News

Utamakan Kendaraan Listrik, China Larang Produksi Mobil Berbahan Bakar Bensin

Mobil listrik yang tengah diisi ulang dayanya
Mobil listrik yang tengah diisi ulang dayanya. [Foto: Shutterstock]
China berencana untuk melarang kendaraan baru yang didukung oleh mesin bensin dan diesel. Hal ini dapat berimplikasi pada industri automotif global.

Langkah ini di hembuskan karena isu lingkungan, namun hal ini juga sebenarnya dilakukan karena ekonomi.

China akan memberikan batas waktu bagi perusahaan pembuat mobil untuk menghentikan penjualan mobil yang dijalankan menggunakan Bensin & Diesel saja. Berita tersebut di umumkan akhir pekan ini oleh Xin Guobin, wakil menteri industri dan teknologi negara.

Tidak ada tanggal pasti yang diberikan, namun tahun ini Inggris dan Perancis masin-masing berjanji akan menetapkan larangan tersebut pada tahun 2040. Beberapa negara eropa lainnya dan India telah mengumumkan versi mereka sendiri, sebagian lainnya menekan produksi untuk mengurangi efek rumah kaca berdasarkan kesepakatan internasional mengenai Iklim pada Persetujuan Paris.

Cina, yang masih merupakan penghasil emisi rumah kaca terbesar di Dunia, berupaya memperbaiki negaranya agar dapat menjadi pemimpin global dalam inisiatif terhadap lingkungan. Presidennya, Xi Jinping, telah menjadi salah satu pendukung paling vokal pada Persetujuan Paris tersebut.

Baca Juga:  Diskriminasi Gender di Google: Karyawan Wanita Digaji Lebih Kecil

Negara ini juga memiliki tujuan lain. Pada tahun 2010, telah memperjelas niat jangka panjangnya untuk menjadi negara nomor 1 dalam penjualan kendaraan listrik.


“Pasar cina sendiri sangat besar” seperti yang di terangkan oleh Bill Hampton, penerbit AutoBeat Daily. “Hal ini akan mendorong pasar cina dengan sangat cepat dan pasti bisa menciptakan pembangkit tenaga listrik untuk ekspor dan mendorong cina memasuki pasar kendaraan listrik global”

“Para pemimpin Cina melihat keberhasilan Tesla dan Perusahaan California lainnya dan ingin mempromosikan kesuksesan yang sama di antara sesama produsen mobil China, “ Kata Sophi Lu, Kepala riset Bloomberg New china finance yang berbasis di Beijing, yang meneliti pasar energi.

Langkah tersebut dapat mempengaruhi strategi perusahaan pembuat mobil, pembelian mobil korporat, kebijakan perdagangan dan pembagian kekayaan intelektual. Beberapa analis mengatakan bahwa rencana tersebut dapat mengobarkan ketegangan perdagangan antara China & Pemerintahan Trump.

Dalam sebuah artikel opini di Automotif New China,  Michael Dunne dari Dunne Automotive di Hongkong mengatakan pada hari Senin bahwa peraturan baru mungkin akan “dirancang untuk membuat China lebih unggul dalam pasar kendaraan listrik.”

Baca Juga:  Startup Lokal Shopious.com Akhirnya Harus "Magud"

Pemerintah China mewajibkan produsen mobil asing untuk memasukki usaha patungan 50:50 dengan perusahaan China untuk membuat dan menjual Mobil dan Truk di pasar China yang sangat besar. Tahun lalu total penjualan kendaraan di China mencapai 28 Juta, naik 13,7% dari tahun sebelumnya, menurut IHS Markit. Sedangkan di Amerika Serikat, sebanyak 17,5juta kendaraan terjual dan pertumbuhannya tetap atau hampir rata. Penjualan mobil listrik di kedua negara tersebut masih sangat kecil yaitu sebanyak 359,000 di China dibandingkan dengan 159,000 di Amerika Serikat, dan separuhnya dari California.

Untuk memasukki pasar cina yang besar, pembuat mobil dari Amerika Serikat akan membutuhkan listrik dan kendaraan listrik dalam formasi mereka, kata Michelle Krebs, analis trader di AutoTrader. Kendaraan listrik ini termasuk plug-in hybrid, yang biasanya bisa berjalan sejauh ‘Lusinan’ mile dengan tenaga listrik saja.

“Terlepas dari apa yang kami lakukan oleh Amerika Serikat pada tinggal federal, pembuat mobil asal Amerika Serikat akan terus mengembangkan kendaraan tersebut karena mereka tidak dapat mengabaikan pasar China,” katanya. “Ini sangat besar, dan disitulah perubahan dan keuntungan masa depan berasal.

Baca Juga:  Ilmuwan Ungkap Wajah Planet Bumi 250 Tahun dari Sekarang