Opinion

Tuyul-Tuyul Go-Jek

[Foto: Christopher Woodrich | flickr.com]
Inisial namanya SS. Seorang pengemudi Go-Jek yang usianya belum sampai 30 tahun. Sepanjang perjalanan dia bercerita tentang “tuyul-tuyul” Go-Jek. “Tuyul” yang dimaksud adalah trik-trik yang digunakan sebagian pengemudi Go-Jek untuk mendapatkan order lebih banyak. Oknum pekerja IT di dalam PT Go-Jek Indonesia pun menurutnya ikut terlibat. Bukan cerita baru sebenarnya, sudah sekian kali saya mendengar cerita yang sama dari pengemudi Go-Jek yang lain.

“Kalau dulu, Mas, aplikasinya ada yang dimodifikasi. Tapi bayar pastinya. Jadi kalau ada request, otomatis dia dapat. Itu sebelum ada fitur autobid di aplikasi resminya, lho,” ujar pria ini. Namun dia tidak bisa memastikan dari mana sumber aplikasi hasil modifikasi tersebut.

Sekarang modifikasi untuk tujuan auto approve request ini tidak lagi ada gunanya, karena aplikasi resmi terbaru bagi pengendara Go-Jek memang sudah dilengkapi fitur autobid. “Tapi masih ada aja sih Mas yang modif-modifan. Kalo istilah kita, tuyul gitu, Mas.” lanjutnya sambil mempercepat laju sepeda motor menjelang lampu lalu lintas berganti hijau.

“Tuyul” Go-Jek memang tidak hanya berupa modifikasi agar cepat mendapatkan pelanggan saja, ada juga yang bertujuan untuk mengelabui posisi. Dengan mengakali lokasi GPS, pengemudi Go-Jek bisa seolah-olah berada di titik-titik yang dekat dengan calon penumpang. Tidak hanya satu titik, dengan akal-akalan ini mereka bahkan bisa membuat dirinya seolah berada di beberapa titik sekaligus.

“Member” Go-Jek

Sekitar bulan Maret 2016 lalu, saya juga mendengar cerita dari seorang pengemudi Go-Jek yang lain. Seorang pria yang berumur di atas 40 tahun. Dia mengaku kesal dengan mereka yang “menjadi member”. Member yang dimaksud oleh bapak ini tentu saja bukan keanggotaan sebagai mitra pengemudi Go-Jek. Member yang dimaksud adalah menjadi anggota berbayar untuk mendapatkan “tuyul Go-Jek”.

Bapak ini bercerita jika pengemudi Go-Jek mau menjadi “member”, maka mereka akan mendapatkan prioritas pemesanan, terutama untuk jarak pendek, sekitar 1-3km. “Mainnya di Go-Food biasanya, Mas. Beuh, pantes aja ordernya bisa banyak, jarak pendek semua lagi. Kalau gak member mana bisa,” ujarnya dengan kesal. Tentunya ini bukan keanggotaan resmi. Menurut cerita bapak ini, ini adalah ulah oknum di dalam PT Go-Jek sendiri. “Mainan orang IT-nya, Mas, ” ujarnya.

Untuk menjadi “member” ini tidaklah murah. Bapak ini bercerita kalau tarif per orang yang dikenakan adalah 1 juta Rupiah per minggu. Wow. Bisa jadi angka yang disebutkan bapak ini dilebih-lebihkan sih. Karena ini bukan pertama kalinya juga saya mendengar cerita ini. Seorang teman saya pernah mendapatkan cerita yang sama dari pengemudi Go-Jek yang lain. Hanya saja waktu itu menurut cerita si abang Go-Jek, tarifnya hanya Rp 50.000 per orang, tetapi harus mengumpulkan minimal sekian orang.

[Gambar: Tampilan aplikasi mitra pengemudi Go-Jek]
Cerita mengenai oknum IT Go-Jek yang ikut bermain ini menarik. Setidaknya saya pernah menanyakan perihal ini ke 5 orang pengemudi Go-Jek. Semuanya mengiyakan keterlibatan oknum IT ini. Dan yang lebih menarik lagi mereka menyebut pelakunya dengan nama yang sama, inisialnya “A”. Namun menurut mereka oknum ini sudah tidak lagi bekerja di Go-Jek. “Oooh, udah kena pecat, Mas. Tapi lucu Mas, kata anak-anak dia pindah ke GrabBike sekarang. Hahaha. Makan dah tuh,” ujar SS kepada saya girang.

Setelah dipecatnya oknum “A” ini ternyata tidak serta membuat “tuyul-tuyul” di Go-Jek hilang. SS bercerita jika ia masih saja mendapatkan tawaran-tawaran aplikasi modifikasi yang menjanjikan bisa mendapatkan pemesanan lebih banyak. Tetapi ia tidak tertarik. Ia mengaku pernah juga menjadi “member”. Tetapi ternyata hasilnya tidak seperti yang diceritakan teman-temannya. “Segitu-gitu aja kok ordernya, kagak ngaruh. Pakai aplikasi ori ajalah udah..” ujarnya.

Namun SS mengaku teman-temannya banyak yang tertarik dengan tawaran pemasangan aplikasi resmi mitra Go-Jek di ponsel non-resmi. SS menjelaskan, Go-Jek mewajibkan semua pengemudinya menggunakan ponsel ZTE dan Huawei (3G) yang diberikan oleh Go-Jek -dibayar dengan cicilan. Tetapi belakangan karena 4G mulai populer, ada anggapan ponsel yang menggunakan kartu SIM Card 4G bisa mendapatkan pemesanan lebih cepat. Sayangnya aplikasi mitra Go-Jek resmi tidak disediakan secara publik, hanya bisa dipasang oleh tim dari Go-Jek.

“Jadi dikenai biaya berapa, Mas untuk memasang aplikasi ori mitra Go-Jek di ponsel non-resmi?” tanya saya. SS tertawa mendengar pertanyaan saya.

“Bukan minta biaya pasang aplikasinya, Mas. Mereka justru jual hepon 4G yang sudah dipasangi aplikasi ori-nya. Haha. Bisa aja ya mereka, Mas.” jelas SS sambil tertawa. Ia lalu menambahkan praktek ini juga dilakukan oleh oknum dari Go-Jek sendiri.

Untuk mengatasi hal ini saya rasa Go-Jek sebaiknya membiarkan aplikasi bagi mitra pengemudinya tersedia di Google Play ataupun App Store. Toh Uber dan Grab pun masingmasing menyediakan aplikasi bagi pengemudinya di Google Play dan App Store. Kecuali jika memang Go-Jek belum yakin dengan keamanan aplikasinya sendiri jika tersedia secara publik, atau Go-Jek punya misi lain dibalik keharusan menggunakan ponsel resmi dari Go-Jek.

Kesadaran Manajemen Go-Jek

Dengan cerita seperti ini yang beredar begitu luas di kalangan pengemudi Go-Jek, tentu saja manajemen Go-Jek sadar tentang hal ini. Sejak tahun 2015 mereka sudah pernah memberi peringatan cukup keras kepada mitra pengemudinya.

[Gambar: seword.com]
Namun larangan ini sepertinya belum berhasil membasmi “tuyul-tuyul” Go-Jek yang masih beredar. Di laman Google+ Komunitas Gojek Indonesia, masih dengan gamblang bisa kita lihat diskusi tentang aplikasi modifikasi sampai dengan akun bodong.

[Gambar: G+ Komunitas Gojek Indonesia]
Dengan tim pengembang Go-Jek di India yang kabarnya sangat mumpuni itu, tampaknya mereka harus bekerja lebih keras lagi untuk mengusir “tuyul-tuyul” Go-Jek yang masih saja gentayangan, tanpa peduli apakah “tuyul”-nya karya anak bangsa atau bukan.

 

Catatan: Terlepas dari semua cerita miring soal Go-Jek, saya masih pengguna setia Go-Jek. 

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID