Opinion

Teknologi Chip pada Kartu Kredit Berpotensi Datangkan Penipuan

[Foto: howtogeek.com]
Sudah banyak warga Amerika Serikat yang menerima kartu kredit dan kartu debit berteknologi chip. Namun, bukannya memudahkan, kecanggihan teknologi ini justru membuat pusing berbagai masyarakat dan perusahaan.

Kartu kredit dengan teknologi chip ini bernama EMV (Europay, MasterCard, and Visa). Namun, bukanlah perkara yang mudah untuk mengganti kartu kredit biasa menjadi EMV. Banyak kartu kredit yang harus diterbitkan kembali.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan CreditCard, 40 persen orang Amerika sudah menerima kartu chip EMV pada 2015. Stephanie Ericksen dari Visa menyatakan bahwa Visa sudah menerbitkan 151,8 juta kartu chip EMV. Ini terlihat sebagai jumlah yang cukup besar, tetapi sebenarnya jumlah tersebut baru merepresentasikan 20 persen dari total kartu kredit yang perlu diterbitkan kembali.

Hal ini pun memberikan potensi terhadap penipuan. Banyak pelaku penipuan yang mengambil keuntungan dari situasi ini. Caranya adalah dengan menghubungi orang-orang melalui email dan menyatakan kartu kredit EMV mereka sedang diproses.

Para penipu meminta masyarakat untuk mengonfirmasi dengan cara memberikan data-data personal mereka. Inilah yang menjadi bahaya. Sebab, secara tidak langsung, para penipu bisa menggunakan data tersebut untuk mencuri identitas Anda.

Baca Juga:  Mengenali Kapan Startup Anda Mulai Membutuhkan 'Intervensi'

Para penipu menggunakan akun email yang sudah dibajak untuk mengirimkan email mereka kepada customer. Biasanya, para penipu mengirimkan email yang terlihat profesional dengan tatanan bahasa yang baik sehingga bisa mengelabui korbannya.

Selain itu, biasanya mereka mengirim email dengan kata pembuka yang bisa berlaku secara general, seperti “Dear Cardholder”, serta tidak spesifik dalam menyebutkan nama setiap pelanggan. Masalah ini pun mengganggu para pemegang kartu kredit di Amerika Serikat.


EMV menghantui berbagai perusahaan
Ternyata, sejumlah perusahaan seperti streaming video dan musik, website kencan online, gym, dan perusahaan berbasis langganan ini kewalahan. Mereka tidak bisa menangani saat customer menerima kartu baru dan tidak memperbarui akun mereka. Hal ini menjadi permasalahan rumit dikarenakan terdapat jutaan orang yang memiliki kartu kredit.

Sejumlah akun pada situs video streaming banyak yang dibatalkan. Netflix.Inc yang memiliki sekitar 69 juta member dari seluruh dunia memperkirakan, permasalahan ini akan terus berlanjut sampai kuarter berikutnya, di saat lebih banyak kartu dengan chip yang tersedia.

Baca Juga:  Sebenarnya Apa Sih yang Dimaksud Batasan FUP pada Layanan IndiHome?

Saat ini, layanan berlangganan memang semakin terkenal. Pelanggan bisa membayar berbagai hal secara otomatis melalui kartunya. Namun yang jadi permasalahan, belakangan ini pelanggan tidak mengecek dan memperbarui akunnya secara rutin setiap bulan untuk layanan jasa. Entah mereka lupa atau tidak mengetahui bahwa mereka butuh melakukan update terkait kartu kreditnya yang baru.

“Jumlah kartu kredit seringkali tetap sama. Namun, masa berlakunya saja yang berubah”, kata Matt Schulz, analis kartu kredit senior pada CreditCards, sebagaimana dilansir dari laman NBC News. Jika masa berlaku kartu berbeda, biasanya pembayaran tidak bisa dilakukan.

Seperti ditulis dalam Aol, perusahaan Recurly dari San Francisco yang mengatur pembayaran tagihan untuk lebih dari 1.900 pelanggan, mengatakan bahwa mereka sudah melihat sedikit peningkatan dari penolakan kartu kredit.

Setahun yang lalu, di Los Gatos, perusahaan dari California, terdapat sejumlah akun pelanggan yang sempat tertahan dikarenakan pemutusan data The Home Depot, di mana hal ini memaksa banyak customer yang berbelanja di toko perlengkapan rumah untuk memiliki kartu kredit baru.

Baca Juga:  Fenomena Beauty Vlogger dan Peluang Influencer Marketing pada Industri Kosmetik

Sama dengan hal tersebut, IAC/InterActiveCorp, perusahaan asal New York yang memiliki situs kencan online seperti Match.com dan OkCupid, mengatakan bahwa tahun lalu, kartu kredit yang tidak diperbarui menjadi permasalahan pemutusan keamanan utama di Target dan Home Depot.

Hal tersebut menghabiskan dana sebesar 5 juta USD dalam pendapatan tahunan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

Selama beberapa bulan mendatang, kartu kredit baru yang terus menghantui bisnis berlangganan ini akan tetap menjadi masalah. Namun, sebagian besar kartu kredit di Amerika Serikat belum sepenuhnya berganti menjadi kartu kredit dengan chip atau EMV.