News

Teleskop Baru Mungkinkan Astronom Pelajari Planet di Galaksi Lain

[Foto: Wikimedia.org]
[Foto: Wikimedia.org]
Para peneliti di Universitas Princeton di New Jersey, Amerika Serikat telah mengembangkan instrumen baru bagi Teleskop Subaru, yang memungkinkan teleskop untuk menangkap spektrum eksoplanet, yakni planet-planet di luar Bimasakti, yang mengorbit pada bintang-bintang terdekat dari sistem tata surya kita.

Spektrum adalah pita-pita warna yang tercipta dari cahaya yang diurai dan dipisahkan oleh pembiasan dalam derajat yang berbeda, yang berbasis kepada panjang gelombang cahaya. Spektrum sangat berguna dalam proses observasi planet, karena warna-warna tersebut bisa menjelaskan lebih detail mengenai keadaan fisik planet, seperti komposisi, kepadatan atau massa jenis, berat, terangnya cahaya, dan pergerakan relatif.

Instrumen baru tersebut disebut Coronagraphic High Angular Resolution Imaging Spectrograph (CHARIS).

Profesor N. Jeremy Kasdin, peneliti yang mengepalai tim yang merancang dan membuat CHARIS, instrumen yang mampu mengisolasi cahaya yang dipantulkan planet yang lebih besar daripada Jupiter, yang berada di luar tata surya kita. Instrumen tersebut juga akan menganalisa cahaya untuk mempelajari ukuran, usia, dan komponen atmosferik planet.

Observasi yang baru-baru ini dilakukan, yang dijuluki “the first light” oleh komunitas astronomi, menjadi sebuah ujicoba lapangan pertama bagi instrumen baru di Teleskop Subaru tersebut. Dari demonstrasi yang dilakukan, instrumen tersebut telah beroperasi dengan sukses.

Para teknisi di Princeton, yang dipimpin oleh Tyler Groff yang kini bekerja di NASA, membutuhkan waktu lima tahun untuk merampungkan CHARIS. Teleskop tersebut memiliki sembilan cermin, lima filter, dua rakitan prisma, dan sebuah susunan lensa mikro. Proyek CHARIS dijalankan dengan kerjasama Universitas Princeton dengan Universitas Tokyo dan Observatori Astronomi Nasional Jepang.

Menurut Groff, dengan menganalisa spektrum planet, astronom akan bisa melihat fitur-fitur spesifik melampaui komposisi atmosfer dasar, yang diharapkan akan membantu memahami massa, temperatur, dan usia planet dengan lebih mudah.

Spektograf yang berada di belakang perangkat yang disebut coronagraf, alat yang menyalurkan cahaya dar teleskop, dan menggunakan pola-pola interferensi untuk memisahkan cahaya yang datang langsung dari sebuah bintang dari cahaya yang terpantul oleh planet yang mengorbit di bintang tersebut. Cara kerjanya seperti  memilih cahaya yang terpancar dari setitik obyek gemerlap yang mengambang di depan sebuah lampu sorot, namun ini jaraknya ratusan mil.

“Kami telah mengujicoba teleskop untuk mengamati Neptunus, namun keseluruhan planet tersebut bahkan tak cocok dengan detektor kami,” kata Groff. Namun bidang pandang spektograf sangat mendetail, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi menarik terhadap awan yang meliputi permukaan planet tersebut.

Karena CHARIS hanya memiliki dua detik busur (arcsecond), unit pengukuran sudut yang digunakan untuk menggambarkan lokasi obyek dalam ruang yang berada di langit, keduanya akan mengambil gambar menggunakan satu pita warna yang lebar, yang akan memudahkan astronom untuk melakukan analisa mendetail di lapangan. Sejauh ini, menurut Kasdin, hasilnya menggembirakan.

Menurut Groff, komunitas astronomi sedang sangat bersemangat untuk menjalankan berbagai proyek, dan para penyandang dana kini sedang meninjau sejumlah proposal riset. “Jadi semua orang sedang bergairah,” katanya.

“CHARIS melampaui harapan kita semua,” kata Kasdin dana rilis pers-nya. “Saya tak bisa memuji tim dengan kata-kata yang cukup pantas untuk semya kerja keras dan dedikasi mereka dalam mensukseskan proyek CHARIS. Kini (teleskop baru tersebut) berada di jalur yang benar untuk segera melayani observasi sains Februari 2017 mendatang.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID