Home  »  News   »  
News

Zomato Siap Merajai Industri Foodtech di Indonesia

[Foto: zomato.com]
Beberapa waktu yang lalu, kita sempat dikejutkan dengan kabar bahwa Foodpanda hengkang dari Indonesia. Layanan pengiriman makanan ini resmi menghentikan layanannya pada 3 Oktober 2016.

Pernyataan penghentian layanan tersebut termuat dalam sebuah surat yang dikirimkan oleh Victor Delannoy, Managing Director Foodpanda Indonesia, kepada para mitra mereka di Tanah Air pada 30 September 2016 yang lalu.

Sebelumnya, muncul kabar jika Foodpanda telah mencoba menjual operasional mereka di Indonesia kepada pihak lain senilai 1 juta USD atau sekitar Rp 13 miliar.

Namun kini, hal tersebut tampaknya berkebalikan dengan misi Zomato. Perusahaan foodtech yang berbasis di India ini justru menegaskan akan melipatgandakan usaha mereka dan menargetkan untuk memenangkan pertarungan sengit di Indonesia.

Demi merajai industri foodtech di Indonesia, Zamota menghadirkan fitur sosial baru dan mutakhir dengan menghubungkan Zomato dengan aplikasi pihak ketiga.

Seperti diketahui bahwa Zomato merupakan panduan restoran secara online, yang menyediakan informasi lengkap meliputi daftar makanan, foto, ulasan, hingga rating berbagai restoran di Jakarta dan Bali.

Kini, perusahaan yang didukung oleh beberapa investor ini mengklaim telah mencapai titik impas di awal tahun. Kemudian mendapatkan investasi lebih dari 225 juta dolar AS dari berbagai investor, termasuk Sequoia Capital, Temasek Holdings, Vy Capital, dan Info Edge India.

Country Manager Zomato, Karthik Shetty menjelaskan upaya Zomato menargetkan untuk memenangkan hati dan perut dari para generasi millenial di Nusantara. “Teknologi adalah jantung dari segala hal di Zomato. Banyak hal yang kita gunakan secara cuma-cuma memiliki algoritma kompleks di belakangnya,” katanya, seperti dilansir dari AntaraNews.


“Zomato tidak hanya membantu pengguna dengan menyediakan informasi lengkap mengenai restoran, tetapi juga membantu pengguna ‘menemukan’ dan mencari restoran baru dengan fitur ‘search’ dan ‘nearby’,” tambahnya.

Selain itu, pengguna juga bisa membangun jaringan pecinta kuliner tepercaya milik mereka sendiri. Hal ini sangat penting, karena makanan adalah hal yang sangat pribadi. Dan biasanya, orang cenderung mempercayai pendapat dari teman.

Zomato juga memiliki fitur yang memungkinkan pengguna menciptakan daftar koleksi restoran mereka sendiri dan bisa dibagi dengan mudah melalui SMS, WhatsApp, Path, Facebook, Twitter, dan lainnya.

Salah satu hal menarik dari Zomato adalah penggunanya bisa memilih restoran yang ingin mereka kunjungi dan memesan Uber langsung melalui Zomato untuk mengantarkan mereka ke restoran tersebut. Sama halnya seperti foto, pengguna yang menggambil foto dan mengunggahnya melalui Instagram juga bisa secara instan menggunggahnya pada akun Zomato mereka.

Shetty menjelaskan, integrasi dengan aplikasi pihak ketiga seperti Uber dan Instagram ke Zomato membuat pengalaman berkuliner menjadi lebih mudah, menyenangkan, dan tentunya bersosial dari awal hingga akhir.

Saat ini, Zomato memiliki trafik terbesar dari Jakarta dan Bali sebesar lebih dari 2 juta pengguna yang unik, dengan trafik bulanan mencapai 6 juta kunjungan untuk Jakarta saja. Biasanya, pengguna lokal mencari rata-rata sembilan hingga sepuluh laman dalam sekali kunjungan dengan durasi empat menit per sesi.

“Trafik web dan aplikasi kami selalu bertumbuh dalam tingkat yang sehat dari bulan ke bulan di Indonesia, dan ini benar-benar memberikan kami dorongan yang besar,” jelasnya.

Lebih lanjut, Shetty mengatakan, satu hal penting yang perlu diketahui pengguna adalah Zomato tidak akan mengizinkan restoran membayar untuk bisa muncul lebih tinggi dalam hasil pencarian, atau mendapatkan rating dan ulasan atau bahkan menghapus ulasan yang ada. “Hasil pencarian yang muncul adalah murni organik, dan berdasarkan algoritma kepopuleran kami.”

Hingga kini, situs www.zomato.com dan aplikasinya memiliki informasi mendetail lebih dari 30.000 restoran di Indonesia.