiba di bandara Australia dari negara lain bisa meninggalkan bandara secepat mereka yang turun dari penerbangan domestik.

Sistem biometrik tersebut rencananya akan menggantikan SmartGates yang kini sudah terpasang di beberapa bandara. SmartGates akan memindai paspor secara elektronik, namun pintu-pintu ini akan segera digantikan oleh teknologi “tanpa kontak.”

Baca Juga:  Perusahaan Ridehailing Careem di Pakistan Mulai Merekrut Wanita Sebagai Driver

Seperti dilansir dari Sydney Morning Herald, Selasa, 24 Januari 2017, walaupun proyek ambisius yang diperkirakan bakal memakan dana 75 juta dolar Australia ini akan diterapkan dalam lima tahun mendatang, masih belum jelas bagaimana cara Departemen Imigrasi dan Perlindungan Perbatasan negara itu melakukan pemeriksaan terhadap para pendatang.

Namun lembaga pemerintah tampaknya terbuka untuk sedikit saran. “Departemen Imigrasi meminta para peserta tender untuk memberikan solusi inovatif untuk memungkinkan pengunjung untul melakukan pengecekan mandiri,” kata juru bicara departemen tersebut kepada Sydney Morning Herald. “Departemen belum mendefinisikan solusi apapun untuk hal ini.”

Namun bukan berarti departemen imigrasi Australia tidak punya langkah spesifik untuk mewujudkan rencana tersebut. Mereka berencana untuk membuat pilot project untuk mengujicoba teknologi yang akan digunakan di Bandara Canberra, Juli 2017 mendatang. Setelahnya, teknologi tersebut akan diperkenalkan ke bandara utama seperti Sydney dan Melbourne, pada bulan November. Jika berhasil dengan baik, maka penerapan teknologi biometrik akan diberlakukan di seluruh bandara internasional Australia, Maret 2019 mendatang.

Baca Juga:  Pemerintah Berencana Blokir Aplikasi Terkait LGBT

Walaupun saat ini teknologi biometrik telah cukup maju, namun ternyata teknologi ini masih punya banyak kekurangan. Menurut laporan dari The Atlantic, beberapa ujicoba yang dilakukan terhadap sistem pengenalan wajah telah menemukan kekurangan dalam sistem berupa ketidak-akuratan dalam membaca ras manusia melalui wajah, dan beberapa masalah lainnya.

Pada 22 Desember 2016 lalu, contohnya, seorang penumpang bernama Richard Lee ditolak karena pindai foro online-nya mengatakan “mata dari subyek tertutup.” Di foto tersebut Lee, warga keturunan Asia yang memiliki wajah oriental, tidak menutup matanya. Namun sistem gagal mengenalinya.

Menurut laporan The Interept, beberapa pihak juga telah mengajukan keluhan mengenai privasi. Mereka menyampaikan kekhawatiran bahwa sistem tersebut mengancam kebebasan sipil warga negara dalam beberapa kapasitas, khususnya yang berkaitan dengan pengenalan ras.

Walau masih memiliki banyak kekurangan, teknologi biometrik nampaknya akan berperan lebih banyak di masa depan.