Opinion

Yang Tidak Terpikirkan Orang Mengenai Kehidupan Anak Startup

[Foto: pixabay.com]
Meningkatnya pertumbuhan startup di Indonesia rupanya tak serta merta membuat orang-orang yang berbondong-bondong membangun startup benar-benar paham bagaimana startup itu sebenarnya. Orang pada umumnya menganggap startup adalah usaha rintisan. Sebatas itu. Anggapan itu tidak salah, namun juga belum bisa mendeskripsikan startup yang sebenarnya.

Startup adalah soal pola pikir yang berbeda, sebuah perubahan dari pemikiran konvensional ke pemikiran yang unconventional. Maka, tidak hanya sekadar merintis usaha, namun juga ada beberapa hal lain yang seharusnya termasuk ke dalamnya secara kultural.

Beberapa orang mungkin berpikir startup adalah soal kerja yang bebas, jam kantor yang fleksibel, pizza gratis, dan meja pingpong. Hmm meski tidak salah juga, tetapi startup tidak boleh hanya dilihat dari sisi itu. Lebih jauh, yang dibutuhkan oleh startup sebenarnya bahkan bukan cuma soal semangat bebas dan senang-senang.

Semangat menyelesaikan masalah

Startup merupakan bisnis rintisan berbasis teknologi yang hadir sebagai jawaban atas berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. Startup hadir sebagai solusi atas sebuah problem. Maka, dalam startup, orang-orangnya dituntut sebagai problem solver, alih-alih hanya mereka yang bekerja untuk mendapat gaji.

Baca Juga:  5 Startup dengan Ide Unik yang Anda Harus Tahu

Bagi seorang founder, hal ini menjadi tantangan tersendiri, yakni bagaimana mereka merekrut orang-orang yang memiliki semangat layaknya founder. Founder haruslah merekrut orang-orang yang tidak hanya berharap dengan bekerja di startup akan mendapatkan gaji dan kerja yang menyenangkan, tetapi juga semangat untuk menciptakan sesuatu guna menyelesaikan suatu masalah. Di sinilah kemudian pentingnya sebuah value bagi tim dalam startup. Menemukan orang dengan value yang dibalut dengan visi yang sama tentunya bukan pekerjaan mudah. Namun, inilah kunci utama dari kesuksesan di startup: menemukan orang-orang yang sevisi.


Keberadaan orang-orang di sekitar founder yang tergabung dalam tim adalah sesuatu yang sangat berarti. Orang harus tahu bahwa membuat startup memiliki banyak sekali tekanan. Oleh karena itu, founder perlu dikelilingi orang-orang yang bisa mendukungnya. Mereka tidak hanya dipilih karena kemampuannya, namun juga kreativitas, semangat, dan juga hati. Mereka diseleksi tidak hanya dari IQ tetapi juga EQ.

Menantang status quo

Jika mencari tenang dan nyaman, bisa dipastikan bahwa startup bukanlah tempat yang cocok buat kalian. Startup adalah tempat tertidaknyaman karena segala hal yang stabil diobrak-abrik menjadi tidak stabil. Ibaratnya, orang-orang di startup haruslah mereka yang punya semangat untuk selalu mengubah status quo.

Baca Juga:  4 Pertanyaan Interview Mencari Sales Terbaik untuk Startup Anda

Produk yang dikembangkan startup adalah produk hasil inovasi. Jika dalam startup semua orang bergantung pada apa yang sudah ada dan nyaman dengan kondisi sekarang, bisa dipastikan startup tidak akan bisa berkembang. Maka, selain membutuhkan orang-orang yang memiliki visi-misi sama, tantangan bagi founder adalah juga menciptakan iklim yang penuh tantangan bagi anggota timnya. Setiap hal bisa menjadi tantangan yang perlu untuk diselesaikan. Dengan cara ini, orang-orang dituntut untuk selalu berpikir kreatif dan melakukan hal-hal yang tidak biasa.

Mengubah pola pikir

Akhirnya bagi kita semua baik yang bekerja di startup maupun yang tidak, satu pekerjaan penting terlebih dulu harus kita selesaikan adalah bagaimana mengubah pola pikir. Bagaimana Indonesia bisa bercita-cita jadi pemimpin ekonomi digital melalui startup-startupnya, jika pemikiran orang-orangnya sebenarnya belum berubah?

Berharap membawa perubahan melalui pembangunan startup tidak akan ada gunanya tanpa dibarengi dengan perubahan pola pikir dari manusia-manusianya. Sebab dari perubahan pola pikir, perubahan-perubahan yang lain baru bisa mengikuti di belakang. Dan inilah yang sebenarnya harus paling diketahui setiap orang tentang startup. Startup tidak hanya tempat kerja serba bebas dengan kantor playground dan orang-orangnya yang ngantor berkaos dan celana pendek. Lebih dari itu, startup adalah perubahan pola pikir yang diikuti dengan perubahan pola kerja untuk perubahan yang lebih besar.

Baca Juga:  5 Tipe Mentor yang Wajib Dimiliki Para Founder Startup