News

Uber Selesaikan Kasus dengan Dua Wanita Korban Pelecehan Seksual

[Foto: Freestocks.org]
[Foto: Freestocks.org]
Perusahaan jaringan transportasi via aplikasi Uber dilaporkan telah menyelesaikan dua kasus pelecehan seksual yang diduga melibatkan partner atau driver mereka pada 2015. Dilaporkan oleh Bloomberg, kedua wanita yang menjadi korban pelecehan menuntut driver terkait untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.

Ketika gugatan dilayangkan, Uber membantah pihaknya bertanggungjawab, karena para driver sejatinya adalah kontraktor, bukan karyawan Uber. Namun jaksa federal menolak untuk menutup kasus tersebut pada Mei 2016. Kini, enam bulan kemudian, kedua pihak dikabarkan telah mencapai kesepakatan walaupun detail-detail mengenai kesepakatan tersebut tidak dipublikasikan.

Berdasarkan keterangan salah satu wanita korban pelecehan seksual yang melapor, seorang driver Uber melakukan pelecehan pada bulan Februari 2015 di Boston, Amerika Serikat, setelah menurunkan teman-teman wanita tersebut di suatu tempat. Cerita wanita kedua kurang lebih sama, namun wanita kedua tak berhasil meloloskan diri hingga akhirnya diperkosa brutal pada Agustus 2015, setelah driver Uber menurunkan teman-temannya.

Kedua kasus tersebut kembali menyeret Uber kepada masalah yang sama: fakta bahwa perusahaan tersebut tidak mengambil sidik jari para driver-nya dan hanya mengandalkan catatan pengadilan untuk memeriksa nama dan riwayat mereka.

Walaupun Uber telah berhasil berdamai dengan kedua wanita korban pelecehan, namun perusahaan pembuat aplikasi transportasi online tersebut nampaknya cukup sering terjegal oleh kasus yang serupa. Sebuah dokumen yang diungkapkan awal tahun ini menunjukkan bahwa Uber telah berurusan dengan banyak kasus dugaan pelecehan seksual di beberapa negara selain AS.

Menurut laporan Reuters, seorang mantan driver Uber telah dinyatakan bersalah atas kasus perkosaan yang terjadi di New Delhi, India, yang berujung pelarangan operasi Uber pada 2014 di kota tersebut. Shiv Kumar Yadav dituntut atas tuduhan perkosaan, penculikan, dan intimidasi. Karena kasus ini, Uber di India mulai mengumpulkan ulang informasi mengenai partner-partner mereka yang beroperasi di seluruh New Delhi.

Kasus serupa juga terjadi pada 2015 lalu, ketika Uber mencekal seorang driver Perancisnya setelah yang bersangkutan ditangkap karena tuduhan pelecehan seksual. Kasus ini terjadi beberapa saat setelah pelarangan layanan UberPop di Jerman, serangan di kantor Uber Perancis dan Korea Selatan oleh polisi, dan penolakan PBB atas tawaran kerjasama dengan Uber.

Insiden terkait driver berkebangsaan Perancis tersebut terjadi sekitar pertengahan Januari 2015.

Walaupun Uber telah menyelesaikan urusan dengan dua wanita korban pelecehan, perusahaan tersebut nampaknya masih harus berkutat dengan beberapa masalah hukum yang serupa. Di Indonesia, kasus yang melibatkan Uber memang bukan kasus pelecehan. Pada Juli 2016 lalu, seorang penumpang Uber di Jakarta mengalami kejadian tak menyenangkan ketika menumpang mobil yang dipanggil melalui aplikasi tersebut, ketika penumpang wanita tersebut diancam dengan senjata mirip pistol oleh driver Uber yang ditumpanginya. Wanita tersebut juga diduga mengalami tindak kekerasan.

Menurut laporan Kompas, saat itu korban tengah menumpang Uber bersama Ibu dan rekannya. Namun di tengah perjalanan, driver meminta korban dan penumpang lainnya turun, dengan alasan capek dan jalanan macet, namun korban menolak karena saat itu ibunya sedang sakit. Namun tak disangka, driver Uber tersebut malah menodongkan benda mirip pistol untuk mengancam korban, namun ditepis oleh korban. Driver lalu menampar korban sebanyak dua kali. Saat ini driver tersebut telah di-nonaktifkan oleh Uber.

Jika Anda mencari di mesin pencari Google, Anda akan bisa menemukan banyak sekali cerita pelecehan seksual, kekerasan, dan kasus lainnya yang menjegal Uber dan sesama perusahaan pembuat aplikasi pemanggil transportasi publik lainnya.

 

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID