Home  »  News   »  
News

Waspada! 6 Evolusi Serangan Malware ‘Lebih Cerdas’ di Tahun 2017

[Foto: rentacomputertoday.com]
[Foto: rentacomputertoday.com]
Seiring tahun berlalu, kasus hacking atau peretasan semakin sering terjadi. Umumnya, kasus peretasan bertujuan untuk mengambil data-data tertentu yang dimiliki target. Namun, ada juga peretasan yang bertujuan menghancurkan data atau sistem tertentu sehingga berdampak pada kerusakan digital.

Perangkat IoT (Internet-of-Things) dibajak untuk menutup bagian besar dari internet. IoT sendiri merupakan sebuah perangkat yang memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan internet, yang bertujuan memperluas manfaat dari konektivitas internet tersebut. Biasanya, ini adalah kemampuan untuk membagi data, remote control serta beberapa hal lain.

Salah satu contoh kasus kejahatan malware adalah dokumen yang dicuri digunakan dalam upaya mempengaruhi pemilihan presiden Amerika Serikat. Ransomware, termasuk kasus tebusan yang ditargetkan dan bernilai tinggi, mulai mencapai tingkat wabah. Serangan-serangan yang sejenis ini memiliki dampak luar biasa yang tidak terbatas pada korban mereka.

Menanggapi hal tersebut, FortiGuard Labs Fortinet membuat enam prediksi tentang evolusi dari ancaman cyber untuk 2017. Berikut adalah ulasannya, seperti dalam keterangan pers yang kami terima, 1 Desember 2016.

Baca Juga:  Benda Misterius Jatuh di Pegunungan Myanmar

Serangan ‘lebih cerdas’ seperti manusia

Ancaman semakin pintar dan semakin mampu beroperasi secara mandiri. Di tahun mendatang, diperkirakan malware akan dirancang “seperti manusia” dengan pembelajaran adaptif dan berbasis keberhasilan untuk meningkatkan dampak serta efektivitas serangan.

Produsen IoT akan bertanggung jawab atas pelanggaran keamanan


Jika produsen IoT gagal mengamankan secara lebih perangkat mereka, maka bisa berdampak pada hancurnya ekonomi digital. Apalagi jika konsumen mulai ragu-ragu untuk membeli mereka akibat ketakutan akan keamanan cyber. Konsumen, vendor, dan kelompok kepentingan lainnya lebih banyak meminta tindakan untuk penciptaan dan penegakan standar keamanan, sehingga produsen perangkat bertanggung jawab atas perilaku perangkat mereka di alam liar.

20 miliar perangkat IoT adalah mata rantai terlemah untuk menyerang Cloud

Mata rantai terlemah dalam keamanan Cloud tidak ditemukan. Itu terletak pada jutaan perangkat remote yang mengakses sumber daya Cloud. Diperkirakan, serangan yang dirancang untuk mengeksploitasi perangkat endpoint, sehingga serangan sisi klien dapat secara efektif menargetkan dan membobol penyedia Cloud.

Baca Juga:  Benarkah Android Lebih Mudah Diretas Ketimbang iOS?

Organisasi akan semakin mengadopsi strategi keamanan dan segmentasi berbasis fabric. Sehingga memungkinkan mereka untuk menciptakan, mengatur, dan menegakkan kebijakan keamanan yang mulus antara lingkungan Cloud fisik, virtual, dan pribadi mereka dari IoT ke Cloud.

Serangan di kota-kota pintar

Dengan pertumbuhan otomatisasi bangunan dan sistem manajemen yang terus menerus selama setahun ke depan, mereka akan ditargetkan oleh para hacker. Jika salah satu sistem yang terintegrasi dikompromikan dianggap cukup berat dan cenderung menjadi sasaran bernilai tinggi untuk penjahat cyber, maka berpotensi gangguan sipil besar-besaran.

Ransomware hanya awal dari malware

Diperkirakan, serangan sangat terfokus terhadap target berprofil tinggi, seperti selebriti, tokoh politik, dan organisasi besar. Serangan otomatis akan memperkenalkan skala ekonomi untuk ransomware, yang akan memungkinkan hacker untuk memeras uang dalam jumlah kecil dari jumlah korban yang besar secara bersamaan. Sehingga biaya lebih efektif, terutama dengan menargetkan perangkat IoT.

Teknologi harus menutup kesenjangan keterampilan cyber

Kurangnya profesional yang terampil dalam keamanan cyber. Artinya, banyak organisasi atau negara yang ingin berpartisipasi dalam ekonomi digital global akan menghadapi risiko besar. Mereka jelas tidak memiliki pengalaman atau pelatihan yang diperlukan untuk mengembangkan kebijakan keamanan, melindungi aset penting yang sekarang bergerak bebas antara lingkungan jaringan, atau mengidentifikasi dan menanggapi serangan yang lebih canggih saat ini.

Baca Juga:  Berhasil Meretas Instagram, Bocah Usia 10 Tahun Ini Mendapat Rp 132 Juta