Home  »  News   »  
News

Tulang Belulang Putri Duyung Disimpan di Kuil Jepang: Benarkah Makhluk Tersebut Ada?

[Foto: Shutterstock]
Apakah putri duyung benar-benar ada di dunia nyata? Pertanyaan itu bisa jadi akan terjawab dengan adanya penemuan berupa tulang belulang, yang dipercaya merupakan sisa-sisa dari seorang putri duyung—atau manusia duyung—yang terdampar di pesisir pantai di abad ke-13 lalu.

Putri duyung merupakan makhluk imajiner yang hingga saat ini belum terbukti keberadaannya. Namun sebuah kuil legendaris di Jepang telah menyimpan apa yang dipercaya sebagai sisa-sisa tubuh putri duyung tersebut selama delapan abad. Tulang belulang yang disimpan di kuil Ryuguji di Hakata, Fukuoka, bisa kita lihat sendiri dengan menelepon pengurus kuil dan membuat janji.

Menurut legenda, seekor (atau seorang) manusia duyung telah dikubur di dalam kuil setelah makhluk tersebut mati terdampar di sebuah dermaga di Hakata, pada masa kekaisaran Jepang di tanggal 14 April 1222, di pulau Kyushu.

Seperti dilansir dari The Asahi Shimbun, Selasa, 11 April 2017, Abe-no Otomi, seorang cenayang yang terkenal dengan kemampuan paranormalnya yang besar mengatakan, kemunculan makhluk misterius itu merupakan “pertanda baik akan datangnya kemakmuran negara (yang akan bertahan) dalam waktu yang lama.”

Baca Juga:  Punya Google Drive Tak Halangi Google Bermitra Dengan Box

Berdasarkan kata-kata sang cenayang, manusia duyung itu kemudian dikubur di Ukimido, sebuah aula yang berada di dekat aula utama yang dipersembahkan bagi Kanzeon Bodhisattva, alias Dewi Kwan Im. Ukimido kemudian populer dengan nama Ryugu-Ukimido, karena orang-orang percaya bahwa manusia duyung berasal dari Ryugu, istana misterius di mana dewa naga penguasa lautan tinggal.

Sebuah monumen batu ditempatkan di kuil, dengan pahatan yang berbunyi Ningyo-zuka atau “kuburan manusia duyung.”


Ryusei Okamura (65), biksu kepala di kuil tersebut, menunjukkan tulang belulang di aula utama, di mana ia selama ini disimpan.

Menurut teks yang tertera di sana, tulang belulang itu diyakini berasal dari “putri duyung digali dari kuil Ryuguji.” Deskripsi lain mengatakan, “Mereka dianggap sebagai makhluk mamalia.”

Saat ini hanya tersisa enam buah tulang, yang dikatakan telah digali antara tahun 1772 dan 1781.

Permukaan salah satu bagian tulang yang lebih besar terlihat seperti kayu, namun banyak juga tulang yang memiliki permukaan mengkilap, yang nampaknya disebabkan oleh minyak dari tangan pengunjung menyentuh mereka.

Baca Juga:  Studi: Remaja yang Kecanduan Smartphone dan Video Game Merasa Tak Bahagia

Hingga Era Meiji (1868-1912), kuil Ryuguji menawarkan air yang digunakan untuk merendam tulang putri duyung kepada pengunjung di sebuah festival musim panas. Meminum air tersebut diyakini bisa menangkal penyakit.

Pertanyaannya adalah: apakah tulang benar-benar sisa tubuh putri duyung?

Para skeptis mengatakan, legenda putri duyung yang terkenal di seluruh dunia mungkin merupakan cerita yang dilebih-lebihkan dari penampakan dugong.

Yoshihito Wakai, wakil direktur Toba Aquarium di Toba, Prefektur Mie, satu-satunya akuarium di Jepang yang memiliki dugong, telah melihat foto-foto dari tulang manusia duyung itu.

“Saya tidak bisa mengatakan apa-apa tentang ini,” kata Wakai, yang merupakan ahli dugong. “Saya pikir lebih baik membiarkan legenda tetap menjadi legenda.”

Serena, dugong yang tinggal di akuarium, memiliki panjang tubuh 2,6 meter dan berat 380 kilogram. Kolamnya dinamai Mermaid Sea. Binatang itu merupakan hadiah dari Filipina 30 tahun yang lalu.

Habitat dugong di sekitar Jepang berada di laut sekitar Okinawa Prefecture, bagian selatan Kyushu.

Tulang putri duyung dalam kuil mungkin berasal dari lumba-lumba tanpa sirip yang berenang sampai ke Laut Seto antara Kyushu dan pulau-pulau utama Shikoku dan Honshu, serta perairan lepas pantai utara Prefektur Fukuoka.

Baca Juga:  Gua di Afrika Selatan Sembunyikan Sisa-Sisa Tubuh ‘Kerabat’ Manusia

Wakai melihat lumba-lumba tanpa sirip dalam tangki di akuarium. “Perilaku mereka menyerupai manusia, bukan? Banyak makhluk laut memiliki potensi untuk dikira sebagai putri duyung.”