Opinion

Wanita Ini Menderita Alergi Wi-Fi dan Sinyal Telepon

[Foto: cliparts.co]
Penggunaan jaringan internet tanpa kabel atau Wi-Fi merupakan salah satu pertanda meluasnya perkembangan teknologi di era digital. Di balik era modern yang tercipta, sinyal yang terpancar di hampir semua sudut ruang publik bisa jadi mulai memicu masalah kesehatan baru, yakni alergi Wi-Fi.

Seperti yang dialami oleh Kim De’Atta. Jika kebanyakan orang cenderung tak bisa hidup tanpa smartphone dan sambungan internet, wanita ini justru mengaku alergi terhadap Wi-Fi dan sinyal telepon.

Ternyata Kim memiliki alergi terhadap gelombang elektromagnetik. Karena alerginya tersebut, Kim menderita migrain, kelelahan, bahkan infeksi jika terpapar Wi-Fi ataupun sinyal telepon. Ia pun jarang bertemu dengan keluarga dan teman-temannya.

Saat ingin keluar rumah, Kim harus memakai kelambu untuk melindunginya dari gelombang elektromagnetik. Ia juga hanya bisa mengunjungi tempat yang susah sinyal telepon agar tak terpapar. Selain itu, alerginya juga memaksanya untuk pindah rumah hingga dua kali, karena tiang-tiang telepon dibangun di sekitar rumahnya. Saat tidur, Kim pun harus memakai sebuah kelambu khusus.

“Sebagian orang beranggapan bahwa saya gila. Padahal apa yang saya alami sangat sulit, ini karena mereka tak pernah mengalaminya,” tutur Kim, seperti dilansir dari Metro.

Kim De’Atta [Foto: metro.co.uk]
Kim bercerita, alergi tersebut bermula saat usianya 16 tahun dan hidup di selatan London. Ia mulai terkena alergi saat berada di samping televisi. “Alergi saya makin parah beberapa tahun setelahnya, saat saya bekerja sebagai perawat di unit intensif dan membeli sebuah ponsel. Ponsel itu sangat diperlukan untuk berkomunikasi saat kondisi darurat,” kata Kim.

Gejala terjadi saat pertama kali Kim menelepon. Ia merasa sangat sakit seperti laser masuk ke kepala dan otaknya. Lalu ia menyadari, tiap kali berada di dekat smartphone, televisi, Wi-Fi, dan perangkat elektronik, dirinya mengalami rasa sakit itu.

Agar tak mengalami alergi tersebut, Kim pun mengaku selalu melarikan diri dari sinyal telepon. Untuk menghindari sinyal telepon, ia pernah pindah ke Glastonbury. Namun beberapa tahun setelahnya, kota tersebut mulai terhubung dengan sinyal telepon dan Wi-Fi.

Hingga kini, Kim masih melarikan diri dari sinyal telepon, berharap agar bisa terlindungi dari gelombang elektromagnetik dan sinyal telepon.

WHO Menyebutnya Sebagai Electromagnetic Hypersensitivity

Pada 2015 silam, banyak orang yang mengaku menderita sakit kepala, pusing, sampai iritasi kulit karena mengalami sensitivitas dan ketidaknyamanan akibat adanya sumber gelombang elektromagnetik di sekitarnya. Menurut World Health Organization (WHO), kondisi ini disebut sebagai Electromagnetic Hypersensitivity (EHS).


Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID